Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #16

Menakar Kepolosan di Balik Megahnya Kota Singa

SINGAPURA — Dari jendela tingkat dua puluh sebuah kedai kopi di kawasan perniagaan Raffles Place, sudut pandang seorang jurnalis sering kali dipaksa untuk melihat dunia secara mekanis. Di bawah sana, manusia bergerak seperti komponen jam Swiss: presisi, cepat, dan tanpa deviasi. Singapura sering kali dinobatkan sebagai puncak pencapaian modernisme Asia. Terutama Asia Tenggara. Sebuah wilayah yang berhasil menaklukkan keterbatasan geografisnya untuk menjelma menjadi pusat kapitalisme global yang steril dan digdaya.


Aku datang untuk melihat kesiapan Singapura sebagai kota penyelenggara F1. Sebuah lomba adu cepat otomotif. Kami diajak berkeliling ke beberapa tempat wisata. Waktu itu Marina Bay Sands baru dibangun. Aku salut dengan negeri tetangga ini. Mereka pandai berdagang. Aku sudah tahu rencana pembangunan mal ini jauh sebelumnya. Sebagai penulis arsitektur, tempat ini digambarkan begitu canggih. Mereka pandai mengemas kata. Padahal, mal ya tetap mal. Mau di Jakarta, Semarang, Singapura, ya digunakan sebagai lokasi jual beli. Hanya deretan toko di gedung yang sama.


Mereka mengemasnya menjadi kelebihan di bidang arsitektur. Pameran lukisan dikemas sebagai wisata ilmu.


Jika Anda meluangkan waktu sejenak untuk melepaskan diri dari ritme cepat itu dan memandang garis langitnya dengan mata seorang perenung, Anda akan menemukan sebuah realita yang kontradiktif. Di balik beton-beton pencakar langit, sistem hukum yang ketat, dan efisiensi algoritma kotanya, Singapura sebenarnya adalah sebuah kota yang sangat naif.


Kepolosan kota ini tidak terletak pada ketidaktahuannya, melainkan pada keyakinannya yang teramat kokoh. Segala sesuatu di dunia ini bisa diselesaikan dengan formula, regulasi, dan rekayasa sosial.


Itu adalah ilusi peradaban modernitas.


Aku diajak ke beberapa galeri lukisan di perbukitan. Aku lupa namanya. Tapi, di sini yang kutemui lukisan-lukisan karya pelukis Indonesia. Aku juga diajak ke pelabuhan. Singapura benar-benar serius menjaga asetnya. Bak di film Holywood, keamanannya begitu ketat. Keamanan berlapis. Aku juga menemukan fakta, Oei Hong Djien, Heri Dono, Entang Wiharso, cukup dikenal kalangan seni rupa.


Sebagai mantan jurnalis yang terbiasa melihat retakan di balik dinding sebuah institusi, aku melihat Singapura seperti seorang anak jenius. Anak jenius ini di dalam kelas yang percaya, kehidupan akan selalu berjalan sesuai dengan buku teks. Kota ini dibangun di atas pondasi ketakutan kolektif—kiasu—sebuah kecemasan struktural. Mereka akan tertinggal jika berhenti berlari sekecil apa pun. Kiasu itu istilah slang dalam bahasa Hokkien yang secara harfiah berarti "takut kalah" atau "takut rugi".

Lihat selengkapnya