Awal Mei 2024…
Ember plastik berwarna biru itu sudah lama bocor. Setiap kali hujan turun, air yang tertampung di dalamnya perlahan merembes dari sisi bawah, membentuk garis tipis di lantai teras sebelum menghilang sendiri ketika matahari datang. Ember itu tak pernah dipakai lagi untuk menampung air. Namun, tidak pernah pula benar-benar pergi.
Di sampingnya, sebuah kursi kayu bersandar pada dinding. Salah satu kakinya dibalut sobekan kain bekas agar tidak lagi bergoyang setiap kali diduduki. Di ruang tengah, radio tua masih menempati rak yang sama seperti belasan tahun lalu, meski yang tersisa darinya hanyalah desir pendek yang muncul sesuka hati.
Jam dinding di dekat meja makan terlambat hampir tujuh menit. Keran di halaman belakang masih menetes pelan, setetes demi setetes, seolah sedang menghitung waktu dengan caranya sendiri.
Benda-benda itu tak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Namun, tak seorang pun di rumah itu terburu-buru menyebutnya selesai.
Setiap hari Minggu, setelah halaman disapu bersih dan daun-daun kering dimasukkan ke dalam karung, Agus Suherman akan menggelar selembar koran bekas di teras. Usianya hampir enam puluh, tetapi tubuhnya masih tegap karena terbiasa bekerja dengan tangan sendiri. Rambut yang dulu hitam kini lebih banyak dihuni warna perak, sementara kerutan-kerutan halus di sudut matanya justru membuat senyumnya tampak semakin teduh.
Kotak perkakas diletakkannya di samping lutut. Gagang plastiknya telah retak pada satu sisi, tetapi engselnya masih membuka dan menutup dengan baik. Sebuah tutup toples bekas biskuit disiapkan di sebelahnya untuk menampung baut-baut kecil, kebiasaan yang tak pernah berubah sejak anak-anaknya masih sekolah dasar.
Tak ada daftar pekerjaan.
Tak ada benda yang lebih penting daripada yang lain.
Agus hanya memilih mana yang hari itu lebih dulu memanggil perhatiannya. Dan pagi itu, giliran sebuah kipas angin.
Ia membaringkannya perlahan di atas koran, membuka baut pertama dengan gerakan yang nyaris tak menimbulkan suara. Tangannya bekerja pelan, penuh ukuran. Seolah-olah yang sedang disentuhnya bukan benda yang rusak, melainkan sesuatu yang lebih dulu ingin dipahami sebelum diputuskan nasibnya.
“Dari tadi masih sama, pak?”
Suara wanita datang dari arah dapur.
Yanti Nurhayati muncul sambil mengeringkan tangan pada celemek yang melingkari pinggangnya. Rambutnya mulai dipenuhi uban yang disembunyikan sekadarnya di balik sanggul sederhana. Wajahnya menyimpan lelah yang akrab bagi wanita yang bertahun-tahun mengurus rumah, tetapi sorot matanya tetap seterang orang yang selalu tahu apa saja yang sedang terjadi di dalam keluarganya.
Agus mendongak sebentar.
“Masih, bu.”
Yanti melirik kipas yang sudah terbuka bagian belakangnya.
“Kalau rusaknya separah itu, nggak mau beli baru? Yang murah-murah aja.”
Agus tersenyum kecil. “Belum tentu separah itu, bu.”
Yanti menggeleng pelan, seperti seseorang yang sudah terlalu lama kalah oleh jawaban yang sama.
“Kalau nunggu bapak, rumah ini enggak bakal pernah kosong dari barang rusak.”
“Lho nggak apa-apa, biar rame.”
Jawaban itu membuat Yanti mengembuskan tawa pendek sebelum kembali ke dapur.
“Asal jangan protes kalau nanti nggak ada tempat naruh barang.”
Agus tidak menjawab lagi. Ia hanya meniup pelan debu yang menempel di sela-sela dinamo, lalu membersihkannya dengan kuas kecil yang bulunya mulai mekar karena terlalu lama dipakai.
Tak semua yang berhenti bekerja harus segera diganti. Barangkali, beberapa hanya sedang menunggu seseorang bersedia meluangkan sedikit waktu.
Tak lama kemudian, bunyi gagang pintu terdengar dari arah kamar.
Seorang perempuan muda melangkah keluar sambil mengucek sebelah matanya. Rambut hitam sebahunya masih kusut karena tidur, jatuh begitu saja membingkai wajah yang bening tanpa riasan.
Kulitnya sawo matang terang, hidungnya kecil, dan matanya menyimpan bentuk bulan sabit setiap kali ia tersenyum. Sesuatu yang membuat wajahnya tampak ramah bahkan sebelum ia mengucapkan sepatah kata.
Kaus tidur yang kebesaran membuat tubuhnya terlihat lebih mungil daripada usianya yang tiga tahun lagi akan menjadi tiga puluh tahun.
Dinda Lestari.
Si bungsu yang paling sering tertawa di rumah.
Ada orang-orang yang tersenyum karena hidup sedang baik-baik saja, tetapi Dinda berbeda. Ia seperti sudah terbiasa menyimpan senyum lebih dulu, baru setelah itu menghadapi apa pun yang diberikan hari.
