Pagi datang dengan cara yang terasa terlalu normal. Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar Ren, menerangi ruangan seperti hari-hari biasa. Namun, bagi Ren, semuanya tidak lagi terasa sama.
Ia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap jam di tangannya. Jam itu terlihat normal, tetapi simbol mata kecil di layarnya masih ada. Diam. Tertutup. Seolah sedang menunggu sesuatu.
Ren menghela napas panjang. Bayangan kejadian semalam masih jelas di kepalanya—retakan di langit, makhluk bayangan, dan suara yang berbicara langsung ke pikirannya. Semua itu terasa terlalu nyata untuk dianggap mimpi.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Nara muncul:
“Keluar. Sekarang. Jangan sendirian.”
Ren langsung berdiri. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil jaketnya dan keluar rumah. Udara pagi terasa dingin, tapi ada sesuatu yang lebih mengganggu—perasaan diawasi yang kembali muncul.
Saat sampai di ujung jalan, Nara sudah menunggu. Wajahnya serius, matanya terus bergerak mengamati sekitar.
“Ada apa?” tanya Ren.
Nara tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah seberang jalan.
Di sana, sebuah mobil hitam terparkir diam. Kacanya gelap, mesinnya masih menyala. Tidak ada yang keluar. Tidak ada yang masuk.
Tapi entah kenapa… terasa salah.
“Mereka ngikutin,” kata Nara pelan.
Ren mengernyit. “Mereka siapa?”
Nara menarik napas dalam. “Orang-orang yang tahu tentang retakan.”
Belum sempat Ren bertanya lagi, pintu mobil itu terbuka.
Seorang pria keluar.
Pakaiannya rapi, jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Rambutnya pendek dan tertata rapi. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam, seperti seseorang yang terbiasa mengamati.
Ia berjalan mendekat.
Langkahnya santai, tapi penuh tujuan.
“Ren. Nara,” katanya, seolah sudah mengenal mereka.
Ren langsung waspada. “Lo siapa?”
Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah kartu identitas.
“Kami dari organisasi yang menangani anomali waktu,” katanya singkat. “Dan kalian… sudah masuk dalam daftar kami.”
Nara menatapnya tajam. “Kami gak pernah minta dilibatkan.”
Pria itu tersenyum tipis. “Masalahnya, kalian sudah terlibat sejak awal.”
Ren mengepalkan tangannya. “Organisasi apaan?”
Pria itu menatap jam di tangan Ren.
Tatapannya berubah.
“Jadi itu benar…” gumamnya pelan.
Ren langsung menyembunyikan tangannya sedikit. “Ngapain lihat-lihat?”
Pria itu kembali menatapnya. “Kamu menyentuh retakan, kan?”
Ren terdiam.
Nara melangkah sedikit di depan Ren. “Kalau iya, kenapa?”
Pria itu menghela napas. “Berarti situasinya lebih cepat dari yang kami kira.”
“Langsung ke inti,” kata Nara dingin.
Pria itu mengangguk. “Nama saya Damar. Dan kalau kalian mau tetap hidup… kalian harus ikut kami.”
Ren tertawa kecil. “Kedengerannya kayak ancaman.”
“Bukan ancaman,” jawab Damar tenang. “Fakta.”
Sunyi sejenak.
Lalu—
Jam di tangan Ren bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Simbol mata itu perlahan terbuka.
Ren langsung menegang. “Nara…”