JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #2

Jaket Biru

Bab 2

JAKET BIRU

 

 

Awal Juni 2024…

 

Kalender di ruang tengah telah berganti selembar. Angka-angka merah yang menandai hari Minggu berpindah ke tempat lain, sementara debu tipis kembali singgah di bingkai jam dinding yang masih terlambat tujuh menit.

Keran di halaman belakang belum juga berhenti menetes. Radio tua di atas rak masih terdiam, menyimpan lagu terakhir yang tak pernah selesai diputar.

Rumah itu nyaris tak berubah.

Panci tetap lebih dulu berbunyi dari alarm siapa pun. Aroma bawang putih yang ditumis memenuhi dapur sebelum matahari benar-benar naik. Agus masih menyapu halaman setiap pagi sambil sesekali berhenti memandangi sesuatu yang menurut orang lain mungkin sudah waktunya dibuang. Yanti masih mengomel ketika menemukan gelas yang bibirnya sedikit retak dipakai membuat teh.

Hidup, rupanya, pandai sekali berpura-pura baik-baik saja.

Sudah tiga puluh satu hari sejak Dinda kehilangan pekerjaannya, tetapi belum ada seorang pun di rumah yang mengetahui itu.

Radio tua di ruang tengah masih menunggu diperbaiki. Dinda pernah hampir berhasil membuatnya berbunyi lagi.

Hanya hampir.

Salah satu kabel di bagian dalam ternyata sudah putus. Ia sempat beberapa kali mencoba menyambungnya, tetapi setiap knop diputar, radio itu hanya menghadiahkan desir pendek sebelum kembali tenggelam dalam sunyi.

Bapak tidak pernah menyuruhnya buru-buru.

“Yang lagi diperbaiki,” kata beliau suatu sore, “biasanya lebih butuh sabar daripada tenaga.”

Kalimat itu masih diingat Dinda. Meski akhir-akhir ini, ia mulai merasa mungkin ada beberapa hal yang memang tidak bisa diperbaiki hanya dengan kesabaran.

Di depan lemari, ia mengambil kemeja biru muda yang sama seperti kemarin. Dan kemarin sebelumnya.

Kerahnya mulai kehilangan kekakuan. Lipatan di siku kiri tak lagi setajam ketika pertama kali dibeli. Meski begitu, setiap malam kemeja itu tetap disetrika, digantung rapi di balik pintu kamar, lalu dikenakan kembali sebelum matahari benar-benar terbit.

Seolah-olah masih ada meja kerja yang menunggunya.

Seolah-olah masih ada kartu identitas yang tergantung di lehernya.

Seolah-olah surat elektronik yang datang tiga puluh satu hari lalu tidak pernah ada.

“Dinda.”

Suara Yanti terdengar dari dapur.

“Nasinya udah, nih. Ayo sarapan dulu.”

“Iya, Bu.”

Dinda menatap dirinya sendiri sesaat di cermin. Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu masih tampak sama seperti sebulan lalu. Rambut hitam sebahunya diikat sederhana. Senyumnya tetap mudah muncul, meski akhir-akhir ini lebih sering dipakai untuk menutupi sesuatu daripada menyambut sesuatu.

Lalu ia membuka pintu kamar.

Dan kembali menjadi anak yang selama ini dipercaya sedang berangkat bekerja.

 

***

 

Ketika duduk di meja makan, semuanya terasa begitu biasa hingga sesaat Dinda hampir percaya bahwa hidupnya memang belum berubah.

Agus sedang mengoleskan selai tipis-tipis di atas roti tawar, sementara Yanti sibuk memindahkan nasi hangat ke dalam kotak makan bertingkat.

“Gimana radionya, Din?” tanya Agus.

Dinda mengangkat bahu kecil. “Masih kalah sama Dinda, pak.”

Agus tertawa pelan. “Yang bener, ah.”

“Lho?”

“Kalau radio bisa ngalahin kamu, nanti yang pusing malah bapak.”

Dinda ikut tertawa.

Humor Agus selalu datang tanpa aba-aba. Tidak pernah berusaha menjadi lucu, tetapi hampir selalu berhasil membuat orang di depannya lupa pada beban yang sedang dipikul.

Yanti meletakkan kotak makan itu di samping piring Dinda.

“Hari ini jangan lupa dimakan ya, Din.”

“Iya, Bu.”

“Yang kemarin habis? Belakang ini ibu sering tidur lebih cepat, nggak kuat nungguin kamu.”

Dinda mengangguk. “Nggak apa-apa, bu. Dinda bisa nyuci sendiri tempat bekalnya, kok.”

Jawaban itu keluar begitu ringan. Begitu terbiasa.

Padahal kotak makan kemarin masih tersimpan di dasar tasnya.

Semalam, sebelum masuk rumah, Dinda membuang seluruh isinya di tempat sampah dekat stasiun. Ia mencuci kotaknya diam-diam di kamar mandi sebelum Yanti sempat melihat.

Setiap kebohongan ternyata selalu melahirkan pekerjaan baru. Ia harus mengingat apa yang sudah dikatakannya. Harus menjaga agar cerita hari ini tidak bertabrakan dengan cerita kemarin. Harus memastikan semua orang tetap percaya pada kehidupan yang sebenarnya sudah tidak lagi ia jalani.

Yang paling melelahkan dari berbohong bukanlah mengucapkannya. Melainkan merawatnya agar tetap hidup.

