Jampi Penari

Anggoro Gunawan
Chapter #23

Para Penyintas

Kehidupan yang dulunya penuh dengan gemerlap ambisi, kini seperti langit yang perlahan meredup. Ia tertutup mendung. Segala pencapaian yang dulu terasa kokoh bagai karang di tepi lautan, tiba-tiba terasa rapuh. Mudah larut dalam gelombang waktu. Tubuh yang dulu sekuat baja kini serasa hanya kerikil kecil yang dilemparkan ke lautan luas—terombang-ambing oleh takdir yang tak bisa ditebak. Namun, aku tidak tunduk begitu saja.


Di kota kecilku, Salaman, yang penuh kenangan masa kecil dan cerita lama. Aku menemukan diri bergabung dalam sebuah komunitas penyintas stroke Magelang Raya. Di sini, ada kehangatan yang tak pernah kuduga sebelumnya, ada pelajaran tentang kemanusiaan yang terselip di balik setiap senyum lelah mereka. Kami berjuang bersama. Kami saling mendukung dan menguatkan. Kami seperti sepotong puisi yang terus mengalir. Dan puisi yang berusaha mencari jalan keluar dalam sebuah perjalanan yang penuh misteri. "Hidup ini memang penuh luka," begitu kata mereka. "Tapi luka adalah bagian dari perlawanan, bukan akhir dari cerita."


Melalui komunitas ini, aku belajar tentang segala jenis terapi yang mengalir seperti sebuah harmoni penyembuhan. Mulai dari akupunktur, fashdu, bekam, sampai pijat saraf. Setiap metode adalah sebuah percikan harapan, sepotong cahaya di tengah gelap yang menggerogoti. Aku menjalani perawatan ini dengan hati yang terbuka. Aku percaya tubuhku akan merespon seiring berjalannya waktu. Perubahan datang perlahan, tapi aku tahu.


Di antara sesi terapi, aku mulai menemukan kembali minatku yang terlupakan: menulis. Kata-kata seolah menjadi penawar bagi lukaku. Ini menjadi jendela untuk melihat dunia yang lebih luas meski dari keterbatasanku.


Pada awalnya aku sangat bergantung pada kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence). Aku kagum dengan kemampuan AI untuk mencipta kata-kata. Indah nian. Tapi ada yang hilang dari robot kata ini. Kurang ada sisi manusiawinya. Semua kata begitu indah sekaligus presisi. Logis. Ini tak umum. Sastra harusnya keluar dari pakem. Ini semuanya teratur. Seperti Singapura. Aku ingin seperti Indonesia. Atau, aku ingin lebih tepatnya sebagai warga desa di Salaman.


Yang bisa salah. Yang bisa terperosok. Yang banyak salahnya seperti penderita stroke pada umumnya.


Aku mulai mencari tahu lebih banyak tentang AI. Aku mulai belajar lagi tentang Natural Language Processing (NLP). Apa saja dan apa gunanya. Ternyata mereka punya spesialisasi sendiri-sendiri. Ada yang jago gambar, merangkai kata, bernyanyi, main musik, dan lain-lain.


Aku mulai asyik belajar lagi diksi kata. Diksi yang dimengerti oleh AI. Oleh robot. Aku menemukan beberapa fitur yang menyetel perangai robot kata ini. Mau ngeyelan apa penyenang obrolan. Semua bisa diatur.


Aku juga mulai bermain Youtube. Aku mulai bercerita sesuai keadaanku. Dari mulai dari Tangerang sampai ke Magelang. Aku bercerita dengan keterbatasan ingatan. Aku tanya sana sini. Harus sabar bicara sama mesin itu. Harus terstruktur dan detail. Kita tidak bisa bilang "saya mau kaya." Tapi, harus dijabarkan satu-satu sesuai proses berpikirnya.


Ini latihan bagi otakku untuk berpikir logis. AI itu cerdas. Tapi AI tidak bijaksana. Kitalah yanh membuat rambu-rambunya. Misal, kita mau nyetel AI jadk ahli agama. Bisa. Mau nyetel AI jadi ahli marketing. Bisa. Itu tinggal diberikan instruksi sesuai yang kita inginkan. Asal, itu semua disampaikan di awal.

Lihat selengkapnya