MAGELANG — Di beranda depan, ketika matahari sore mulai menggelincir rendah di langit Magelang, waktu seolah kehilangan kuasanya untuk buru-buru. Bagi seorang pria yang menghabiskan paruh pertama hidupnya di bawah diktat deadline dan deru ruang redaksi yang bising, momen-momen seperti ini adalah sebuah kemewahan yang sunyi.
Ingatan saya seketika melayang pada Mas Dwiatno, sosok kawan berpenampilan santai yang pertama kali mengonversi skeptisisme saya terhadap dunia perlintingan. Dialah yang menghibahkan sebuah alat linting kayu cokelat muda pudar seukuran songkok dewasa. Bentuk silindrisnya yang menyerupai slender aspal—alat berat penumbuk jalan—menjadi analogi yang pas: sebuah alat yang perlahan namun pasti meratakan jalan baru dalam cara saya menikmati hidup.
Satu bulan penuh saya berkompromi dengan jemari yang kaku. Tembakau yang tumpah dan kertas yang robek menjadi pemandangan harian, hingga akhirnya ritme itu menetap di ujung jari. Ada rasa hormat yang tumbuh dalam hati saya kepada para buruh linting bertangan cekatan di pabrik-pabrik kretek tangan. Namun, di balik ketidaksempurnaan hasil lintingan kasar milik saya sendiri, di situlah letak kemurniannya. Setiap batang memiliki karakter, ketebalan, dan kepadatan yang berbeda. Ia memiliki sentuhan personal yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh presisi mesin-mesin modern.
Pencarian rasa membimbing saya pada ruang-ruang nostalgia. Ibu saya, seorang penjual tembakau, adalah kurator pertama yang mengenalkan saya pada anatomi rasa. Beliau sering memperingatkan tentang karakter tembakau yang nyegrak—sebuah istilah lokal Jawa untuk menggambarkan aroma yang menghujam kuat ke dalam saluran pernapasan. Dari beliau pula saya memahami pentingnya eksistensi "saos", cairan perasa organik yang memberi aksen personal pada setiap hisapan.