Dulu, aku mengira sukses adalah perkara kecepatan. Kecepatan mengejar deadline, ketepatan menyaring arus informasi, dan ketangguhan bertahan di bawah tekanan tinggi industri media. Di tengah gemuruh Jakarta yang tidak pernah tidur, ego mudaku dimanjakan oleh ilusi produktivitas. Sukses, bagi jurnalis sepertiku saat itu, tercermin dari kepulan asap rokok dan cangkir kopi yang menemani malam-malam panjang di depan layar laptop. Semakin sibuk, semakin merasa berharga.
Lalu aku menambahkan daftar pencapaian itu dengan menjadi editor untuk beberapa konsultan manajemen. Aku merasa sedang mengendalikan dunia, atau setidaknya, mengendalikan masa depanku sendiri. Rokok bukan lagi sekadar pelarian dari hiruk-pikuk kota, melainkan paspor instan untuk menenangkan saraf yang tegang demi mempertahankan ritme hidup yang serbacepat.
Namun, hidup selalu punya cara yang sunyi sekaligus brutal untuk mengetuk pintu kesadaran kita. Di usia 45—atau mungkin 46 tahun, ingatan paruh bayaku mulai kabur mendeteksi angka pastinya—tubuhku memutuskan untuk mogok massal. Serangan stroke ketiga ini tidak seperti yang pertama atau kedua yang masih bisa kuabaikan demi pekerjaan. Kali ini, stroke datang membawa kiamat kecil: kelumpuhan total.
Seketika itu juga, definisi sukses yang kubangun selama puluhan tahun runtuh tanpa sisa.
Berubah dari seorang jurnalis yang aktif menjadi penyintas yang harus belajar ulang cara berjalan dan berbicara adalah tamparan realita yang paling nyata. Tubuh yang dulu kuanggap sebagai alat yang tangguh, kini menjadi pengingat harian akan keterbatasan fisik manusia. Di tengah kepasrahan itu, kalimat dokter terdengar seperti ultimatum sakral: “Kalau kau ingin hidup lebih lama, tinggalkan rokok.”
Melepaskan nikotin ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi penolakan redaksi. Dia telah menjadi bagian dari identitas diriku selama bertahun-tahun—sahabat karib saat stres maupun senang. Menghentikannya memicu badai emosi: cemas, marah, dan rasa kehilangan yang mendalam. Namun, di titik nadir itulah aku melihat bentuk kesuksesan yang baru: kemampuan untuk menundukkan ego dan memilih untuk bertahan hidup. Dengan dukungan keluarga, terutama anakku yang kini tumbuh menjadi pemuda tangguh di bangku kuliah, aku mengalihkan jemariku yang kaku dari sebatang rokok kembali ke atas papan ketik. Menulis tidak lagi menjadi komoditas jurnalisme yang dikejar tayang, melainkan sebuah terapi spiritual. Setiap coretan adalah proses penyembuhan jiwa.
Keputusan saudara-saudaraku untuk mengemas barang dan pindah ke desa adalah titik balik terbesar dalam memaknai hidup. Di sini, di tengah hamparan sawah hijau Magelang dan udara pagi yang bersih, aku tidak lagi menemukan ambisi-ambisi kosong kota besar. Setiap pagi, langkah kakiku yang melambat menelusuri pasar tradisional menjadi sebuah ritual syukur yang mewah.