Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #5

Terapi Darah Kotor

Aku pindah lagi ke Gombong, Kebumen. Setelah beberapa hari tinggal di sana, Mbak Dekret dan Mbak Genah mengajakku ke Cilacap. Katanya, ada terapi yang bagus untuk stroke.

Aku langsung setuju.

Barangkali memang begitu nasib orang sakit: mudah percaya pada harapan. Ketika tubuhmu terasa seperti rumah yang pintu-pintunya tidak lagi menurut, setiap janji kesembuhan terdengar seperti cahaya dari celah dinding.

Tempat terapinya ramai. Banyak pasien datang dari luar kota. Sebagian duduk diam sambil menahan cemas. Sebagian lain tampak pasrah.

Kata kakakku, tempat itu terkenal untuk penyakit darah: diabetes, hipertensi, asam urat, dan darah kental. Orang-orang datang membawa tubuh yang lelah dan harapan yang hampir habis.

Di situlah aku pertama kali mengenal fashdu.

Awalnya kukira sama seperti bekam.

Ternyata berbeda.

Bekam memakai cawan di permukaan kulit. Sedangkan fashdu, darah diambil langsung dari pembuluh vena di tangan atau kaki.

Saat jarum menembus kulit lenganku untuk pertama kalinya, ada rasa nyeri yang tajam seperti tusukan ke saraf. Tapi kemudian darah mengalir keluar pelan. Merah pekat. Hangat. Aku memperhatikan warna itu dengan aneh—seakan darah yang keluar adalah darah berbeda, darah yang sudah kaya dengan penyakit dan sekarang dilepaskan dari tubuhku.

Beberapa orang menutup mata saat terapi dimulai. Mungkin takut melihat darah sendiri. Aku sendiri hanya diam memperhatikan, seperti menyaksikan tubuhku melepaskan sesuatu yang telah lama tersimpan.

Ada rasa nyeri ketika jarum masuk. Namun anehnya, setelah selesai tubuh terasa lebih ringan. Seperti ada aliran yang kembali bergerak di dalam badan—aliran yang sebelumnya terhenti oleh stroke. Aku tidak tahu itu efek medis atau sekadar sugesti.

Tetapi dalam keadaan sakit, manusia sering tidak terlalu peduli pada penjelasan. Yang penting: ada harapan.

Aku menjalani fashdu sekitar lima kali. Lenganku berkali-kali ditusuk. Bekasnya samar tertinggal di kulit. Katanya, terapi ini bisa membantu melancarkan darah. Katanya, ada pasien lumpuh yang kembali berjalan. Katanya, banyak dokter juga mulai penasaran. Dunia pengobatan memang penuh kata "katanya".

Lihat selengkapnya