Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #3

Aku seperti Piala Bergilir

Aku seperti piala bergilir, sebuah benda berkilau yang dipuja sejenak, dipajang dengan bangga, lalu diserahkan kepada yang berikutnya, diarak di antara tangan-tangan yang menjanjikan kebaikan tapi juga kehampaan, tidak lebih dari simbol kesementaraan.

Aku pulang dengan diantar ambulans. Aku ditempatkan di Mas Dwiatno. Entah berapa lama, yang aku ingat dari rumah sakit aku dibawa mobil kotak. Mobil yang biasa untuk kulakan dagangan. Aku ditempatkan di bekas warung, semalam, baru dipindah ke kamar dalam.

Dari Mas Dwiatno ke kakak nomor tujuh, Mbak Dansa, yang mengasuhku. Secara rumah, memang cocok aku di sini. Dia yang menyewa ambulans dan membawaku pulang kandang.

Di bawah atap yang dulu menyimpan kenangan perseteruan kecil kami. Padahal dulu, bagai kucing dan anjing, aku dan dia, saling mencakar dan mencibir, beradu manja, berebut menjadi pusat perhatian—anak bungsu yang tak ingin direbut tahtanya.

Aku ingat, dulu aku memanggilnya “Pauk,” nama yang ia benci, dan sebagai balasan ia memanggilku “Cinguk,” seperti mengejek wajahku yang katanya selalu cemberut. Atau kadang dia memanggilku “Tua,” lantaran komedo di wajahku, sebuah ejekan yang kuakui memang efektif untuk menyulut amarah. Ada jarak tujuh tahun antara kami, seperti jurang yang tak terjangkau antara kanak-kanak yang masih murni dan remaja yang sedang belajar memberontak.

Ketika dia masuk Sekolah Menengah Pertama, aku baru belajar mengenal dunia Sekolah Dasar, penuh semangat dan canda yang polos.

Mbak Dansa punya tiga anak, semuanya laki-laki. Suaminya, seorang seniman yang hidup di dunia yang penuh warna dan kebebasan, membuatku merasa lebih leluasa. Seolah-olah di rumah ini, segala yang sebelumnya terikat kini lepas, bebas.

Lihat selengkapnya