MAGELANG -- Di beranda depan, ketika matahari sore mulai menggelincir rendah di langit Salaman, waktu seolah kehilangan kuasanya untuk tergesa-gesa. Bagi seorang pria yang menghabiskan paruh pertama hidupnya di bawah diktat deadline dan deru ruang redaksi yang bising, momen-momen seperti ini adalah sebuah kemewahan yang sunyi—sebuah hadiah yang tidak pernah terbayar harganya.
Ingatanku seketika melayang pada Mas Dwiatno, sosok saudara sekaligus kawan berpenampilan santai yang pertama kali mengonversi skeptisismeku terhadap dunia perlintingan. Dialah yang menghibahkan sebuah alat linting kayu cokelat muda pudar seukuran songkok dewasa. Bentuk silindrisnya yang menyerupai slender aspal—alat berat penumbuk jalan—menjadi analogi yang pas: sebuah alat yang perlahan namun pasti meratakan jalan baru dalam cara aku menikmati hidup.
Satu bulan penuh aku berkompromi dengan jemari yang kaku. Tembakau yang tumpah dan kertas yang robek menjadi pemandangan harian, hingga akhirnya ritme itu menetap di ujung jari. Untung teman kosku waktu itu dengan senang hati membantuku—sabar mengajariku teknik setiap kali aku berbuat salah. Ada rasa hormat yang tumbuh dalam hatiku kepada para buruh linting bertangan cekatan di pabrik-pabrik kretek tangan. Mereka menguasai suatu keahlian yang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menggali pondasi tekniknya.
Namun, di balik ketidaksempurnaan hasil lintingan kasar milikku sendiri, di situlah letak kemurniannya. Setiap batang memiliki karakter, ketebalan, dan kepadatan yang berbeda. Ia memiliki sentuhan personal yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh presisi mesin-mesin modern. Ketika aku menghisap rokok lintinganku sendiri, aku merasakan sesuatu yang otentik—sesuatu yang benar-benar milikku.
Pencarian rasa membimbing aku pada ruang-ruang nostalgia yang paling dalam. Ibuku, seorang penjual tembakau, adalah kurator pertama yang mengenalkan aku pada anatomi rasa. Beliau sering memperingatkan tentang karakter tembakau yang nyegrak—sebuah istilah lokal Jawa untuk menggambarkan aroma yang menghujam kuat ke dalam saluran pernapasan, aroma yang tidak semua orang bisa toleransi. Dari beliau pula aku memahami pentingnya eksistensi "saos", cairan perasa organik yang memberi aksen personal pada setiap hisapan.
Aku masih ingat betapa cerewetnya ibu mendeskripsikan perbedaan antara saos-saos berbeda merk. Sering dijual saos-saos aneka macam merk rokok yang sebenarnya tidak persis sama, tapi mendekati rasa aslinya. Ibu bisa membedakan nuansa rasa hanya dengan satu tiga kali isapan—sebuah keahlian yang membuatku terpesona waktu kecil.
Pernah suatu hari dia meminta rokokku karena dia tidak bawa tembakau. Ia membutuhkannya untuk susur—kegiatan untuk menginang bagi sebagian masyarakat. Menginang adalah tradisi lama yang sudah jarang dilakukan generasi muda, namun tetap memiliki makna sosial yang dalam bagi komunitas orang-orang setua ibu.