Urusan administrasi selalu terasa seperti lorong panjang yang pengap bagiku. Ada aroma kertas lembap, tinta birokrasi, dan cap stempel yang entah bagaimana mampu membuat dada sesak sebelum semuanya benar-benar dimulai. Sejak kecil, aku tidak pernah akrab dengan perkara-perkara formal semacam itu. Formulir, tanda tangan, fotokopi berlembar-lembar—semuanya seperti bahasa asing yang memaksaku tunduk pada aturan-aturan tak kasatmata.
Kini, aku kembali harus berhadapan dengan kenyataan itu: mengganti KTP dan mengurus perpindahan domisili.
Pindah domisili ternyata bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ada jejak-jejak identitas yang harus diseret ikut pindah, satu per satu diperbarui, seolah hidup manusia hanyalah kumpulan data yang perlu dicocokkan dengan arsip negara. Setiap kali menatap formulir yang menunggu diisi, rasa malas menjalar pelan seperti asap rokok di kamar sempit.
Namun sebenarnya, bukan urusan KTP yang paling membebani pikiranku.
Ada perkara lain yang lebih berat: pengadilan agama.
Perceraian.
Kata itu menggantung di kepalaku seperti mendung yang tak kunjung pecah.
Dulu, pernikahanku berlangsung sederhana. Tidak ada pesta besar, tidak ada drama keluarga yang meledak-ledak. Aku hanya menyampaikan keputusan itu kepada ibu dan kakak-kakakku, lalu semuanya berjalan begitu saja seperti air sungai yang mengalir tenang. Tapi kini, untuk mengakhirinya, segalanya terasa jauh lebih rumit.
Ibu telah pergi tiga tahun lalu karena stroke. Sejak itu, rumah kehilangan suara yang paling sabar mendengarkan. Tidak ada lagi tempat pulang untuk sekadar bercerita tanpa takut dihakimi. Hubunganku dengan saudara-saudaraku pun makin renggang, seolah jarak emosional lebih kejam daripada jarak kota.
Mereka menganggap aku sudah berubah. Katanya, aku terlalu lama tinggal di ibu kota hingga pikiranku ikut tercemar hiruk-pikuknya.
Mungkin mereka tidak sepenuhnya salah.
Aku memang telanjur jatuh cinta pada kehidupan kota.
Di sana, aku merasa hidupku memiliki arah. Ilmu Komunikasi yang kupelajari akhirnya menemukan tempat berpijak. Kota memberiku pekerjaan, kesempatan, dan ilusi tentang masa depan yang lebih luas. Sementara desa, entah mengapa, selalu membuatku merasa seperti ikan yang dilempar ke tanah kering—masih bernapas, tetapi perlahan kehilangan hidup.
Ibu kota adalah pusat segala denyut. Ekonomi bergerak di sana, kekuasaan berputar di sana, dan mimpi-mimpi orang kecil dipertaruhkan di sana. Bahkan ketika orang-orang mulai membicarakan pemindahan ibu kota, aku masih merasa sebagian diriku tertinggal di tengah riuh jalanannya.
Di tengah kekacauan pikiran itu, ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk.
“Ketemuan yuk!”
Nama pengirimnya membuatku mengerutkan dahi sekaligus tersenyum tipis.
Basuki.
Sudah lama sekali kami tidak bertemu.
“OK. Di mana?” balasku cepat.
Tak lama kemudian, telepon masuk. Aku mengangkatnya sambil rebahan di atas kasur kos yang busanya mulai tipis dan menggumpal.
“Gimana kabarnya, Ndes? Sekarang di mana?”
Suara Basuki masih sama—lantang, ringan, dan penuh keyakinan.
“Tangerang. Kamu masih di Cimanggis?” tanyaku.
“Iya, masih. Ketemuan yuk!”
Aku meraih gelas keramik bergambar logo mobil di dekat tempat tidur, lalu meneguk air mineral perlahan.
“Ayo. Kapan?”
“Besok. Di restoran pizza.”
“Deal.”
Basuki adalah salah satu fragmen paling khas dari masa kuliahku di Semarang. Anak band kampus yang hampir tak pernah lepas dari gitar. Bangun tidur membawa gitar, nongkrong membawa gitar, bahkan menjelang tidur pun jemarinya masih sibuk memetik senar.
Aneh memang, hidup sering mengubah manusia lewat jalan yang tidak terduga.
Semua bermula ketika Basuki ingin membeli komputer demi mendukung hobinya bermain gitar.
“Komputer bisa buat muter video teknik gitar!” katanya dulu dengan mata berbinar, sepulang dari rumah seorang teman.
Di masa itu, video tutorial belum semudah sekarang ditemukan. Maka komputer terasa seperti benda ajaib yang membuka pintu pengetahuan baru.
Dengan penuh semangat, ia mengajukan semacam proposal kepada orang tuanya agar dibelikan komputer. Permintaan itu akhirnya disetujui, dengan satu syarat sederhana: komputer itu harus bisa menghasilkan uang.
Basuki lalu mengajak beberapa teman membuka rental komputer kecil-kecilan.
Lucunya, setelah komputer itu benar-benar dimiliki, ia justru perlahan menjauh dari gitar. Dunia digital menyeret perhatiannya ke arah lain. Ia belajar membongkar perangkat, mengutak-atik sistem, hingga akhirnya menjadi orang yang paling dicari teman-teman ketika komputer bermasalah.
Ketika kami lulus kuliah, Basuki telah berubah menjadi semacam ensiklopedia berjalan untuk urusan teknologi. Kini, ia bahkan mengajar komputer sampai ke luar negeri.