Setelah beberapa hari tinggal di Gombong, Mbak Dekret dan Mbak Genah mengajakku ke Cilacap. Katanya, ada terapi yang bagus untuk stroke.
Aku langsung setuju.
Barangkali memang begitu nasib orang sakit: mudah percaya pada harapan.
Tempat terapinya ramai. Banyak pasien datang dari luar kota. Sebagian duduk diam sambil menahan cemas. Sebagian lain tampak pasrah.
Kata kakakku, tempat itu terkenal untuk penyakit darah: diabetes, hipertensi, asam urat, darah kental.
Orang-orang datang membawa tubuh yang lelah dan harapan yang hampir habis.
Di situlah aku pertama kali mengenal fashdu.
Awalnya kukira sama seperti bekam.
Ternyata berbeda.
Bekam memakai cawan di permukaan kulit. Sedangkan fashdu langsung mengeluarkan darah dari pembuluh vena di tangan atau kaki.
Darah segar mengalir pelan.
Merah pekat.
Hangat.
Beberapa orang menutup mata saat terapi dimulai. Mungkin takut melihat darah sendiri keluar dari tubuhnya.
Aku sendiri hanya diam memperhatikan.
Ada rasa nyeri ketika jarum masuk. Namun anehnya, setelah selesai tubuh terasa lebih ringan. Seperti ada aliran yang kembali bergerak di dalam badan.
Aku tidak tahu itu efek medis atau sekadar sugesti.
Tetapi dalam keadaan sakit, manusia sering tidak terlalu peduli pada penjelasan.
Yang penting: ada harapan.
Aku menjalani fashdu sekitar lima kali. Lenganku berkali-kali ditusuk. Bekasnya samar tertinggal di kulit.
Katanya terapi ini bisa membantu melancarkan darah.
Katanya ada pasien lumpuh yang kembali berjalan.
Katanya banyak dokter juga mulai penasaran.
Dunia pengobatan memang penuh kata “katanya”.
Selain fashdu, aku juga dipijat Pak Min.
Tubuhnya kecil. Tangannya keras.
Pijatan pertamanya membuatku hampir berteriak.
Aneh sekali. Ketika tangan dipijat, rasa sakit menjalar ke perut. Saat kaki ditekan, dadaku ikut nyeri.
Seperti tubuhku menyimpan kabel-kabel yang saling tersambung diam-diam.