bab 18
Dia lelaki dengan prinsip tegas. Sejak aku mengenalnya, di terang-terangan dia tidak suka dengan budaya Jawa. Padahal Jawa dan Sunda itu bersebelahan. Barat dan Timur, hanya dipisahkan oleh garis administratif yang konon dulu pun tak terlalu jelas batasnya. Ia percaya dengan cerita strategi Gajah Mada dalam penaklukan Sunda. Di sisi lain aku menganggap cerita itu buatan penjajahan Belanda untuk mengadu domba dua suku satu pulau: Jawa di satu sisi, Sunda di sisi lainnya. Celakanya, strategi itu berhasil di beberapa kesempatan. Bahkan setelah revolusi, setelah kemerdekaan, setelah reformasi, sentimen itu masih menyala kecil-kecil seperti bara di bawah abu. Tidak besar, tapi cukup untuk membakar kalau ditiup angin yang salah.
Dia, Asep, merujuk pada Perang Bubat. Perang Bubat mengacu pada sosok Gajah Mada. Panglima Majapahit itu—dalam versi yang diceritakan turun-temurun di buku-buku sejarah sekolah kita, versi yang aku sendiri pelajari waktu SD dulu di kelas yang berbau kapur dan kayu lapuk—digambarkan sebagai pemersatu Nusantara lewat Sumpah Palapa. Tapi ironisnya, justru lewat ambisi pemersatuan itu pula tragedi Bubat terjadi: rombongan kerajaan Sunda yang datang untuk pernikahan, bukan untuk takluk, berakhir dalam pertumpahan darah. Asep selalu mengulang ini setiap kali topik Jawa muncul di percakapan kami, seolah luka itu miliknya sendiri, padahal kejadiannya berabad-abad sebelum dia lahir, sebelum kakek buyutnya lahir, mungkin sebelum nama "Sunda" dan "Jawa" punya makna politik seperti sekarang.
Perseteruan Jawa vs Sunda ini terbawa hingga abad modern ini. Pada 2018, Gubernur tiga wilayah di Pulau Jawa—Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, kalau aku tidak salah ingat, meski ingatanku belakangan ini suka berkhianat—mengadakan rekonsiliasi simbolis. Mereka sepakat mengganti nama jalan arteri yang sebelumnya memakai nama-nama yang dianggap menyinggung salah satu pihak. Sebuah gestur politik yang manis di permukaan, walau aku ragu apakah jalan yang berganti nama benar-benar mengubah apa yang tertanam di kepala orang-orang macam Asep.
Anehnya, perseteruan ini juga merembet ke hal-hal yang bersifat budaya, bahkan yang sepele dan domestik. Misalnya wayang. Walau ada perbedaan jumlah punakawan—Jawa dengan Semar, Gareng, Petruk, Bagong, sementara Sunda punya formasi yang sedikit berbeda dalam tokoh pendamping—tapi pada dasarnya sama-sama ada pembantu ksatria utama, sosok-sosok yang mengocok perut penonton sambil menyampaikan kritik sosial lewat banyolan. Dalam bahasa pun berbeda. Sega dan sego. Sunda dan Jawa. A dan O. Vokal kecil yang memisahkan dua dunia, dua cara memandang nasi, dua cara memandang hidup—begitu kira-kira candaan yang sering kami lemparkan di kantor dulu, sebelum semuanya jadi terlalu serius untuk dijadikan bahan tertawa.