Helm itu masih terbungkus plastik bening. Lapisan pelindung di permukaan mikanya belum dilepas. Di sudut kiri masih menempel stiker kecil berisi petunjuk pemakaian yang biasanya langsung dibuang begitu seseorang yakin barang itu memang akan dipakai.
Helm itu belum pernah keluar dari kamar. Belum pernah terkena matahari. Belum pernah mengenal debu jalanan. benda itu masih tampak seperti benda yang sedang menunggu seseorang berubah pikiran.
Di halaman depan, motor Dinda tetap terparkir di tempat yang sama. Di dalam bagasinya tersimpan jaket biru bertuliskan GOON yang datang beberapa hari sebelumnya. Kainnya masih menyimpan bau pabrik. Lipatan di bagian lengannya belum sempat berubah mengikuti bentuk tubuh pemiliknya.
Tidak ada yang benar-benar baru di rumah itu. Yang baru hanya keputusan-keputusan yang belum sempat diucapkan.
Dinda duduk di tepi ranjang. Kardus cokelat bekas pembungkus helm masih terbuka di dekat kakinya. Lakbannya menggantung miring pada salah satu sisi, seolah semalam ada seseorang yang membukanya dengan ragu-ragu, lalu meninggalkannya sebelum benar-benar selesai.
Ia mengambil helm itu dengan kedua tangan.
Ringan.
Jauh lebih ringan daripada bayangan yang selama beberapa hari terakhir memenuhi kepalanya.
Ponsel di samping bantal menyala pelan. Pemberitahuan itu sebenarnya sudah berkali-kali ia baca.
Selamat datang di GOON.
Di bawahnya tertera daftar perlengkapan yang harus dipenuhi sebelum akun diaktifkan:
Jaket.
Helm pengemudi.
Helm penumpang.
Motor sudah ada.
Jaket sudah datang.
Helm yang biasa ia pakai pun telah tergantung di dekat pintu.
Yang belum pernah terpikir olehnya hanyalah satu benda sederhana itu.
Helm cadangan.
Dinda mengembuskan napas pelan. Ternyata memulai kehidupan baru kadang tidak ditandai oleh sesuatu yang besar. Kadang hanya oleh sebuah barang yang sebelumnya tak pernah merasa perlu dimiliki.
***
Kemarin sore, Dinda menghabiskan waktu hampir setengah jam di sebuah toko perlengkapan sepeda motor. Deretan helm memenuhi dinding dari lantai hingga mendekati langit-langit.
Hitam.
Putih.
Merah.
Biru.
Semuanya tampak serupa, sampai ia harus melihat label harganya.
Seorang pegawai laki-laki menghampiri.
“Nyari helm, Mbak?”
“Mmm… iya.”
“Buat Mbak-nya?”
Dinda sempat terdiam. Lalu menggeleng pelan.
“Bukan.”
Pegawai itu mengangguk seolah sudah mengerti.
“Helm penumpang, ya?”
“Iya.”
Lelaki itu mengambil satu helm berwarna hitam dof.
“Kalau buat kerja harian, yang ini enak. Busanya tebal, kacanya juga lumayan jernih.”
Dinda mencobanya.
Pas.
Ringan.
Nyaman.
Lalu pandangannya turun perlahan ke label harga yang menggantung di bawahnya. Tangannya ikut turun.
“Mmm… kalau yang di bawah ini ada?”
Lelaki itu tidak tampak tersinggung. Ia hanya mengembalikan helm tadi ke rak, lalu mengambil satu lagi dari baris paling bawah.
“Kalau yang ini fiturnya enggak sebanyak tadi, tapi tetap aman.”
Dinda menerima helm itu. Mencobanya sebentar.
Tidak seempuk yang pertama.
Tidak seringan yang pertama.
Namun, ketika melihat harganya, napasnya terasa sedikit lebih lega.
“Yang ini aja, Mas.”
Lelaki itu tersenyum.
“Siap.”
Mungkin tak semua orang datang ke toko untuk mencari barang terbaik. Sebagian datang hanya untuk mencari sesuatu yang masih sanggup mereka bawa pulang.
