Aku berdiri di ambang waktu, di ujung batas antara masa lalu yang memudar dan masa kini yang hanya sepi. Dulu aku adalah seorang pria yang dikejar angin kota. Seorang jurnalis dengan segenggam ketenaran yang lebih berat daripada yang bisa kubayangkan saat pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. Ada denyut hidup yang mengisi setiap celah ruang kerjaku dulu. Ada detak yang serupa aliran listrik dari mesin pencari berita. Ada panggilan telepon yang datang dari ujung dunia untuk sebuah kutipan, pernyataan, kabar yang ditunggu ribuan orang. Namun sekarang, yang ada hanya detak sunyi yang bergema di sudut hatiku, mengisi kehampaan yang tak kutahu kapan akan pergi.
Aku telah bercerai, ikatan yang dulu kuanggap tak tergoyahkan sekarang hanya kenangan di balik kaca apkir.
Lalu datang stroke yang meluluhlantakkan segalanya, memaksaku meninggalkan Investura, perusahaan yang aku dan Basuki bangun dari awal. Hal menyisakan sisa-sisa dari mimpiku yang entah kini berkelana ke mana. Sekarang aku berada di Salaman, kota kecil yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Sebuah kotq kecamatan kecil. Di sinilah aku menjalani hari-hari yang kosong, sepi seperti jam rusak yang jarumnya tak pernah bergerak. Tak ada lagi desakan waktu, hanya detak yang tak berarti.
Investura, sebuah perusahaan rintisan yang lahir dari tangan kami berdua. Perusahaan ini didirikan di tengah maraknya euforia bisnis teknologi. Nama itu, dulu memiliki cita rasa yang tajam. Kami memdefinisikannya sebagai mimpi besar tentang masa depan. Ini tentang kebebasan finansial. Tentang keberhasilan. Kami menggerakkan perusahaan ini dengan penuh semangat. Basuki dan aku pernah berjanji akan membangun Investura menjadi nama besar yang dikenal semua. Kami bersumpah di bawah bintang kota Jakarta, di antara kemilau lampu-lampu gedung pencakar langit yang seperti menatap kami dengan keangkuhan yang hampir tak tertandingi.
Namun sekarang, Investura seperti bayangan samar di benakku. Usaha ini serpihan mimpi yang telah lama berlalu. Aku tak lagi tahu apa yang terjadi pada perusahaan itu. Apakah ia masih berdiri kokoh di tengah badai perubahan yang melanda dunia bisnis, Atau, sudah justru runtuh, tenggelam dalam lautan persaingan tanpa belas kasihan. Basuki, mitra yang dulu begitu setia, kini tak banyak bicara. Tiap kali kuhubungi, jawabannya seperti bayangan di air. Ia menjadi samar dan kabur. Keakraban duku ada, kini hablur.
Hal ini memisahkan kami dari impian yang pernah kami bangun bersama. Pernah selama berbulan-bulan dia menghilang tanpa kabar. Ini mengingatkanku pada kenyataan serupa. Di awal kerja di Jakarta. adia juga pernah bablur tanpa narasi.
Sering kali di malam hari, di saat sepi menjelma menjadi dingin yang menusuk, aku teringat masa-masa itu. Aku teringat saat-saat kami bekerja tanpa henti. Hari-hari panjang yang dihabiskan dengan rapat-rapat penuh ketegangan. Hari dengan diskusi yang tak pernah habis. Perdebatan yang kadang membakar dada. Ada adrenalin yang mengalir deras saat itu. Perasaan bahwa hidup ini adalah tentang perjuangan. Tentang memenangkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kehidupan itu sendiri. Tapi sekarang, setiap kenangan itu terasa seperti debu yang beterbangan di jalan sepi. Sisa-sisa dari sebuah masa yang tak mungkin kembali lagi.