Cahaya lampu neon berkedip pelan di langit-langit kantor, memantulkan warna pucat ke deretan meja kerja yang tersusun rapi. Di layar monitor, grafik, angka, dan baris-baris kode bergerak tanpa henti, seolah dunia sedang berlari dengan kecepatannya sendiri. Suara ketukan keyboard terdengar seperti hujan yang jatuh di atas atap seng: tidak pernah benar-benar berhenti, hanya berubah irama dari waktu ke waktu.
Aku duduk di depan komputer sambil memandangi sederet notifikasi yang bermunculan di layar. Pesan masuk dari berbagai kanal komunikasi internal, pengingat rapat daring, laporan yang harus diperiksa, serta istilah-istilah baru yang rasanya belum sempat kuhafal tetapi sudah digantikan istilah lain. Segalanya bergerak terlalu cepat.
Di sekelilingku, wajah-wajah muda tampak tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Mereka berbicara tentang kecerdasan buatan, strategi pertumbuhan pengguna, algoritma, dan berbagai hal yang terdengar begitu alami di telinga mereka. Sesekali terdengar tawa yang meledak dari sudut ruangan, lalu kembali larut ke dalam kesibukan. Mereka bekerja cepat, berpikir cepat, dan bahkan tampaknya bermimpi dengan cepat.
Aku memperhatikan mereka seperti seseorang yang sedang melihat arus sungai dari tepian. Tidak benar-benar terpisah, tetapi juga tidak sepenuhnya berada di dalamnya.
Pada usia empat puluh lima tahun, aku sering merasa menjadi saksi dari dunia yang berubah lebih cepat daripada kemampuanku untuk memahaminya. Kadang aku bertanya-tanya apakah yang membuatku lelah adalah pekerjaan itu sendiri atau kenyataan bahwa aku harus terus belajar menjadi orang baru setiap kali zaman berganti wajah.
Padahal dulu aku merasa hidupku cukup mapan.
Selama bertahun-tahun aku bekerja di perusahaan besar yang ritmenya dapat ditebak. Ada jenjang karier yang jelas, aturan yang tertulis rapi, dan keyakinan bahwa selama bekerja dengan baik, masa depan akan berjalan sebagaimana mestinya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari sebuah surat singkat tentang berakhirnya kontrak kerja mampu mengubah arah hidup secara keseluruhan.
Peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu, tetapi gema kejutannya masih tersisa hingga sekarang.
Sejak saat itu, aku berpindah-pindah pekerjaan sebelum akhirnya berlabuh di Investura, sebuah perusahaan rintisan yang dipenuhi orang-orang muda dengan gagasan-gagasan besar. Mereka melihat perubahan sebagai peluang. Aku masih berusaha melihatnya sebagai sesuatu yang tidak perlu ditakuti.
Meski demikian, aku bertahan.
Mungkin karena manusia selalu menemukan cara untuk beradaptasi. Atau mungkin karena pada akhirnya setiap orang membutuhkan alasan untuk tetap berjalan, bahkan ketika tidak lagi yakin ke mana arah tujuan sebenarnya.
Di kantor ini aku menemukan beberapa orang yang mengalami kegelisahan serupa. Mereka tidak jauh berbeda dariku: para pekerja yang pernah merasa mapan di dunia lama sebelum tiba-tiba harus belajar berenang di lautan digital yang baru.
Setiap sore, ketika pekerjaan mulai melambat dan mata terasa penat menatap layar, kami berkumpul di sudut belakang kantor yang diperuntukkan bagi para perokok. Tempat itu tidak besar. Hanya beberapa kursi plastik, sebuah meja kecil, dan asbak logam yang warnanya mulai kusam dimakan waktu.
Namun anehnya, di situlah percakapan paling jujur sering terjadi.
Asap rokok melayang perlahan di udara sore. Tidak ada presentasi, tidak ada target bulanan, tidak ada istilah teknis yang harus dipahami. Yang ada hanyalah cerita-cerita sederhana tentang kehidupan yang terus berubah tanpa meminta izin kepada siapa pun.
Kami berbicara tentang pekerjaan lama, tentang teman-teman yang kini tersebar ke berbagai kota, tentang anak-anak yang mulai beranjak dewasa, juga tentang tubuh yang tidak lagi sekuat dulu. Kadang kami tertawa. Kadang terdiam cukup lama sambil menatap jalanan di luar pagar kantor.
Di tempat itu, usia tidak terasa sebagai beban.
Suatu hari seorang karyawan baru bergabung.
Usianya mungkin belum genap dua puluh lima tahun. Wajahnya selalu tampak bersemangat, matanya menyimpan rasa ingin tahu yang belum habis terhadap dunia. Selama beberapa hari pertama, aku melihatnya berbaur dengan cepat bersama rekan-rekan seusianya. Mereka berbicara dengan bahasa yang sama, bergerak dengan ritme yang sama.
Aku mengira dia tidak akan pernah memiliki alasan untuk datang ke sudut merokok.
Tetapi suatu sore, ketika kami sedang duduk seperti biasa, dia muncul dan mengambil kursi kosong di dekat kami.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" katanya.
Kami saling berpandangan sebelum mengangguk.