Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #7

Krisis Gigi, Teror Tikus, dan Keajaiban Bank Digital

Aku kembali tinggal di rumah peninggalan orang tuaku. Rumah tua yang kokoh bukan karena kemegahan arsitektur modern, melainkan sejarah panjang yang tertanam di setiap jengkal pondasinya. Aroma masa lalu masih pekat—perpaduan bau kayu jati tua, kelembapan tanah setelah hujan, dan wewangian teh melati yang dulu sering diseduh ibu. Dinding tebal zaman kolonial yang mampu menahan panas terik.


Di berbagai sudut, ornamen budaya Jawa masih bertahan dengan anggun. Wayang kulit Arjuna dan Gatotkaca tergantung di tembok ruang tamu. Mereka menjadi saksi bisu atas perjalanan hidup yang akhirnya membawaku kembali ke tempat ini, setelah bertahun-tahun berkelana mengejar masa depan.


Rumah ini tidak mewah menurut standar real estat masa kini, tetapi sangat penuh cerita. Setiap sudut memiliki daya magis untuk melemparkanku kembali ke masa kecil. Suara melengking ibu dari dapur, kursi rotan tempat bapak biasa duduk membaca koran dengan kacamata yang melorot—semuanya menjadi kenangan yang statis. Yang tersisa hanyalah bangunan fisik, perabot kayu tua, dan aku yang hidup sendiri dalam kesunyian.


Pagi itu, aku terbangun dengan perasaan luar biasa segar. Daun pohon mangga di halaman masih basah embun, memancarkan hijau yang pekat. Udara pagi sejuk, sinar matahari menerobos celah jendela dengan cara yang anggun. Ketenangan absolut membuat jantungku berdegup santai.


Namun ketenangan dunia sering memiliki masa kedaluwarsa cepat.


Begitu aku menuju dispenser untuk mengambil air, kilatan ingatan menghantam. Hari ini aku punya janji penting dengan Indah, ahli gigi langgananku. Hari ini adalah penyerahan gigi palsu bagian atas baruku dengan harga Rp4,5 juta—nominal besar yang membuat dompetku menangis.


Pikiranku bernostalgia pada masa Jakarta ketika pelayanan medis bergerak cepat dan efisien. Dulu aku bisa datang pagi, melakukan pengukuran, dan pulang sore dengan senyum baru. Aku penasaran dengan teknologi gigi semi-permanen yang ditawarkan Indah, berbeda dari ritual malam bapak yang selalu melepas giginya dan merendamnya di gelas air.


Waktu merambat sampai pukul 10.25, suara mesin motor berhenti di depan pagar. Indah datang tepat waktu. Aku langsung membawanya ke ruang tengah—satu-satunya area dengan banyak colokan listrik yang masih berfungsi.


Selama lima belas menit, aku duduk pasrah dengan mulut terbuka lebar.


Namun segala penderitaan terbayar. Gigi baruku terasa sangat nyaman, pas, dan cengkeramannya jauh lebih mantap. Setelah pengecekan, Indah merapikan peralatannya dan tergesa pergi ke pasien berikutnya.


Di tengah kesunyian, pertanyaan filosofis muncul: kenapa aku harus mengeluarkan jutaan rupiah hanya untuk gigi baru?


Jawabannya sederhana namun menjengkelkan: tikus.


Sudah dua kali gigi palsuku hilang digondol tikus. Dua kali! Aku tidak tahu sejak kapan tikus tertarik pada struktur gigi palsu manusia. Entah mereka menganggapnya makanan, mainan, atau koleksi langka untuk sarang mereka.

Lihat selengkapnya