Ada yang aneh dari cara kita memperlakukan tubuh yang sakit. Kita datangi, kita serahkan, kita percayakan—dan kemudian kita tunggu. Seolah tubuh adalah mesin yang cukup dibawa ke bengkel, lalu diambil kembali dalam keadaan pulih.
Aku pernah melakukan itu selama setahun penuh.
---
Rumah sakit itu lengkap. Terlalu lengkap, mungkin. Ada sinar inframerah, ada kolam renang, ada lorong-lorong panjang yang selalu berbau antiseptik dan kesabaran yang hampir habis. Setiap pekan aku datang, duduk, berbaring, menunggu—dan pulang dengan perasaan bahwa sesuatu sedang berlangsung, meski aku tak tahu apa.
Tapi ada yang tidak pernah berubah: aku tetap di antara orang-orang tua.
Bukan salah mereka. Bukan pula salah aku. Stroke memang tidak mengenal jadwal yang sopan—ia datang tanpa surat undangan, memilih siapa saja yang dianggapnya perlu berhenti sejenak. Namun di ruang tunggu itu, di antara wajah-wajah yang mencoba terlihat baik-baik saja, aku mulai merasakan sesuatu yang lebih mencemaskan dari penyakit itu sendiri: kehilangan makna.
Sebulan. Tiga bulan. Satu semester. Setahun.
Angka-angka itu berbaris rapi, tapi tidak membawa perubahan yang bisa kupegang.
---
Di luar jadwal terapi, aku tinggal bersama Mbak Genah. Setiap pagi, kami bertiga—aku, kakakku, iparku—berjalan menyusuri jalanan desa setelah Subuh. Keduanya juga penyintas stroke. Kami seperti tiga orang yang selamat dari kapal karam yang sama, berjalan beriringan tanpa terlalu banyak bicara tentang kapal itu.
Kadang mereka bangun kesiangan. Aku jalan sendiri. Menyapa tetangga. Menghirup udara yang masih belum penuh debu.
Ada kebaikan dalam rutinitas semacam itu—kebaikan yang tidak bisa diberikan oleh inframerah maupun kolam renang.
---
Namun pertanyaan itu terus menggangguku, dan aku rasa pertanyaan ini juga mengganggu siapa saja yang mau jujur: *stroke adalah gangguan saraf otak—tapi mengapa yang diterapi selalu kaki, tangan, punggung? Tidak pernah kepala?*
Aku tidak tahu apakah ini kelalaian, atau memang begitulah ilmu pengetahuan bekerja—perlahan, ragu-ragu, dan sering kali tertinggal dari harapan pasiennya.
Lalu aku mendengar tentang terapi magnet. Konon harganya setara membangun rumah sakit baru. Konon di Magelang hanya ada satu. Dan konon, istri almarhum Mas Dwiatno sembuh di sana—padahal kondisinya lebih berat dariku, sudah kursi roda, usianya jauh di atasku.