Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #9

Kembali Santri

Pondok pesantren bukanlah tanah asing bagiku. Dulu, di masa muda yang penuh gelora, aku pernah menginjakkan kaki di salah satunya—meski waktu itu niatku masih jauh dari *ikhlas lillahi ta'ala*. Aku ikut-ikutan kawan, terbawa arus keramaian kakak kelas yang berbondong-bondong mendaftar. *Man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum*—barangsiapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk golongan mereka. Dan aku, kala itu, adalah santri yang lebih banyak mengikuti daripada memahami.


Namun kali ini berbeda. Kali ini, bukan kakiku yang melangkah sendiri menuju pesantren. Melainkan sebuah keputusan yang lahir dari musyawarah keluarga—dari mulut-mulut yang penuh kekhawatiran, dari hati-hati yang berdoa diam-diam agar aku pulih, baik raga maupun ruhani. Stroke telah mengubah banyak hal dalam hidupku. Dan rupanya, keluargaku percaya bahwa obat terbaik bagi luka semacam ini bukan semata-mata ada di apotek, melainkan juga di *majlis ilmu*.


---


Segenap keponakan mengantarku dengan wajah-wajah yang campur aduk antara semangat dan canggung. Aku disuruh mengenakan sarung terbaik yang kupunya—seolah aku hendak sowan ke ndalem kyai besar. Dalam hati aku tersenyum. Di pesantrenku dulu, celana panjang masih diperkenankan. Tapi demi *ta'dzim* kepada keluarga, aku turuti saja. *Ar-ridha bil qadha'*—ridha dengan apa yang telah ditentukan.


Pesantren yang kutuju terkenal di seantero daerah. Pemiliknya seorang anggota dewan yang juga alim. Bangunannya berdiri megah dengan arsitektur Jawa yang kokoh—pilar-pilarnya seolah menjadi saksi bisu dari beratus-ratus santri yang pernah menimba ilmu di sana. Masjidnya sejuk, lantainya mengkilap bak cermin, dan kaligrafi-kaligrafi indah menghiasi dindingnya bagai mahkota dari ayat-ayat suci. Anak-anak kecil berlarian di sela-sela kedatangan kami, tawa mereka riang tanpa beban—*khoirul umur ausatuha*, sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan, dan masa kanak-kanak adalah pertengahan yang paling murni.


---


Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun menyambut kami. Wajahnya bersih, senyumnya menenangkan—senyum orang yang sudah terbiasa menerima jiwa-jiwa yang datang dalam keadaan lelah.


*"Nanti kamarnya di sana,"* ujarnya sambil menunjuk sebuah ruangan dekat kamar mandi.


Aku mengangguk. Tidak banyak bicara. Kamarku berukuran tiga kali tiga meter—sederhana, bersih, dan tidak berpura-pura menjadi lebih dari apa adanya. Sebuah tempat tidur *single*, lemari plastik baru, dan meja kecil di sudut. Cukup. *Al-qana'ah kanzun la yanfad*—qana'ah adalah harta yang tak pernah habis.


Keponakanku dengan cekatan menata barang-barangku. Sebagian pakaian milikku, sebagian lagi kiriman dari Mas Dwiatno—kakakku yang hari itu turut mengantarkan. Aku tidak tahu, dan tidak pernah kubayangkan, bahwa itulah pertemuan kami yang terakhir di dunia ini.


Tiga bulan kemudian, Mas Dwiatno dipanggil menghadap *ilahi rabbi*. Stroke. Penyakit yang seperti mengalir dalam darah keluarga kami, turun-temurun bagai warisan yang tak seorang pun memintanya. *Kullu nafsin dzaiqatul maut*—setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Ayat itu yang kubaca berulang-ulang ketika berita itu sampai ke telingaku, menghantam dada dengan nyeri yang tak terucapkan.


Ironisnya, Mas Dwiatno adalah perokok berat yang dulu paling getol memberi petuah agar aku tidak merokok. Aku yang tidak selalu mendengarkan. Dan kini, kami berdua sama-sama menjadi bukti hidup—dan mati—bahwa *ad-dukhan mudharr*, rokok itu madharat, tidak perlu banyak dalil untuk membuktikannya.


---


Kehidupan pesantren mengalir dengan ritme yang beda dari dunia luar. Di sini, waktu bukan diukur dengan jam kerja atau tenggat laporan, melainkan dengan azan dan iqamah, dengan *ngaji* subuh dan tahlil malam Jumat.


Setiap subuh, kami duduk bersama dalam siraman rohani. Pesertanya kebanyakan berusia di atas enam puluh tahun—para sesepuh yang datang bukan karena dipaksa, melainkan karena *shauq*, kerinduan yang tulus kepada ilmu. Wajah-wajah mereka tenang dengan ketenangan orang yang sudah lama berdamai dengan hidupnya.


Setelah *ngaji*, aku berjalan pagi menyusuri pematang sawah. Selalu ditemani seorang santri bernama Adi—pemuda dua puluh tahun dari Sumatera yang dipanggil *Pak Lik* oleh teman-temannya, sebab sikapnya jauh lebih matang dari usianya. Ia bercerita tentang hidupnya yang sederhana dengan cara yang membuat kesederhanaan itu tampak seperti mahkota, bukan kekurangan.

Lihat selengkapnya