Janda Bolong

M.ALKAHFI
Chapter #6

Chapter 6

Rifki tak tahu bahwa Nilam sudah tidak sadarkan diri, dia malah semakin cepat memaju-mundurkan teronganya masuk kedalam tempat sakral milik Nilam, Rifki yang semakin ia memasukkan terongnya kedalam tempat sakral milik Nilam, semakin cepat pula kecepatan ia memasukkan terongnya kedalam tempat sakral milik Nilam itu, hingga akhirnya Rifki telah mencapai puncaknya dan ia pun klimaks dan tak sengaja mengeluarkan keringat putih dari terongnya itu didalam tempat sakral milik Nilam.

Rifki pun tertidur tepat disebelah Nilam setelah ia membuang keringat putih dari terongnya didalam tempat sakral milik Nilam, ia masih tak tahu bahwa Nilam sudah tak sadarkan diri dan berbicara padanya.

“Itu sungguh luar biasa Lam, punyamu sangat enak dan membuat punyaku tak terkendali, maafkan Aku karena terlambat mencabutnya ... Aku pasti akan bertanggung jawab sebagai pria sejati Lam,” ucap Rifki pada Nilam yang sudah tak sadarkan diri.

Rifki yang merasa aneh karena tak mendengar jawaban dari Nilam langsung melihat ke arah Nilam, dan ia baru menyadari bahwa Nilam sudah tak sadarkan diri. Rifki langsung mencoba mengoyang-goyangkan tubuh Nilam agar ia bangun, namun hal itu tak berpengaruh sama sekali, Nilam tetap tak sadarkan diri dengan keadaan tubuhnya yang tanpa satu helai benang pun menutupi tubuhnya itu. Rifki pun seketika cemas dan langsung menelepon ambulan seraya mengenekan bajunya dan memakaikan pakain Nilam pada tubuh Nilam yang terkulai lemah setelah tempat sakralnya dimasuki oleh terongnya Rifki.

Malam pun tiba, dan sekarang Rifki tengah menemani Nilam yang masih tak sadarkan diri di rumah sakit, ia tak mengira bahwa perbuatannya akan menjadi bencana seperti ini, bahkan ia tak mempunyai rasa dan perasaan terhadap Nilam walaupun itu cuma setetes, ia baru sadar dan menyesali perbuatannya ketika dirumah sakit saat ia menemani Nilam yang masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.

“Maafkan Aku Lam, Aku sudah berbuat kesalahan fatal terhadapmu, Aku terbawa suasana dan kita berakhir seperti ini, maafkan Aku Lam ... maafkan Aku,” gumam Rifki penuh sesal sambil menggenggam tangan Nilam.

Tiba-tiba, Nilam membuka matanya dan mendapati ada seseorang yang sedang menggenggam tanganya, ia perlahan bangun dari tidurnya dan tak menduga bahwa bagian bawah perutnya yaitu tempat sakralnya sangat perih dan sakit.

“Aahh! Sakit,” rintih Nilam kesakitan di area sakralnya.

“Nilam? Kamu sudah sadar? Dimana? Dimana yang sakit Lam, Aku panggilkan dokter ya kamu tunggu disini, Aku gak akan lama kok, tunggu sebentar ya,” ucap Rifki yang kegirangan setelah mengetahui Nilam yang sudah sadarkan diri.

“Tunggu ... kenapa kita ada disini?” tanya Nilam lesu pada Rifki.

“Itu ... nanti saja Aku jelasin ke kamu, sekarang kamu harus dirawat oleh dokter dulu, kamu tunggu disini sebentar ya, Aku panggilin dokter dul-“

“Rifki, apa yang terjadi? Cepat katakan padaku, cepat katakan!!” ucap Nilam memotong perkataan Rifki dengan intonasi menaik.

Lihat selengkapnya