***
Sesampainya di rumah, helm itu tidak langsung ia keluarkan. Kardusnya diselipkan begitu saja ke bawah tempat tidur.
Baru pagi ini ia membukanya kembali. Plastik pembungkus itu berkeresek pelan ketika dilepaskan.
Dinda memandang pantulan wajahnya sendiri di mika bening yang masih baru. Wajah yang sama, tetapi hidup yang mulai berbeda.
Di dalam lemari, sepasang sepatu kerja yang dibelinya dengan gaji pertama masih tersimpan rapi. Kulitnya masih mengilap. Talinya masih utuh. Seolah setiap hari tetap menunggu seseorang mengajaknya berangkat.
Dinda menoleh sebentar. Lalu kembali memandang helm di tangannya.
Dulu ia membeli sepatu itu untuk memasuki sebuah gedung perkantoran. Namun, hari ini ia membeli helm ini untuk memasuki jalan-jalan yang bahkan belum pernah ia kenal.
Ia menarik ujung plastik pelindung di permukaan mika.
Perlahan.
Bunyi tipis plastik yang terkelupas memenuhi kamar yang masih sunyi. Sekilas terdengar seperti suara yang sangat biasa. Namun, bagi Dinda, bunyi itu terasa seperti sebuah permulaan.
Bukan karena hidupnya akhirnya menjadi lebih mudah. Melainkan karena, untuk pertama kalinya sejak kehilangan pekerjaan, ia berhenti menunggu hidupnya kembali seperti dulu.
Dan mulai bersedia menjalani hidup yang ada di depannya.
***
Pukul delapan lewat sepuluh.
Dinda memarkir motornya di bawah pohon ketapang di dekat sebuah minimarket. Beberapa meter di depannya, dua pengemudi GOON tampak berbincang sambil menyeruput kopi dari gelas kertas. Seorang lagi duduk di atas motornya, sesekali melirik layar ponsel.
Dinda memilih berhenti agak jauh.
Belum terbiasa.
Belum berani merasa menjadi bagian dari mereka.
Jaket biru yang semalam disembunyikannya di bagasi kini melekat di tubuhnya. Bahannya terasa lebih tebal daripada kemeja kantor yang biasa ia kenakan. Resletingnya sudah ditarik sampai ke leher, meski udara pagi belum benar-benar dingin.
Ia mengeluarkan ponsel.
Aplikasi GOON terbuka.
Di bagian bawah layar, sebuah tombol hijau menunggu disentuh.
ONLINE
Jempolnya menggantung beberapa saat.
Ia teringat Bapak. Terbayang Ibu yang pagi tadi masih membenarkan kerah bajunya, belum tahu bahwa hari ini anak bungsunya berangkat bukan menuju gedung perkantoran.
Dinda menarik napas pelan.
Lalu menekan tombol itu.
Layar berubah.
Anda sedang ONLINE.
Hanya satu kalimat. Sesudahnya tidak terjadi apa-apa.
Ia menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Pengemudi di seberang jalan sudah lebih dulu berangkat setelah ponselnya berbunyi nyaring. Yang lain menyusul beberapa menit kemudian.
Dinda masih di tempat.
Sepuluh menit.
Ia mulai membuka kembali aplikasi itu. Barangkali ada langkah yang terlewat. Mungkin ia lupa menyalakan lokasi. Atau sinyalnya buruk.
Semuanya tampak baik-baik saja.
Lima belas menit.
Seorang pengemudi yang sedari tadi berhenti di belakang Dinda akhirnya menghampiri.
“Baru gabung, Mbak?”
Dinda sedikit terkejut.
“Hah?”
“Ini hari pertama, Mbak?”
“Iya.”
Lelaki itu mengangguk seolah sudah menduga jawabannya.
“Kelihatan.”
Dinda tertawa kecil. “Kelihatan banget, ya?”
“Soalnya dari tadi yang dilihatin aplikasinya terus. Motornya nggak gerak-gerak.”
Mereka sama-sama tersenyum.