Hari kedua gue lembur. Masih sama Geni, Amir sama Lilo. Karena cuma kami berempat lajang di bagian gambar. Lainnya bapak-bapak beristri dan beranak.
Gue masih belum ngobrol sama Geni. Masih kesal dan mungkin masih marah. Bodo amat kalo Amir bilang gue kekanakan.
“Tapi, Es… kalo Geni ga minjem PC lu, apa hardisk itu dijamin ga bakal rusak?” tanya Lilo pas gue lagi ngambil hasil cetak di laserjet printer. “Kayaknya emang PC lu udah tua aja.”
Gue cuma diem karena sempat terpikir hal serupa juga. Di ruangan ini, gue sebagai administrasi cuma kebagian PC spek terendah. Paling tua juga.
Baru tadi pagi Pak Han mengganti PC gue. Bekas satu anak gambar yang udah keluar, Kia. Tapi itu ga mengganti laporan gue yang hilang.
Jadi, sudah jam sembilan malam dan kami berempat masih sibuk menginput data satu per satu.
Di luar gelap banget. Cuma ada lampu penerangan jalan yang warnanya kekuningan. Di dalam ruangan ini, lampu di atas komputer yang hidup aja yang nyala. Sisanya dimatikan.
Apa yang Lilo bilang tadi ada benarnya, jadi mungkin besok gue harus mulai baikan sama Geni. Toh, dia bantu input data paling banyak sejauh ini.
Jari gue pegel ngetik ga berhenti, jadi gue dorong kursi ke belakang. Gue lupa lagi pake earphone. Kabelnya ga cukup jadi satu jatuh menggantung, kabel terentang maksimal. Gue copot sekalian satu lagi yang masih nempel di telinga kiri.
Ruangan cukup hening. Suara kertas dibolak-balik dan tuts keyboard dipencet terdengar jelas di samping.
Gue rapikan berkas yang udah gue input terus gue susun di samping monitor yang sekarang udah LED.
Mata gue melihat ke depan, ke arah Geni dan Amir yang lagi diskusi di meja kalkir. Lampu-lampu neon di dalam meja itu dinyalain. Artinya mereka lagi bahas gambar mereka. Udah sesuai standar produksi atau belum. Ada misprint atau udah oke. Blobor atau enggak. Hal-hal teknis soal printing kain yang belum gue ngerti sepenuhnya.
Kemudian pintu toska di depan sana terbuka. Lilo datang terus belok ke kanan—ke mushola. Dia mau sholat isya kayaknya.
Gue lirik sisa berkas di meja. Tinggal dikit. Malam ini bisa kelar. Gue yakin. Besok tinggal nyusun laporan bulanan designer sama laporan desain yang di-approve bulan ini. Ngitung persentase desain per bulan ini dan juga tracer.
Di sini ada dua tingkatan tukang gambar. Desainer yang menggambar motif yang akan dicetak ke kain. Tracer, yang tugasnya mengedit gambar hasil desainer agar sesuai sama standar mesin pabrik biar siap dicetak massal ke kain.
Tugas desainer tuh artistik. Tugas tracer ngotak. Karena setiap kali pabrik ganti setting mesin, tracer harus adaptif ngikutin. Artinya nyari rumus baru lagi.
Suara ketikan di samping belum juga berhenti ketika gue mulai input data lagi.