Jam yang Berjalan Mundur

vinart
Chapter #3

Mata yang Memilih

Malam turun lebih cepat dari biasanya, seolah langit sendiri masih menyimpan sisa ketegangan dari retakan yang sempat terbuka sebelumnya. Jalanan terlihat normal, lampu-lampu kota menyala seperti biasa, dan suara kendaraan kembali mengisi ruang yang tadi sempat kosong oleh keheningan aneh. Namun bagi Ren, semuanya tidak benar-benar kembali seperti semula. Ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang tidak kasat mata tetapi terasa jelas, seperti bayangan yang menempel di belakang pikirannya.


Ia berdiri di bawah lampu jalan bersama Nara, masih mencoba mengatur napasnya setelah kejadian tadi. Tangannya perlahan terangkat, menatap jam di pergelangan tangannya. Layar kecil itu kini menampilkan sesuatu yang berbeda—sebuah simbol berbentuk mata, sederhana namun terasa asing. Bukan sekadar gambar, tapi seperti… hidup.


“Aku gak suka ini,” gumam Ren pelan.


Nara melirik jam itu, ekspresinya langsung berubah serius. “Simbol itu muncul setelah kamu nutup retakan, kan?”


Ren mengangguk. “Dan tadi… aku dengar sesuatu.”


“Maksudnya?”


Ren terdiam sejenak, mencoba mengingat suara yang menggema di kepalanya. “Bukan suara biasa. Kayak… langsung masuk ke pikiran. Dia bilang aku bisa ‘melihat mereka’… dan aku bakal jadi ‘kunci’.”


Nara menghela napas pelan, seolah kalimat itu justru mengonfirmasi sesuatu yang ia takutkan. “Berarti benar…”


“Benar apa?”


Nara tidak langsung menjawab. Ia menatap langit, yang kini tampak tenang, terlalu tenang. “Kamu gak cuma kebetulan kena efek anomali. Kamu… dipilih.”


Ren tertawa kecil, meski tidak ada rasa lucu di dalamnya. “Dipilih? Buat apa? Jadi target?”


“Mungkin bukan target,” jawab Nara, “tapi penghubung.”


Ren mengerutkan kening. “Penghubung antara apa?”


Nara menoleh, menatapnya langsung. “Dunia ini… dan sesuatu di balik retakan itu.”


Sunyi sejenak. Suara kendaraan lewat terasa jauh, seperti tidak benar-benar ada.


Ren mengepalkan tangannya. “Gue gak mau jadi bagian dari ini.”


“Tapi kamu sudah,” jawab Nara pelan.


Kata-kata itu terasa berat, tapi tidak bisa dibantah.


Tiba-tiba, jam di tangan Ren bergetar.


Halus, tapi jelas.


Ren langsung menatapnya. Simbol mata itu… bergerak. Perlahan terbuka dan tertutup, seperti sedang berkedip.


“Ini mulai lagi…” bisik Ren.


Namun tidak ada hitungan mundur seperti sebelumnya.


Tidak ada angka.


Hanya simbol itu.


Dan rasa… diawasi.


Nara juga menyadarinya. “Ada yang beda.”


Belum sempat Ren menjawab, lampu jalan di atas mereka berkedip.


Sekali.


Dua kali.


Lalu—


Padam.


Seluruh jalan tiba-tiba gelap.


“Ren…” suara Nara terdengar tegang.


“Aku lihat,” jawab Ren pelan.


Gelap itu bukan sekadar ketiadaan cahaya. Rasanya seperti sesuatu yang menyelimuti, menekan, membuat udara terasa lebih berat.


Lalu dari kejauhan—


Langkah kaki.


Pelan.


Berirama.


Namun tidak wajar.


Seperti gema dari tempat yang jauh.


Ren memfokuskan pandangannya ke arah suara itu.


Dan ia melihatnya.


Sosok hitam berdiri di ujung jalan. Tidak bergerak, hanya diam, tapi kehadirannya terasa lebih berat dari yang sebelumnya.


“Itu… sama kayak tadi?” tanya Ren.


Nara menggeleng perlahan. “Enggak… ini beda.”


Sosok itu mulai berjalan.


Tidak terburu-buru.


Tapi setiap langkahnya membuat udara bergetar halus.


Ren merasakan sesuatu dalam dirinya bereaksi. Jam di tangannya mulai bersinar redup.


Simbol mata itu terbuka lebar.


Dan untuk sesaat—


Ren melihat sesuatu yang lain.


Bukan jalanan.


Bukan malam.


Tapi… dunia lain.


Retakan-retakan besar membentang di langit yang gelap, dan dari dalamnya, bayangan-bayangan tak berbentuk bergerak seperti makhluk hidup. Mata yang sama seperti sebelumnya ada di mana-mana, mengawasi, tak terhitung jumlahnya.


Ren tersentak.


Penglihatannya kembali.


Ia terengah-engah.


“Aku… lihat lagi…”


“Apa?” tanya Nara cepat.


“Banyak… bukan cuma satu… mereka semua ngelihat ke sini…”


Nara menggertakkan gigi. “Berarti batasnya makin tipis.”


Sosok itu kini sudah lebih dekat.


Lihat selengkapnya