Dalam tujuh hari seminggu, ada satu hari yang dikhususkan buat kumpul bareng. Tanpa bahas kerjaan dan pabrik.
Jumat malam.
Gue, Geni, Lilo sama Amir entah sejak kapan suka ngumpul tiap malam sabtu sehabis pulang kerja. Kenapa ga malam minggu? Malam minggu waktu buat keluarga atau pacar.
Kadang ada anak dari bagian lain seperti laborat, printing atau staff kantor yang ikutan nongkrong. Seringnya kami berempat.
Malam itu gue, Geni sama Amir doang yang ngumpul di kontrakan Amir. Lilo masih belum ada kabar. Kami bertiga sepakat ngasih ruang berduka buat Lilo.
Kontrakan Amir tiga petak. Dihuni oleh empat orang. Tiga lainnya masih pada kerja. Cuma Amir pekerja non-shift di kontrakan itu.
“Mau makan apa?” tanya Amir setelah selesai sholat maghrib.
“Nasi goreng?” usul gue.
“Masih sore!” Geni melempar bungkus kopi ke arah gue.
“Nasi bebek?” tanya Amir.
Gue sama Geni ngangguk setuju.
“Lu yang beli, Gen!” Amir melempar kunci motor dan uang lima belas ribu pada Geni.
Gue merogoh saku dan menyerahkan uang gocapan. “Nitip jus alpuket sekalian, ya?”
“Males!” seru Geni. Dia lemparin uang gocap itu ke gue lagi. “Nanti aja. Duit gue juga gede,” kata Geni. Kemudian dia meluncur bawa motor Amir.
Karena bosan, gue nyalain tv cembung yang masih mode analog di tengah ruang depan.
“Es… kata Geni, pas lu berdua balik nonton… lu diketawain kunti?” tanya Amir.
Gue yang lagi nyari channel bagus mendadak berhenti, nengok Amir. “Geni bilang gitu?” tanya gue dengan mata selebar mungkin.
“Wah… tuh anak bohong, ya?” tanya Amir lagi.
Gue menggeleng cepat. “Emang ada yang ketawa… tapi gue ga tahu itu apa….”
Amir terdiam sebentar. “Terus,” katanya lagi, “Kemarin itu pas lu lembur terakhir….”
Kata-kata Amir ga lanjut. Dia kayak gak enak buat ngomong.
“Apa sih?” tanya gue penasaran.
“Geni lihat ada sosok di pojok, dekat meja Pak Hagi. Ngeliatin lu terus,” kata Amir pelan banget.
Bulu kuduk gue berdiri. “Yang bener, lu?”
Jadi itu alasan Geni diam terus?
Suara motor datang terdengar bising. Sebuah Ninja RR parkir tepat di depan kontrakan Amir.
“Lu mending jangan lembur-lembur lagi, Es!” Amir melirik keluar.
“Ya … males lah gue juga,” ucap gue.
Seseorang muncul. Dito, si paling tajir. Kerja di perusahaan peleburan baja dengan gaji tinggi dan tunjangan setara gaji gue. Dia senyum kecil terus ngacungin tangan buat tos. Mukanya lecek, keringetan abis long-shift. Tapi keringet Dito mah bau duit.
Meski malas, gue balas tos itu.
“Cuma lu doang, Es?” tanyanya sambil naruh sepatu ke rak di balik pintu.