Dia lelaki dengan prinsip tegas—Asep—seorang yang sejak aku mengenalnya tidak menyembunyikan sikapnya: dia tidak suka dengan budaya Jawa. Aku masih ingat bagaimana dia mengemukakan pendapatnya dengan nada yang percaya diri, hampir ada semacam keharuan dalam cara dia berbicara tentang hal itu. Padahal Jawa dan Sunda itu bersebelahan—Barat dan Timur dalam satu pulau yang sama. Namun Asep percaya sepenuh hati dengan cerita strategi Gajah Mada dalam penaklukan Sunda; dia menganggap cerita itu sebagai narasi bersejarah yang valid dan perlu dipertahankan.
Di sisi lain, aku menganggap cerita itu sebagai buatan penjajahan Belanda untuk mengadu domba dua suku dalam satu pulau: Jawa di satu sisi, Sunda di sisi lainnya. Ini adalah perspektif yang agak kontroversial, aku akui. Namun celakanya strategi itu berhasil—berhasil di beberapa kesempatan, berhasil dalam mengkonstruksi narasi yang bertahan hingga abad modern ini.
Asep merujuk pada Perang Bubat sebagai bukti utama ketegangan antara Jawa dan Sunda. Perang Bubat mengacu pada sosok Gajah Mada, Panglima Majapahit yang legendaris dan penuh dengan misteri historis. Dalam cerita tradisional yang diajarkan di sekolah-sekolah, Perang Bubat adalah perang tragis yang menunjukkan kehebatan dan kealiman Gajah Mada dalam strategi militer. Namun ada versi lain dari cerita ini—versi yang lebih kritis dan kontemporer, yang mempertanyakan apakah cerita itu benar-benar terjadi secara historis atau sekadar mitos yang dibangun untuk kepentingan politis tertentu. Apakah itu mitos yang diperkuat oleh penguasa untuk memvalidasi kekuasaan mereka.
Perseteruan Jawa versus Sunda ini terbawa hingga abad modern, bahkan sampai ke tahun-tahun terakhir ini. Aku masih ingat pada 2018, ketika Gubernur tiga wilayah di Pulau Jawa mengadakan sebuah acara rekonsiliasi—sebuah upaya untuk menyembuhkan luka bersejarah yang masih terbuka. Mereka sepakat mengganti nama jalan-jalan arteri utama di berbagai kota, menandai komitmen untuk menyatukan kedua kelompok etnis ini. Ini adalah langkah simbolis yang cukup penting. Itu pun tentu saja tidak semua orang setuju dengan keputusan itu.
Anehnya—dan ini adalah bagian yang paling menarik—perseteruan Jawa versus Sunda juga merembet ke hal-hal yang bersifat kultural dan bahkan linguistik. Misalnya, perbedaan dalam seni wayang. Walau ada perbedaan jumlah punakawan—pembantu ksatria utama—namun sama-sama memiliki struktur cerita yang mirip.