Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #14

Dead Discuss Society

Jakarta itu rumit. Bagiku, ia bukan sekadar sebuah titik geografis di peta, melainkan sebuah monster raksasa yang bergerak mandiri dengan jutaan kepala. Kota ini begitu kompleks dan seolah-olah mengharuskan setiap manusia yang terjebak di dalamnya untuk selalu melangkah dengan cepat, tanpa sedetik pun memberi ruang untuk jeda. Setiap sudut kota ini seakan berbisik, bahkan berteriak, mengharuskan siapa saja untuk tetap gesit, sigap, dan memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa terhadap perubahan yang datang bertubi-tubi. Jika kau lengah sedikit saja, kau akan tergilas, tertinggal di belakang, dan dilupakan oleh arus waktu metropolitan yang kejam.


Aku menatap tanganku yang sedikit gemetar, lalu menghela napas panjang. Aku, sebagai seorang penyintas stroke, merasa tak lagi punya tenaga atau sisa daya untuk menghadapi semua kegilaan itu. Tubuhku yang sekarang tidak lagi mampu mengimbangi tuntutan kota yang lincah. Kota ini menyimpan kesibukan yang seolah tak pernah tidur. Bahkan ketika malam telah larut dan lampu-lampu jalanan mulai meredup, ritme kehidupan di Jakarta terus berdetak seperti jantung yang tak kenal lelah, terus memompa manusia dan ambisi ke setiap pembuluh jalannya.


Pikiranku perlahan melayang, mundur ke belakang membawa ingatan pada masa lalu yang masih terekam jelas. Aku ingat betul bagaimana rasanya pertama kali datang ke Jakarta. Waktu itu, aku masih sangat muda, baru saja menyelesaikan kuliah, dan memiliki dada yang sesak penuh dengan ambisi untuk menaklukkan dunia. Kulitku masih kencang, langkahku masih tegap, dan kepalaku dipenuhi oleh mimpi-mimpi besar yang melambung tinggi ke langit.


Namun, realitas langsung menghantamku. Di sini bukan Surabaya. Ini adalah ibu kota negara, tempat di mana segalanya dikalikan sepuluh menjadi lebih masif dan intimidatif. Suara klakson yang bersahut-sahutan tanpa henti, gerak cepat orang-orang di trotoar yang berjalan seperti dikejar hantu, dan kemacetan parah yang menjadi irama harian di kota ini langsung menyambutku. Pemandangan itu sempat membuatku terpukau, namun jujur saja, di balik rasa takjub itu ada rasa cemas yang menyelusup pelan.


Saat hari-hari awal yang membingungkan itu, beruntung aku tidak benar-benar sendirian. Basuki, teman kuliahku dulu, datang menjadi penyelamat kecil. Ia menawari untuk mengantarku pergi ke sebuah wawancara kerja yang sudah kujadwalkan. Basuki sendiri saat itu sudah selangkah lebih maju dariku; ia sudah bekerja di sebuah lembaga pendidikan komputer yang cukup punya nama, menempati posisi sebagai staf di bagian marketing. Pergaulannya yang luas dan pembawaannya yang supel membuatnya sangat cocok berada di posisi tersebut.


Kantor Basuki terletak di daerah Rasuna Said, sebuah kawasan bisnis elite yang dipenuhi oleh deretan gedung pencakar langit yang angkuh. Hari itu, aku punya janji wawancara di sebuah kantor majalah iklan. Jarak kantor majalah tersebut ternyata tak jauh dari kantor Basuki bekerja, mungkin hanya sekitar 100 meter saja jika ditarik garis lurus. Karena lokasinya yang berdekatan, kami berencana untuk bertemu terlebih dahulu sebelum jam wawancaraku tiba. Basuki dengan senang hati bersedia menemani karena dia tahu betul bahwa aku masih sedikit gugup menghadapi lingkungan baru yang asing ini.


Ketika kami sampai di depan gedung yang dituju, aku menghentikan langkahku. Saat pertama kali menatap gedung kantor yang tinggi menjulang ke angkasa itu, tiba-tiba saja aku merasakan keraguan yang teramat sangat menyergap hatiku. Gedung itu tampak begitu megah dengan dinding-dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari, membuatku merasa sangat kerdil.


Pandanganku kemudian teralih pada pintu masuk. Kulihat seorang lelaki berseragam biru tua dengan tongkat pemukul hitam di tangannya, sedang berjalan mondar-mandir dengan sigap di depan gedung. Langkahnya tegas, matanya mengawasi setiap orang yang lewat dengan tatapan menyelidik. Dalam benakku yang masih polos dan dipenuhi kultur pedesaan, aku berpikir dengan sangat serius: Apakah aku harus meminta izin terlebih dahulu kepada lelaki berseragam itu hanya untuk masuk ke dalam gedung? 


Ketika rasa cemas itu sudah tidak bisa kubendung lagi, aku akhirnya menceritakan ketakutanku ini kepada Basuki yang berdiri di sampingku. Mendengar kepolosanku, Basuki langsung menghentikan langkahnya, lalu tawanya pecah seketika di tengah keramaian Rasuna Said.


“Oh, itu satpam, Ndes! Jangan khawatir, dia tidak menggigit kok!” ucapnya berseloroh sambil menepuk pundakku dengan keras.


Mendengar jawabannya, wajahku langsung memerah panas. Aku tersipu malu sekaligus merasa sangat jengkel karena saat itu aku benar-benar didera rasa takut yang sungguh-sungguh, sementara dia menganggapnya sebagai lelucon. Aku merasa sedikit bodoh dengan kepolosan dan ketidaktahuanku. 


Dengan langkah yang mantap dan penuh percaya diri, Basuki kemudian membimbingku untuk berjalan masuk ke gedung tersebut. Tanpa ragu sedikit pun, tangannya yang terbiasa dengan kehidupan kota langsung meraih gagang pintu kaca yang besar, membukanya dengan santai, dan membukakan jalan bagiku untuk masuk ke dalam lobi yang luas serta mewah.


Begitu melangkah melewati pintu kaca, aku kembali dibuat takjub. Lobi gedung itu tampak begitu megah dengan deretan kursi-kursi elegan yang ditata rapi, meja-meja kaca yang bersih tanpa noda, dan lantai marmer yang mengilap hingga bisa memantulkan bayangan wajah kami yang menatap ke bawah. Ada wangi aromaterapi yang lembut dan mahal tercium di udara, menyusup ke indra penciuman dan perlahan membuat ruangan ber-AC itu terasa lebih menenangkan.


Di satu sisi, aku merasakan kekaguman yang luar biasa pada kemegahan arsitektur modern ini. Namun, di sisi lain, perasaan kagum itu justru berbalik menekan jiwaku hingga membuatku merasa sangat kecil dan tidak berarti. Di tempat semewah ini, aku merasa seperti sebutir debu yang salah tempat.


Aku melirik ke arah Basuki yang berjalan di sebelahku. Ia tampak begitu yakin, begitu "kota" dalam setiap gerak-gerik tubuhnya.


Teman-teman kuliah kami dulu memang memanggilnya dengan nama “Basuki”. Panggilan itu melekat bukan hanya karena nama aslinya memang demikian, melainkan karena penampilan, tampang, dan logat bicaranya yang kental sangat mengingatkan kami pada sosok Basuki Srimulat—komedian terkenal yang kerap memainkan peran legendaris sebagai tokoh Mas Karyo di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Lihat selengkapnya