Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #22

Shalat Jumat

Baju koko putih itu tergantung di balik pintu seperti sebuah bendera yang menunggu untuk dipropagandakan. Lik Dalan meraihnya dengan gerak yang sigap. Gerak seorang lelaki yang tahu persis di mana barang-barangnya berada. Ia merawat kesederhanaan dengan disiplin tinggi. Hari itu hari Jumat dan matahari di atas mulai meninggi. Matahari bergerak seperti pendulum yang tak pernah bergerak mundur, selalu maju menuju puncaknya.


Aku harus bersiap lebih awal daripada biasanya. Tubuhku tidak lagi mematuhi perintah otak dengan cepat. Tubuhku adalah instrumen yang kini bergerak dengan kelambatan yang mengingatkan aku akan keterbatasan mortalitas. Langkahku tertatih, lebih lambat dari anak kecil berumur lima tahun. Aku seperti seseorang menelusuri jalur gelap. Aku merasa harus berangkat lebih dini. Seorang lelaki harus tahu batas kemampuannya dan berjalan dengan hormat di dalam batas itu Ia seperti pengrajin yang menghormati keterbatasan bahannya.


Pukul sebelas lewat lima belas aku sudah sampai di rumahnya. Rumah Lik Dalan yang sederhana. Biasanya, sholat Jumat di masjid dimulai pukul 11:30. Jarak rumah kami hanya sekitar 400 meter. I

Jarak ini terasa pendek bagi yang sehat. Namun bagi tubuhku yang terluka stroke, adalah perjalanan yang memerlukan persiapan mental. Kami beda RT, satu RW.


"Wih, rajin banget," kata Lik Dalan sambil bergerak menuju kamar mandi, seperti seorang pilot yang sudah menjalankan rute yang sama berkali-kali. Dia tidak melihatku ketika berbicara. "Memangnya mau dapat pahala seperti berkorban onta?"


Itu adalah lelucon khas Lik Dalan, humor yang ringan namun mengandung kebijaksanaan tersembunyi. Leluconnya adalah cara dia memberkati orang lain tanpa perlu mengatakan kata-kata yang berat atau penuh dengan syarat.

Lihat selengkapnya