Sesudah sarapan, Agus berdiri lebih dulu. Kebiasaan itu tidak pernah berubah. Beliau selalu mengantar Dinda sampai ke pagar, meski jaraknya hanya beberapa langkah.

Motor yang dipakai Dinda masih motor yang sama. Motor yang dibeli ketika surat penerimaan kerja pertamanya datang beberapa tahun lalu.

“Pelan-pelan, Din.”

“Iya, pak.”

“Kayaknya nanti siang bakal hujan.”

“Aku bawa jas hujan, kok.”

Agus mengangguk pelan. Tangannya menepuk bahu Dinda sebentar. Gerakan kecil yang selalu membuat perjalanan terasa sedikit lebih ringan daripada seharusnya.

Motor menyala. Dinda melambaikan tangan. Lalu meninggalkan gang sempit tempat rumah itu berdiri.

Di kaca spion, Agus masih berdiri di depan pagar.

Seperti selalu.

Menunggu sampai motor anak bungsunya benar-benar hilang di tikungan.

Hanya Dinda yang tahu bahwa pagi itu, seperti tiga puluh pagi sebelumnya, ia tidak sedang berangkat menuju kantor.

 

***

 

Hari-hari berikutnya mulai kehilangan nama. Yang membedakan Senin dari Selasa hanya warna kotak kecil di kalender. Selebihnya, pagi datang dengan cara yang sama, jalan yang dilalui tetap sama, dan sore selalu pulang membawa jawaban yang serupa.

Bangun.

Merapikan tempat tidur.

Mandi.

Mengenakan kemeja kantor.

Sarapan.

Berangkat.

Melamar pekerjaan.

Menunggu.

Ditolak.

Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Awalnya Dinda masih menghitung: Lamaran pertama. Kelima. Kesepuluh. Kedua puluh.

Lama-kelamaan ia berhenti mencatat. Surat elektronik penolakan datang lebih sering daripada panggilan wawancara. Kalimat-kalimatnya hampir sama, hanya nama perusahaan dan tanda tangan di bagian bawah yang berganti.

 

“Kami menghargai waktu yang telah Anda luangkan...”

 

“Saat ini kami memutuskan untuk melanjutkan proses dengan kandidat lain...”

 

Dinda membaca semuanya sampai selesai.

Lalu menutup laptop.

Besok, ia akan mengirim lamaran lagi.

 

***

 

Siang hari, perpustakaan menjadi tempat yang paling sering ia datangi. Ruangan itu dingin, tenang, dan tidak pernah bertanya mengapa seseorang duduk sendirian dari pagi hingga sore.

Sesekali ia berpindah ke taman kota ketika matanya mulai lelah menatap layar. Duduk di bangku kayu sambil melihat orang-orang berlalu-lalang. Anak sekolah yang baru pulang. Pegawai kantor yang keluar membeli makan siang. Seorang bapak mengajari anaknya bersepeda di jalur pejalan kaki.

Jakarta tidak pernah benar-benar diam.

Barangkali itu sebabnya kota ini terasa begitu sepi bagi orang yang sedang kehilangan tujuan.

Menjelang sore, Dinda kembali mengenakan ranselnya, lalu pulang pada jam yang sama seperti ketika ia masih bekerja.

Di rumah, Yanti tidak pernah curiga.

“Capek, Din?”

“Lumayan, bu.”

“Bekalnya udah dimakan?”

“Udah.”

“Enak?”

“Selalu enak kayak biasanya.”

Kebohongan, pikir Dinda, rupanya tumbuh seperti benang kusut. Sekali ditarik, ujungnya tak lagi mudah ditemukan.

 

***

 

Malam adalah satu-satunya waktu ketika ia tidak perlu berpura-pura.

Sesudah makan malam, Agus hampir selalu duduk di teras dengan kotak perkakasnya. Minggu itu, yang dibongkar adalah sebuah termos tua. Pegangannya mulai longgar. Tutupnya tak lagi rapat.

“Sayang kalau dibuang,” kata Agus sambil membuka baut kecil di bagian bawah.

Dinda duduk di sebelahnya membawa radio yang belum juga berhasil ia hidupkan. Obeng minus masih terselip di sela-sela rangka plastiknya.

Dua orang itu bekerja dalam diam.

Hanya sesekali terdengar bunyi logam beradu pelan atau baut kecil yang bergulir di atas lantai semen.

Agus melirik radio di pangkuan Dinda.

“Masih belum mau bunyi, Din?”

Dinda menggeleng kecil. “Belum, pak.”

“Bagian mana yang rusak?”

“Kayaknya jalurnya ada yang putus.”

Agus mengangguk pelan. “Kalau mata kita capek, biasanya yang putus malah enggak kelihatan.”

Dinda berhenti sejenak. Ujung solder di tangannya menggantung beberapa senti di atas papan rangkaian.

Agus melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Tak ada maksud apa-apa dalam kalimat itu.

Hanya obrolan tentang radio.

Namun, entah mengapa, Dinda merasa seperti sedang dinasihati.

Beberapa menit berlalu. Termos itu akhirnya kembali utuh.

Agus menuang sedikit air ke dalamnya, membaliknya pelan, lalu tersenyum puas ketika tak setetes pun merembes keluar.

“Nah, ‘kan. Masih bisa ini.”

Lihat selengkapnya