Jam yang Berjalan Mundur

vinart
Chapter #5

Markas di Balik Waktu

Perjalanan itu terasa sunyi dan panjang. Ren duduk di kursi belakang mobil, menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota lewat begitu saja, memanjang seperti garis cahaya yang tidak pernah benar-benar berhenti. Namun pikirannya tidak ada di sana. Ia masih memikirkan retakan di langit, makhluk yang muncul, dan tatapan aneh yang terasa seperti mengikutinya bahkan saat ia mencoba mengabaikannya.


“Aku masih belum paham,” kata Ren pelan, memecah keheningan.


Damar tetap fokus ke jalan. “Kamu tidak perlu paham semuanya sekarang.”


“Lalu aku harus apa?”


“Cukup ikut dulu.”


Nara yang duduk di samping Ren menoleh sedikit. “Kita akan dapat jawabannya di sana.”


Mobil perlahan berhenti di depan sebuah bangunan tua. Catnya sudah pudar, jendelanya gelap, dan suasananya terasa kosong. Ren menatap bangunan itu cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang berubah jika ia terus melihatnya.


“Ini tempatnya?” tanyanya ragu.


“Iya,” jawab Damar singkat.


Ren turun dari mobil. Udara di sekitar bangunan itu terasa lebih dingin dari seharusnya. Tidak ada suara, tidak ada tanda kehidupan. Namun justru karena itu, suasananya terasa tidak normal.


Damar berjalan ke arah pintu dan menyentuh panel kecil di dinding. Dalam beberapa detik, sesuatu berubah. Lapisan bangunan itu seperti memudar, memperlihatkan struktur modern di dalamnya—dinding logam, cahaya biru, dan sistem yang tampak canggih.


Ren sedikit tertegun. “Jadi ini disembunyikan…”


“Supaya tidak terlihat,” jawab Damar.


Mereka masuk ke dalam. Lorong panjang terbentang, dipenuhi layar dan peralatan yang terus bekerja. Beberapa orang terlihat sibuk, berjalan cepat, berbicara dengan nada serius. Tempat itu terasa hidup, tapi juga tegang.


Ren berjalan pelan, matanya terus mengamati sekitar. “Tempat apa ini sebenarnya?”


“Pusat pengendalian anomali waktu,” jawab Damar.


Beberapa orang menoleh ke arah mereka. Tatapan mereka langsung tertuju pada Ren, membuat langkahnya sedikit melambat.


“Kenapa mereka lihat aku?” bisiknya.


“Karena kamu berbeda,” jawab Nara.


Mereka berhenti di depan sebuah ruangan besar. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang wanita berdiri di depan layar raksasa. Di layar itu, retakan terlihat menyebar seperti jaringan yang saling terhubung.


Wanita itu berbalik. Tatapannya tajam, penuh kendali.


“Jadi ini Ren,” katanya.


Ren mengernyit sedikit. “Kamu siapa?”


“Alya,” jawabnya tenang. “Pemimpin di sini.”


Langkah Alya mendekat pelan. Ia tidak terlihat terburu-buru, tapi auranya membuat suasana terasa lebih berat.


“Boleh aku lihat jam itu?” tanyanya.


Ren ragu sejenak, lalu mengangkat tangannya. Saat Alya mendekat, simbol mata di jam itu perlahan terbuka, seolah merespons kehadirannya.


Alya terdiam beberapa detik. “Benar…”


Nara maju sedikit. “Apa maksudnya?”


“Dia terhubung dengan retakan,” jawab Alya.


Ren menarik tangannya. “Terhubung bagaimana?”


Alya tidak langsung menjawab. Ia menunjuk layar besar di belakangnya.

Lihat selengkapnya