Kursi itu selalu mengeluarkan bunyi lebih dulu daripada orang yang duduk di atasnya.
Krek
Pendek.
Serak.
Bunyi kayu yang telah terlalu lama dipakai menyambut tubuh-tubuh yang pulang.
Sore hari, bunyi itu ada.
Pagi hari, bunyi itu juga ada.
Kadang terdengar ketika Bapak membaca koran. Kadang saat mengupas mangga. Kadang hanya ketika beliau duduk diam memandangi ujung gang yang mulai ramai oleh anak-anak pulang mengaji.
Bunyinya tidak pernah benar-benar hilang.
Begitu pula kursinya.
Cat cokelat di sandarannya sudah banyak terkelupas. Sudut dudukannya memutih karena sering bergesekan dengan kain celana. Salah satu kakinya sedikit lebih pendek daripada yang lain, sehingga setiap kali bergeser selalu ikut bergoyang pelan.
Dinda pernah bertanya sejak kapan kursi itu seperti itu.
Bapak menjawab dengan mengangkat bahu. “Lupa.”
Seolah kursi itu memang sudah menjadi bagian dari rumah, sama seperti kusen pintu atau pohon jambu di halaman.
Pagi itu Agus kembali berjongkok di depannya. Kain lap tersampir di bahu. Obeng minus terselip di saku celana. Rambutnya yang mulai dipenuhi uban bergerak pelan tertiup angin dari halaman. Di balik kacamatanya, sepasang mata yang mulai dipenuhi garis usia tetap meneliti setiap baut dengan kesabaran yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Dari dalam rumah, Dinda muncul sambil mengikat rambutnya asal. Ia berhenti di ambang pintu, lalu menggeleng kecil.
“Lagi, pak?”
Agus mendongak sebentar. “Lagi, dong.”
“Bapak tuh, ya. Apa enggak capek, pak?”
“Belum.”
Dinda berjalan mendekat. Tangannya sengaja menggoyang sandaran kursi, lalu bunyi itu muncul kembali.
“Nih, bunyinya aja udah protes.”
Agus terkekeh pelan. “Dia bukan protes, Din.”
“Ya terus?”
“Cuma ngasih tahu kalau dia masih ada. Nggak ke mana-mana.”
Dinda mengernyit. “Dinda nggak pernah ngerti omongan bapak kalau lagi ngomongin benda mati kayak gini.”
“Kalau enggak bunyi, baru bapak nggak mengerti.”
Dinda tertawa kecil. “Bapak tuh selalu punya jawaban.”
“Ya masa punya pertanyaan terus.”
“Kalau diganti aja gimana, pak?”
Agus menatap kursi itu sebentar. “Lha, buat apa?”
“Kan goyang. Buat apa juga pake kursi yang goyang begini? Bahaya.”
“Iya.”
“Bunyinya juga ngeri.”
“Iya.”
“Nanti didudukin ancur, pak. Jatoh, pak. Takut.”
“Ya kalau jatuh, bangun, Din. Berdiri lagi.”
Agus memasukkan ujung obeng ke kepala baut. Memutarnya pelan.
Sekali.
Dua kali.
Tuk.
Baut berhenti.
Agus menggoyang kursi itu dengan kedua tangannya. Masih bergerak sedikit. Namun, tidak sebanyak tadi.
“Nah, ‘kan.”
“Apanya yang nah?”
“Coba duduk.”
Meski takut, Dinda langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi dengan sengaja.
Krek
Ia menoleh cepat. “Nah, ‘kan. Masih bunyi, pak.”
Agus ikut duduk di kursi sebelah. Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Bunyi.”
“Iya, dari tadi Dinda juga ngomong gitu.”
“Tapi masih kuat.”
Dinda memonyongkan bibir. “Kalau suatu hari enggak kuat, gimana? Hayo?”
Agus memandang kursi itu sebentar. Lalu menjawab pelan, “Ya baru kita pikirin. Tapi sekarang, dia masih mau bertahan, Din.”
Kalimat itu selesai begitu saja. Tidak terdengar seperti nasihat. Tidak pula seperti pelajaran hidup. Hanya seseorang yang sedang membicarakan sebuah kursi.
Dinda menggeleng sambil tertawa. “Bapak tuh, ya.”
