Aku ingat banget waktu aku masih kecil dan suka nakal waktu sekolah dasar. Sekolah itu menurutku bukan tempat buat belajar serius, tapi tempat main-main sesuka hati. Aku merasa hebat banget di sekolah. Soalnya, bapakku itu orang penting di kecamatan, jadi semua orang pasti takut dan segan sama aku. Hebatnya lagi, kalau aku lagi marah-marah dan mengamuk, guru-guru bakal memulangkan semua murid lebih cepat!
Ada satu kejadian yang paling aku ingat. Waktu itu aku lagi mengamuk, terus banyak anak-anak yang berkumpul menontonku. Biar makin keren dan dapat perhatian, aku lempar saja batu ke arah kerumunan itu tanpa berpikir panjang. Eh, ternyata batunya kena salah satu temanku. Aku dengar bapaknya sampai mencariku karena marah. Namanya juga anak-anak, aku langsung ketakutan setengah mati, walaupun untungnya aku tidak benar-benar dihukum.
Oh iya, waktu kecil aku juga suka menulis surat untuk teman-teman perempuan yang menurutku cantik.
Kebiasaan menulis surat itu terus berlanjut sampai aku SMP. Kali ini aku lebih serius karena ingin sekali diperhatikan oleh anak-anak perempuan. Aku nekat menulis surat cinta untuk gadis yang paling manis di kelasku. Tapi tahu tidak apa balasannya? Surat cintaku dikembalikan, tapi sudah disobek-sobek! Duh, aku cuma bisa tertawa kecut menahan malu. Setelah dipikir-pikir, tindakanku itu memang kekanak-kanakan sekali.
Di masa SMP ini, duniaku rasanya mulai meluas, tidak cuma seputar sekolah dan rumah saja. Sebagai anak bungsu, aku memang agak manja. Tapi aku punya banyak teman dari berbagai kalangan, bahkan punya kakak kelas yang sering kubanggakan.
Setiap pulang sekolah, aku dan teman-teman sering mampir ke sungai. Nah, sungai itu sebenarnya dibagi dua: untuk tempat mandi laki-laki dan perempuan. Biar memacu adrenalin, kami sengaja mandi di bagian perempuan! Kakak tertuaku, Mas Eka, sebenarnya pernah mengajariku berenang. Tapi dasarnya aku tidak bakat, bernapas di air saja susah sekali sampai akhirnya aku menyerah. Biarpun tidak bisa berenang, nyaliku tetap besar, terutama kalau sedang jalan kaki pulang ke rumah.
Memasuki masa SMA, sudut pandangku terhadap dunia terbuka jauh lebih lebar. Lingkungan pertemananku meluas hingga ke tingkat kabupaten. Kebetulan saat itu Magelang terbagi menjadi wilayah kabupaten dan kotamadya. Karena aku tinggal di kabupaten, setiap pagi aku harus bangun jauh lebih awal demi mengejar angkutan umum. Keterlambatan sekejap saja—misalnya setengah jam—akan membuatku terlambat masuk kelas dan melewatkan waktu belajar yang berharga.