Langit belum kembali normal.
Retakan itu masih ada.
Membentang seperti luka besar di langit sore, memancarkan cahaya pucat yang terasa… hidup. Ren berdiri diam di tengah jalan, napasnya tertahan. Matanya terpaku pada sesuatu di balik celah itu.
Sebuah mata.
Besar. Gelap. Mengawasi.
“Jangan lihat terlalu lama.”
Suara Nara membuat Ren tersentak. Ia langsung memalingkan wajah, jantungnya berdetak cepat.
“Kenapa?” tanya Ren.
Nara menatap retakan itu dengan ekspresi tegang. “Entah… tapi rasanya gak benar. Kayak… dia juga bisa lihat balik.”
Ren mengusap wajahnya. “Ini makin gak masuk akal.”
“Tapi ini nyata,” jawab Nara pelan.
Orang-orang di sekitar mereka masih berjalan seperti biasa. Tidak ada yang menyadari retakan itu. Tidak ada yang melihat mata tersebut.
Seolah hanya mereka berdua yang bisa melihat kebenaran.
“Kenapa cuma kita?” gumam Ren.
Nara menggeleng. “Bukan cuma itu masalahnya.”
“Apa lagi?”
Nara menunjuk jam di tangan Ren.
Jam itu… diam.
Tidak bergerak maju.
Tidak juga mundur.
“Waktunya berhenti,” kata Nara.
Ren menatap jam itu dengan cemas. “Terus… sekarang apa yang bakal terjadi?”
Seolah menjawab pertanyaannya—
Langit bergetar.
Retakan itu melebar.
Dan sesuatu mulai keluar.
Bukan sepenuhnya keluar, tapi cukup untuk membuat udara berubah dingin.
Bayangan hitam seperti kabut turun perlahan dari retakan, menyentuh udara dunia nyata. Saat menyentuh tanah, bayangan itu bergerak… membentuk sesuatu.
Makhluk.
Tinggi. Kurus. Tubuhnya seperti terbuat dari asap pekat. Wajahnya tidak jelas, tapi mata merahnya menyala.
Ren mundur satu langkah.
“Itu… bukan manusia…”
“Jelas bukan,” jawab Nara.
Makhluk itu menoleh.
Langsung ke arah mereka.
Seolah tahu.
Ren merasakan tubuhnya kaku. “Dia… lihat kita.”
Nara menggigit bibirnya. “Kita harus pergi.”
Namun sebelum mereka bergerak—
Makhluk itu melangkah.
Sekejap.
Langsung berada beberapa meter dari mereka.
Cepat.
Terlalu cepat.
“LARI!” teriak Nara.
Mereka berdua langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga. Jalanan terasa sempit, napas mereka berat, dan langkah kaki makhluk itu… tidak terdengar.
Itu yang paling menakutkan.
Tidak ada suara.
Tapi kehadirannya terasa semakin dekat.
Ren menoleh sekilas—
Makhluk itu sudah hampir menyentuhnya.
“Gila—!”
Tiba-tiba—
Jam di tangan Ren bersinar.
Cahaya biru terang meledak dari permukaannya.
Dan dalam sekejap—
Segalanya berhenti.
Benar-benar berhenti.
Ren terengah-engah. Ia melihat sekeliling.
Mobil berhenti di tengah jalan.
Orang-orang membeku lagi.
Dan makhluk itu—
Berhenti.
Tepat di belakangnya.
Tangannya hampir menyentuh bahu Ren.
Ren menelan ludah.
“Apa… ini lagi?”
Nara juga terlihat kaget. “Kamu yang ngelakuin?”
“Gue gak tahu!”
Ren melihat jamnya.
Tidak ada angka.
Hanya cahaya.
“Kayaknya… ini beda dari sebelumnya,” kata Nara pelan.
Ren mencoba bergerak.
Ia bisa.
Nara juga bisa.
“Tunggu…” Nara mendekat ke makhluk itu, hati-hati. “Kalau dia berhenti…”
Ren langsung mengerti.
“Berarti kita punya waktu.”
Nara mengangguk. “Sedikit.”