Langit sore itu terasa salah.
Bukan karena warnanya saja yang keunguan seperti tinta yang menyebar di air, tapi karena suasananya… terlalu hening.
Ren berdiri di trotoar, memperhatikan sekelilingnya dengan perasaan tidak nyaman.
Lalu ia menyadarinya.
Jam di tangannya.
“59… 58… 57…”
Detiknya berjalan mundur.
“Ini pasti rusak,” gumamnya, mencoba menekan tombol di samping jam digital itu.
Namun angka-angka tetap bergerak ke belakang, stabil, seperti memang seharusnya begitu.
Ia mengangkat kepala.
Seorang ibu yang sedang berjalan di depannya tiba-tiba melambat. Langkahnya menjadi kaku. Kantong belanja yang ia bawa berhenti bergoyang.
Kemudian—semuanya berhenti.
Benar-benar berhenti.
Orang-orang di jalan membeku seperti patung. Mobil yang melaju terdiam di tengah jalan. Bahkan suara angin pun menghilang.
Ren menelan ludah. “Apa-apaan ini…”
“56… 55…”
Suara jam itu terasa semakin keras di telinganya.
Ia melangkah mundur, jantungnya berdegup cepat. Dunia terasa seperti dipause oleh seseorang yang tak terlihat.
“Kalau ini mimpi… ini terlalu nyata,” bisiknya.
Saat angka jam mencapai 50, sesuatu berubah.
Seorang pria yang tadi membeku… bergerak.
Namun bukan ke depan.
Ia berjalan mundur.
Langkah demi langkah kembali ke arah asalnya. Mobil di jalan pun ikut bergerak mundur. Daun-daun yang jatuh ke tanah terangkat kembali ke udara, kembali ke rantingnya.
Semua bergerak terbalik.
“Gila…”
Ren memutar tubuhnya, mencoba memahami situasi. Semua orang seperti diputar ulang dalam rekaman video.
Kecuali dirinya.
“Kenapa cuma gue yang normal…?”
“Karena kamu bukan bagian dari reset itu.”
Suara itu datang tiba-tiba dari belakangnya.
Ren menoleh cepat.
Seorang cewek berdiri di sana. Rambutnya pendek sebahu, matanya tajam dan fokus. Dia tampak tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
“Kamu juga lihat ini?” tanya Ren.
Cewek itu mengangguk. “Udah beberapa kali.”
“Beberapa kali?!”
“Dan tiap kali, waktunya makin pendek.”
Ren menatap jamnya lagi. “Ini… hitungan mundur apa sih?”
Cewek itu melangkah mendekat, memperhatikan jam tersebut.
“Itu bukan jam biasa. Itu semacam… penanda.”
“Penanda apa?”
“Reset waktu.”
Ren terdiam.
“40… 39…”
“Kalau hitungannya habis,” lanjut cewek itu, “semua bakal diulang lagi dari titik tertentu.”
“Berarti kita bakal balik lagi ke masa lalu?”
“Bukan kita,” jawabnya cepat. “Mereka.”
Ia menunjuk orang-orang di sekitar yang masih bergerak mundur.
“Kita… tetap ingat.”
Ren merasakan dingin menjalar di punggungnya. “Kenapa kita?”
Cewek itu mengangkat bahu. “Belum tahu. Tapi yang jelas… kita bukan targetnya.”
“Terus targetnya siapa?”
Cewek itu menatap langit.
“Waktu itu sendiri.”
“30… 29…”
Ren mengepalkan tangannya. “Ini gak masuk akal.”
“Ya, tapi ini nyata.”
Sunyi sejenak.
Lalu cewek itu berkata, “Nama kamu siapa?”
“Ren.”
“Aku Nara.”
Ren mengangguk pelan. “Oke… Nara. Jadi sekarang kita ngapain?”
Nara tersenyum tipis. “Cari sumbernya.”
“Sekarang?!”
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” jawabnya cepat.
“Pas waktu balik, kita bakal lupa posisi kita sekarang. Tapi kita masih ingat kejadian ini.”