Kotak makan bertingkat itu sudah lebih dulu berada di atas meja bahkan sebelum Dinda selesai mengenakan jam tangan.
Tingkat paling bawah selalu untuk nasi. Di atasnya lauk. Hari itu tempe orek, telur dadar yang dipotong empat, dan beberapa irisan mentimun yang diselipkan di sudut agar kotaknya tidak terlihat terlalu penuh. Sementara tingkat paling atas hanya berisi potongan pepaya.
Yanti menutup setiap tingkat dengan bunyi klik yang nyaris tak terdengar. Jemarinya bergerak cepat, seperti pekerjaan yang telah diulang ribuan kali hingga tak lagi membutuhkan pikiran.
Dinda memperhatikan sebentar.
“Bu?”
“Hmm?”
“Kayaknya kebanyakan nggak, sih?”
Yanti tetap sibuk membungkus sendok dengan tisu.
“Yang kebanyakan apanya?”
“Nasinya.”
“Nanti kamu lapar.”
“Kalau lagi enggak?”
“Ya dibawa pulang aja, Din.”
Jawabannya begitu ringan. Seolah membawa pulang bekal yang tidak habis hanyalah bagian biasa dari sebuah hari.
Dinda tersenyum kecil. “Ibu kalau masak buat satu anak kayak masak buat tiga anak. Di rumah ini tuh udah nggak ada Kang Rizki sama Teh Siska, bu.”
Yanti akhirnya menoleh. “Ibu tahu. Tapi, ‘kan… kalau masaknya sedikit, nanti kamu bilang ibu pelit.”
“Lho, kapan?”
“Yang suka ngomong emang kadang nggak nyadar.”
Dinda tertawa pelan. “Iya, iya, deh. Dinda yang salah.”
“Ya memang.”
Yanti menerima kemenangan kecilnya tanpa banyak gaya. Ia mendorong kotak makan itu ke arah anak bungsunya.
“Nih, pegang.”
Kotak itu masih hangat. Hangat yang dibawa nasi yang baru matang, juga telapak tangan seorang ibu yang setiap pagi selalu percaya anaknya akan membuka tutup kotak itu saat jam makan siang tiba.
Dinda menerimanya dengan kedua tangan. Entah mengapa, pagi itu benda sederhana itu terasa sedikit lebih berat.
Suara langkah sandal terdengar dari arah teras. Agus masuk sambil mengelap kedua tangannya dengan lap lusuh yang selalu tersampir di bahunya. Ujung celananya masih dipenuhi debu halus. Entah baut apa lagi yang baru saja ia kencangkan.
“Udah siap, Din?”
“Iya, pak.”
Agus melirik kotak makan di tangan Dinda. “Wah, bekalnya banyak amat. Kayaknya ibumu takut kamu pulang tinggal tulang.”
“Hush! Bapak! Nggak boleh ngomong gitu. Pamali,” protes ibu.
Dinda terkekeh. “Lagian bapak ada-ada aja, deh. Emangnya Dinda anak kudanil?”
“Lho?” Agus mengangguk mantap.
“Kudanil mah makannya lebih banyak.”
Dari dapur terdengar suara Yanti. “Denger tuh. Bapaknya sendiri yang ngajarin.”
Agus pura-pura batuk. “Kan bercanda, bu.”
“Itu artinya bercanda kita nggak lucu, pak.”
“Ya berarti gagal.”
Dinda menutup mulutnya menahan tawa.
Rumah itu kembali dipenuhi bunyi-bunyi kecil yang sudah sangat dikenalnya. Suara sendok beradu dengan piring. Keran yang dibuka sebentar lalu ditutup lagi. Langkah sandal Bapak. Omelan Ibu yang selalu terdengar lebih lembut daripada maksudnya.
Semua masih sama.
Seolah hidup tidak sedang berubah ke mana-mana.
Dinda menyampirkan tas ke bahu. Kotak makan itu dimasukkan perlahan ke dalamnya.
Yanti masih percaya bekal itu akan dibuka di ruang makan sebuah kantor. Padahal, hampir setiap siang, kotak itu hanya berpindah dari satu bangku taman ke bangku taman lain, dari perpustakaan ke warung kecil, dari tas ke pangkuan Dinda.
