Seorang gadis cantik jelita yang sedang berjalan menuju sebuah warung untuk membeli pembalut telah membuat orang-orang yang melihatnya lupa mengedipkan mata mereka, terutama bapak-bapak.
“Mas! Kucongkel matamu ya ... malam nanti jangan mintah jatah,” gumam salah seorang warga yang bersama dengan suaminya.
“Buk bukan gitu Buk, itu ... tadi cuma-“
“Gak ada, pokoknya jatah gak ada malam ini!” tegas istri pada suaminya itu karena melihat gadis yang menuju ke warung itu.
Sedangkan si gadis yang cantik itu sekarang sedang berbeli di warung yang ia tuju tadi, dan di warung itu ternyata penjaganya adalah seorang bapak-bapak yang tak lain adalah pemilik warung itu sendiri.
“Permisi Pak ... ada pembalut?” tanya wanita cantik itu pada bapak-bapak pemilik warung.
“Eh ... Neng Nilam, ada kok kamu mau yang apa?” jawab pemilik warung.
“Yang kayak biasanya Pak, tipis-tipis aja,” ucap wanita cantik bernama Nilam itu.
“Bentar ya, saya ambilkan,” ucap penjaga warung lalu mencari pesanan Nilam.
Saat si bapak-bapak penjaga warung itu tengah mencari pesanan Nilam yang ada di rak bawah, ia tak sengaja melihat dari balik kaca tembus pandang yang dibalik kaca itu adalah roknya si Nilam, walau sesaat namun penjaga warung itu sempat terpana dan tergoda oleh paha mulus Nilam yang putih bening itu, dan lamunan dan khayalnya pun sirna saat Nilam memanggilnya dan bertanya.
“Gimana Pak? Apa ada?” tanya Nilam pada penjaga warung.
“Oh ... ada kok, ini kan?” jawab bapak penjaga warung sambil memberikan sebungkus pembalut pesanan Nilam.
“Iya Pak, berapa Pak?” ucap Nilam menanyakan harga pembalutnya itu.
“Kayak biasa aja 15 ribu Neng Nilam,” jawab penjaga warung.
“Bentar ya Pak, saya ambil uang saya dulu,” ucap Nilam lalu mengambil dompetnya.
Saat hendak memberikan uangnya, Nilam tak sengaja menjatuhkan beberapa uang receh koin dari dalam dompetnya itu, ia pun segera menunduk memungut uangnya yang jatuh berserakan itu. Sedangkan penjaga warung malah kembali termenung seperti tengah melihat sesuatu, dan ternyata sesuatu itu adalah belahan dada Nilam yang terlihat dari atas karena Nilam yang sedang menunduk memungut uangnya yang jatuh.