Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #13

Belajar Sejenak dari Melbourne

MELBOURNE - Pagi itu Melbourne masih setengah terjaga. Langit berwarna abu-abu pucat, seperti lembar kertas yang belum ditulisi apa pun. Tram berderit pelan di tikungan jalan, sementara orang-orang berjalan cepat dengan secangkir kopi di tangan. Melbourne seperti biasa, Mereka bergerak dengan tujuan yang jelas, seakan setiap menit memiliki harga yang tidak boleh disia-siakan.

Aku duduk di sebuah bangku kayu di tepi Sungai Yarra, memandangi riak air yang bergerak perlahan. Tidak ada hal penting yang sedang kulakukan. Aku hanya duduk memandang orang-orang di tepian sungai. Tidak ada rapat yang harus dihadiri. Tidak ada tenggat pekerjaan yang menunggu di ujung hari. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku membiarkan diriku tidak mengejar apa pun. Aku hanya bertugas mencicipi beberapa menu restoran. Itu saja. Menu yang harganya cukup untuk berangkat umrah. Padahal, itu sekadar ikan dari sungai.lokal. Mereka menganggap itu lebih sehat Lebih alami.

Kita hidup dalam dunia yang mengagungkan kesibukan. Orang ditanya tentang kabarnya, lalu menjawab dengan bangga, ia sedang sangat sibuk. Kalender yang penuh dianggap tanda keberhasilan. Waktu luang sering dipandang sebagai kemewahan, bahkan terkadang sebagai bentuk kemalasan yang harus segera diperbaiki. Itu nilai yang aku yakini. Setidaknya selama ini.

Mungkin karena itulah diam sejenak menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Orang lebih memilih untuk sibuk.

Banyak orang mengira diam sejenak berarti berhenti bekerja.Tubuh bisa saja berhenti bergerak, tetapi pikiran tetap berlari ke mana-mana. Kita memikirkan tagihan bulan depan. Mengingat kesalahan yang terjadi bertahun-tahun lalu. Mengkhawatirkan masa depan yang bahkan belum tentu datang seperti yang dibayangkan. Kita takut akan hal-hal yang belum terjadi

Diam sejenak bukan tentang menghentikan aktivitas. Diam sejenak itu semacam koma.

Itu jeda.

Diam sejenak adalah memberi ruang bagi diri sendiri untuk hadir sepenuhnya pada saat ini.

Di hadapanku, seorang pria tua berjalan perlahan menyusuri tepi sungai. Langkahnya tidak cepat. Tidak juga lambat. Ia berjalan seolah tidak sedang mengejar siapa pun. Burung-burung camar melintas di atas kepalanya, sementara cahaya matahari mulai muncul malu-malu dari balik awan. Ada pelangi.

Aku memperhatikan orang itu cukup lama. Mungkin seperempat jam ada.

Lalu muncul pertanyaan sederhana dalam benakku: kapan terakhir kali aku berjalan tanpa tujuan selain menikmati langkah itu sendiri?

Aku rindu pada aktivitas itu.

Aku ingin menikmati langkahku sendiri.

Di sini, kemarin aku berbincang dengan warga setempat, lagi musim pemuda-pemuda pulang kampung sejenak. Selama ini, mereka menyebar ke berbagai pelosok dunia. Sabatikal. Istilah ini diambil dari tradisi umat Yahudi yang merayakan hari Sabat. Yakni, menghentikan aktivitas atau beristirahat demi menyucikan waktu dan mengembalikan fokus pada aspek spiritual serta keadilan sosial.

Mereka ulang untuk bermakna bagi orang lain. Tampaknya peristiwa 9/11 jadi pemicunya. Mereka mulai sadar, orang terdekat lebih bermakna.Tragedi kemanusiaan itu dianggap pemicu banyak hal. Tragedi tentang dua gedung bertingkat di Amerika Serikat itu banyak pengaruhnya di dunia.

Lihat selengkapnya