Kadang dibuka.
Sering kali tidak.
Dan setiap sore, sebelum sampai di rumah, Dinda akan membuang isinya diam-diam. Lalu membawa pulang kotak makan yang telah kosong.
Seolah-olah ia juga membawa pulang hari yang berjalan sebagaimana mestinya.
***
Matahari telah bergeser jauh dari pucuk-pucuk pohon ketika Dinda menyelesaikan pesanan ketiganya hari itu.
Ia baru saja hendak menekan tombol offline untuk beristirahat ketika layar ponselnya kembali menyala.
GOON Internal Delivery
Alisnya sedikit terangkat. Pesanan seperti ini belum pernah muncul sejak ia mulai bekerja. Ia membuka rinciannya perlahan.
Pengambilan: Gudang Operasional GOON.
Tujuan: Kantor Pusat GOON.
Barang: Dokumen proyek, konsumsi rapat, sampel material.
Dinda membaca semuanya sekali lagi.
Bukan makanan. Bukan barang belanja. Bukan pula paket pelanggan.
Untuk pertama kalinya, ia diminta mengantarkan sesuatu milik perusahaan tempat ia bekerja sendiri.
Jempolnya menekan tombol Terima.
Gudang operasional tidak terlalu jauh dari jalan utama. Di sana, seorang petugas sudah menunggu di depan pintu dengan beberapa barang yang telah disusun rapi: dua kardus tipis, sebuah tabung berisi gulungan gambar kerja, dan empat kotak makan kertas yang diikat tali rafia.
“Internal, ya, Mbak?”
“Iya, Pak.”
Petugas itu mencocokkan nomor pesanan di layar ponselnya, lalu menyerahkan tabung gambar terlebih dahulu.
“Yang ini jangan sampai ketekuk, ya.”
“Iya.”
“Kalau gedungnya bikin bingung, Mbak masuk lewat pintu samping aja. Depannya lagi dibongkar.”
“Oh, gitu.” Dinda mengangguk. “Oke, Pak. Makasih.”
Ia menyusun barang-barang itu satu per satu ke dalam boks motornya. Kardus lebih dulu. Kotak makan di atasnya. Tabung gambar diletakkan paling akhir agar tetap lurus sepanjang perjalanan.
Sesudah memastikan semuanya tidak bergeser, ia menutup boks perlahan. Lalu kembali menyalakan motor.
***
Bangunan itu sudah terlihat bahkan sebelum suara aplikasi memintanya berbelok.
Logo GOON berwarna biru menempel besar di bagian depan gedung.
Dari kejauhan, bangunan itu tampak seperti sedang berganti kulit. Sebagian fasad tertutup jaring hijau. Perancah besi berdiri rapat mengelilingi sisi kanan bangunan. Truk-truk pengangkut material keluar masuk tanpa banyak jeda.
Seorang petugas keamanan mengarahkan Dinda menuju area parkir sementara.
“Mbak nganter kiriman internal?”
“Iya, Pak.”
“Masuknya lewat samping.”
“Iya. Makasih, Pak.”
Begitu melewati pagar proyek, suasana langsung berubah. Suara bor listrik bersahut-sahutan dengan denting logam. Bau cat baru bercampur debu kayu memenuhi udara.
Beberapa pekerja mengangkat lembaran gipsum di atas bahu. Yang lain mendorong troli berisi keramik. Seseorang berteriak meminta meteran. Di sudut lain, suara mesin pemotong kayu memekakkan telinga selama beberapa detik sebelum kembali berhenti.
Dinda melangkah pelan. Entah mengapa, langkahnya terasa lebih hati-hati dibanding ketika memasuki restoran atau pusat perbelanjaan.
Di balik dinding kaca lobi, langit-langit masih terbuka. Kabel-kabel listrik menjuntai seperti urat yang belum selesai disusun. Lantai ditutupi lembaran pelindung berwarna abu-abu.
Beberapa meja kerja dipindahkan ke sudut ruangan, sementara orang-orang berlalu-lalang membawa map, gulungan gambar, dan cangkir kopi yang nyaris tak sempat diminum.
Tidak ada yang mengenalnya.