“Kenapa?”
“Kalau ngomong soal barang kayak lagi ngomongin orang.”
Agus ikut tertawa. “Memangnya beda? Bapak sih nggak merasa begitu.”
Dinda tidak sempat menjawab, karena mereka sudah lebih dulu tertawa bersama.
Dan bunyi kursi tua itu, entah bagaimana, kembali terdengar pelan di sela-sela tawa mereka. Seolah ia pun sedang ikut mendengarkan.
***
Hari Minggu selalu membuat rumah itu terdengar sedikit berbeda. Bukan karena lebih ramai. Justru karena tidak ada yang tergesa.
Gang kecil di depan rumah tidak dipenuhi deru motor orang-orang berangkat kerja. Rolling door warung baru terangkat setengah ketika matahari mulai naik. Dari dapur, aroma bawang merah yang digoreng bercampur dengan wangi kopi hitam yang baru selesai diseduh.
Di ruang tengah, radio tua itu kembali dibaringkan di atas koran bekas. Penutup belakangnya sudah dilepas. Beberapa baut kecil tersusun rapi di dalam tutup kaleng biskuit yang catnya mulai pudar di bagian tepi.
Dinda duduk bersila di lantai. Obeng minus berputar pelan di sela jemarinya. Pandangannya berpindah dari satu kabel ke kabel lain, seolah berharap ada yang tiba-tiba mengaku bagian mana yang sebenarnya bermasalah.
Tetap tidak ada.
“Hmm.” Ia mengembuskan napas pelan. “Kamu masih ngambek? Kapan nggak ngambeknya, dong?”
Suara Bapak datang dari teras.
Dinda mendongak.
“Radionya nggak suka kali sama kamu.”
Agus masuk sambil mengangkat kursi kayu yang pagi tadi kembali ia bongkar.
“Iya kali, ya. Dari tadi diajak ngomong, diem aja.” Dinda terkekeh. “Kayaknya dia capek denger suara Dinda.”
“Bisa jadi.”
Agus meletakkan kursi itu di atas koran lain, lalu membuka kotak perkakas.
“Kursi bapak juga, nih. Diajak lurus, maunya tetap goyang.”
Dinda tertawa kecil. “Berarti sama-sama keras kepala.”
Agus hanya tersenyum sambil memilih obeng yang pas.
Ruangan kembali dipenuhi bunyi kecil logam bertemu baut. Beberapa saat mereka bekerja tanpa saling bicara.
Dinda mencoba menyambungkan kembali ujung kabel yang terlepas. Knop radio diputar perlahan.
Desis.
Lalu sunyi lagi.
Ia mengembuskan napas lebih panjang.
“Pak?”
“Apa?”
“Kalau memang enggak bisa nyala lagi, gimana?”
Agus tidak langsung menjawab. Tangannya masih sibuk memutar baut.
Sekali.
Dua kali.
Baru kemudian ia mendongak. “Ya berarti belum bisa, Din.”
Dinda mengerutkan dahi. “Enteng banget jawabannya.”
“Ya pertanyaanmu juga enteng, masa mau jawaban yang berat.”
“Bilangnya aja kurang kreatif.”
Agus tersenyum tipis. “Kalau belum bisa, ya dicoba lagi lain waktu, Dinda.”
“Kalau udah dicoba, tapi tetap nggak nyala?”
“Ya baru selesai. Yang penting coba terus sampai kamu merasa selesai.”
Kalimat itu meluncur begitu saja. Sesederhana seseorang menjelaskan cara mengencangkan baut.
Dinda menunduk lagi. Jemarinya masih memegang radio yang belum juga mengeluarkan suara selain desir pendek. Entah mengapa, ia merasa sedang mendengar sesuatu yang bukan tentang radio.
Dari dapur, suara Yanti menyela.
“Dinda.”
“Iya, bu?”
“Tolong ambilin daun bawang ibu yang ketinggalan di teras.”
“Buat apa?”
“Bikin telur dadar.”
“Bikin yang banyak, ya,” sambung Agus.
“Bapak sukanya begitu,” protes Dinda.
Agus langsung mengangkat kepala. “Lho? Emangnya kenapa? Itu makanan kesukaanmu dari kecil.”