Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #17

Aroma Tembakau dan Secangkir Hitam: Narasi Refleksi dari Sebuah Ritme yang Melambat

MAGELANG — Di beranda depan, ketika matahari sore mulai menggelincir rendah di langit Salaman, waktu seolah kehilangan kuasanya untuk buru-buru. Bagi seorang pria yang menghabiskan paruh pertama hidupnya di bawah diktat deadline dan deru ruang redaksi yang bising, momen-momen seperti ini adalah sebuah kemewahan yang sunyi.


Ingatanku seketika melayang pada Mas Dwiatno, sosok saudara sekaligus kawan berpenampilan santai yang pertama kali mengonversi skeptisismeku terhadap dunia perlintingan Dialah yang menghibahkan sebuah alat linting kayu cokelat muda pudar seukuran songkok dewasa. Bentuk silindrisnya yang menyerupai slender aspal—alat berat penumbuk jalan—menjadi analogi yang pas: sebuah alat yang perlahan namun pasti meratakan jalan baru dalam cara aku menikmati hidup.


Satu bulan penuh aku berkompromi dengan jemari yang kaku. Tembakau yang tumpah dan kertas yang robek menjadi pemandangan harian, hingga akhirnya ritme itu menetap di ujung jari. Untung teman kosku waktu itu dengan senang hati membantuku melintingkannya. Ada rasa hormat yang tumbuh dalam hatiku kepada para buruh linting bertangan cekatan di pabrik-pabrik kretek tangan. Namun, di balik ketidaksempurnaan hasil lintingan kasar milikku sendiri, di situlah letak kemurniannya. Setiap batang memiliki karakter, ketebalan, dan kepadatan yang berbeda. Ia memiliki sentuhan personal yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh presisi mesin-mesin modern.


Pencarian rasa membimbing aku pada ruang-ruang nostalgia. Ibuku, seorang penjual tembakau, adalah kurator pertama yang mengenalkan aku pada anatomi rasa. Beliau sering memperingatkan tentang karakter tembakau yang nyegrak—sebuah istilah lokal Jawa untuk menggambarkan aroma yang menghujam kuat ke dalam saluran pernapasan. Dari beliau pula aku memahami pentingnya eksistensi "saos", cairan perasa organik yang memberi aksen personal pada setiap hisapan.Sering dijual saos-saos aneka macam merk rokok. Tak persis sama, tapi mendekati rasa aslinya.


Dia pernah meminta rokokku karena dia tidak bawa tembakau. Ia membutuhkannya untuk susur. Menyusur adalah kegiatan membersihkan gigi dengan tembakau. Rokok bisa menggantikan itu.


Kebiasaan membawa alat linting ini menjadi penanda geografis perjalananku. Dari sudut-sudut pemukiman di Karawaci, Tangerang, hingga akhirnya aku pulang ke Magelang. Di kota ini, pelataran belakang Pasar Rejowinangun—tepat di tepian selokan tua yang dahulu riuh oleh pedagang barang-barang antik—menjadi titik labuh aku. Toko tembakau kecil yang agak tersembunyi di sana bukan sekadar tempat transaksi, melainkan sebuah ruang arsip tempat aroma bumi disimpan dan dirayakan dalam kesederhanaan. Pada awalnya harus tanya sana-sini. Aku baru menemukannya setelah gagal dulu. Toko yang jual tembakau di dalam pasar tutup. Oleh pedagang tetangganya aku diarahkan ke luar pasar. Letaknya di dekat, cuma harus keluar area pasar dulu. Ada gang kecil di samping pasar. Itu pasar pindahan dari pasar loak waktu SMA dulu. Nah, di sana ada toko tembakau.

Lihat selengkapnya