Sekarang, mari kita bicara tentang realita hari ini. Aku bangun tidur dengan perasaan segar, seolah-olah dunia sedang tidak punya utang. Daun masih hijau, air masih bening. Tapi begitu jalan ke dispenser, aku tersadar kalau siang ini ada janji krusial dengan Indah, si ahli gigi. Dia mau menyerahkan gigi palsu atas baruku yang harganya bikin dompet menangis: 4,5 juta rupiah! Pesannya senginggu yang lalu, lama sekali untuk ukuran gigi palsu. Tapi aku penasaran karena Indah bilang ini pakai metode baru yang tidak usah dilepas-pasang. Wah, akhir dari penderitaan ritual copot gigi sebelum tidur seperti yang dulu sering dilakukan almarhum bapakku.
Gigi atasku memang sudah tanggal semua. Gen gigiku kalah jauh dari Ibu dan Nenek yang giginya utuh sampai akhir hayat berkat ritual menginang sirih, meskipun efek sampingnya bikin gigi mereka sewarna merah bata. Begitu Indah datang jam 10.25, langsung kuseret dia ke ruang tengah yang banyak colokan listriknya. Lima belas menit dieksekusi, gigi baruku terpasang. Rasanya lembut dan mantap di gusi. Indah pun langsung pamit buru-buru mau ke Gunungpring, Muntilan.
Kenapa aku sampai harus beli gigi baru? Ini semua gara-gara tikus sialan! Dua kali gigi palsuku hilang digondol tikus. Dua kali! Dulu waktu masih ada kucing persiaku, rumah aman tentram. Tapi itu kan di rumahku yang dulu. Di rumah sekarang, Mbak Genah dan Mbak Anti benci setengah mati sama kucing. Aneh sekali, hewan selucu Maru—kucing Jepang yang terkenal di internet sampai punya blog sendiri—kok bisa dibenci? Aku benci tikus karena mereka pernah menjadikan wajahku sebagai jembatan penyeberangan bertekstur saat aku tidur.