Ia berhenti beberapa langkah dari teras. Pemandangan di hadapannya bukan sesuatu yang baru.
Bapak.
Koran bekas.
Kotak perkakas.
Dan barang-barang yang selalu diberi kesempatan sedikit lebih lama daripada yang diberikan orang lain.
Dinda berjalan mendekat.
“Pak?”
“Hmm?”
“Obeng minusnya mana?”
“Tadi ada.”
“Itu juga Dinda tahu.”
“Ya syukur.”
Dinda ikut berjongkok di samping bapaknya sambil membuka kotak perkakas. Tang kombinasi dipindahkan. Meteran digeser. Isolasi listrik diangkat. Obeng plus ada dua. Kunci pas lengkap.
Obeng minus tetap tidak kelihatan.
“Pak, ini serius, deh.”
Agus masih sibuk membuka penutup kipas.
“Coba cari lagi, Din.”
“Udah, Pak.”
“Belum, Din.”
“Pak...”
“Nah.”
Agus akhirnya menoleh.
“Kamu kalau masih ngomong 'udah', biasanya memang belum.”
Dinda mendesah pelan. Ia membongkar isi kotak itu sekali lagi, kali ini lebih pelan. Baut-baut kecil disentuh satu per satu. Lap bekas diangkat. Bahkan tutup toples biskuit ikut dibalik.
Tetap tidak ada.
“Nah, kan.” Agus tersenyum tipis. “Nyari pakai mata.”
“Lah?”
“Coba pakai tangan.”
Dinda mengernyit. “Ishh… emangnya beda?”
“Beda.”
Walau masih bingung, ia menurut. Tangannya menyusuri sela-sela koran yang terlipat di bawah badan kipas. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang dingin.
“Eh…”
Ia menarik sebuah obeng bergagang kuning dari balik lipatan koran.
“Lho? Ketemu.”
Agus mengulurkan tangan. “Nah, ‘kan.”
Dinda menyerahkan obeng itu sambil menyipitkan mata.
“Bapak tadi udah tahu, ya?”
“Iya.”
“Kok enggak bilang Dinda?”
Agus memasang ujung obeng pada kepala baut. “Kalau Bapak kasih tahu terus...” Beliau memutar obeng perlahan. “...nanti kamu nggak pernah nemu sendiri.”
Dinda terdiam beberapa detik. Lalu terkekeh pelan.
“Kalau dipikir-pikir, bapak tuh emang nyebelin tingkat dewa ya."
Agus tertawa kecil. “Masih mending.”
“Mending apa?”
“Masih dicari.”
Dinda ikut tertawa.
Angin pagi mengangkat sedikit sudut koran bekas di bawah kipas. Di atas tutup toples, baut-baut kecil tetap tersusun rapi, menunggu gilirannya kembali ke tempat semula. Sementara tangan Agus terus bekerja dengan ritme yang sama.
Pelan.
Teliti.
Seolah tidak ada sesuatu yang pantas disimpulkan terlalu cepat.
***
Baut terakhir kembali ke tempatnya. Agus memutar obeng sekali lagi, memastikan kepalanya pas menempel pada badan kipas. Tidak terlalu kencang. Tidak pula longgar.
“Coba colokin, Din.”
Dinda meraih steker yang menjuntai di lantai. Kabelnya sudah menguning dimakan usia. Ia memasukkannya ke stopkontak di tiang teras, lalu menoleh ke arah bapaknya.
“Udah, pak.”
Agus memutar kenop ke angka satu. Tak terjadi apa-apa. Kipas itu tetap diam.
Dinda menahan napas. “Baterainya habis kali.”
Agus melirik sekilas. “Kipas nggak pakai baterai, Din.”
“Iya juga.” Dinda nyengir kecil.
Agus memutar kenop sekali lagi.
Masih sunyi.
Bapak tidak mengembuskan napas kecewa. Tidak pula langsung membongkar kembali. Tangannya hanya berpindah ke kepala kipas, lalu mendorong baling-baling itu perlahan dengan ujung jari.
Baling-baling berputar satu kali.
Lalu dua kali.
Motor kecil di dalamnya mendengung lirih.
Beberapa detik kemudian, putarannya mulai menemukan iramanya sendiri. Makin lama makin stabil, hingga akhirnya angin tipis menyapu sudut koran yang terbentang di lantai.
Dinda tersenyum lega. “Akhirnya...”
Agus mengangguk pelan. “Masih mau dia.”
Bukan kalimat yang ditujukan kepada Dinda. Bukan pula kepada dirinya sendiri. Seolah-olah beliau benar-benar sedang berbicara kepada kipas angin tua itu.
Dinda memperhatikan baling-baling yang kini berputar tenang.
“Padahal ibu udah berkali-kali nyuruh beli baru.”
“Ibumu enggak salah, sih.”
“Ya terus?”
“Iya, kalau beli baru memang lebih cepat.”
“Terus kenapa bapak enggak beli?”
Agus terdiam sesaat. Pandangannya masih mengikuti putaran kipas.
“Tapi yang ini belum selesai dicoba. Harus dicoba dulu, Din.”
Tak ada lagi yang dikatakan setelah itu.