JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #6

Pintu yang Tidak Jadi Ditutup

Pintu rumah itu hampir tak pernah langsung tertutup. Selalu ada jeda beberapa detik sebelum bunyi seseorang mengunci pintu terdengar dari arah ruang depan. Jeda yang pendek, nyaris tak berarti, tetapi bertahun-tahun lamanya tak pernah hilang dari kebiasaan Agus.

Setiap malam, sesudah memastikan lampu teras menyala, beliau akan menarik daun pintu hingga hampir rapat. Tangannya tetap bertahan di gagang, sementara pandangannya meluncur ke ujung gang yang mulai lengang.

Kadang hanya seekor kucing melintas.

Kadang juga tetangga yang baru pulang mengangkat tangan.

“Malam, Pak Agus.”

“Eh, malam.”

Kadang tak ada siapa-siapa.

Barulah pintu itu didorong pelan.

Ceklek.

Bunyinya kecil. Namun, selalu datang paling akhir. Seolah rumah itu sengaja memberi dunia beberapa detik tambahan sebelum benar-benar menutup diri.

Kebiasaan itu sudah ada sejak Dinda kecil. Dan, seperti banyak kebiasaan lain di rumah ini, tak seorang pun pernah merasa perlu mempertanyakannya.

Sampai suatu pagi. Dinda baru saja selesai menyapu teras ketika melihat Agus kembali berdiri di depan pintu. Padahal sandal sudah dipakai, kunci motor sudah masuk saku, bahkan Yanti sudah memanggil dari dapur agar teh diminum, keburu dingin.

Namun, tangan Bapak masih menggenggam gagang pintu.

“Pak?”

Agus menoleh. “Hmm?”

“Kok, nggak ditutup aja?”

“Apanya, Din?”

“Ya itu pintunya.”

Agus melirik daun pintu yang masih terbuka sedikit. “Oh.” Ia tersenyum kecil. “Iya juga, ya.”

“Kenapa sih, Pak? Kok tiap hari begitu?”

Agus tampak berpikir beberapa saat. “Bapak juga enggak tahu.”

“Kok, nggak tahu?”

“Beneran, Din.” Ia terkekeh pelan. “Ya mungkin...,” Ia memandang lagi ke arah gang. “...siapa tahu masih ada yang datang. Yang mau bertamu.”

Dinda ikut melihat ke luar. Gang itu lengang. Hanya seorang tukang sayur yang sedang mendorong gerobaknya perlahan.

“Kalau ada orang juga nanti bisa ngetuk.”

“Iya, memang bisa.”

“Atau nanti juga kedengeran kalo ngucap salam.”

“Iya, memang.”

“Terus?”

Agus mengangkat bahu. “Bapak cuma nggak suka nutup pintu buru-buru.”

Jawaban itu selesai di sana.

Tidak terdengar seperti nasihat. Tidak pula seperti kalimat yang sengaja dipikirkan. Hanya kebiasaan seseorang yang terlalu sering memberi waktu beberapa detik lebih lama kepada banyak hal.

Dinda tersenyum. “Bapak tuh emang aneh bin ajaib.”

“Lho, kenapa memangnya?”

“Kayak orang yang selalu percaya kalau setiap hari tuh masih ada kemungkinan.”

Agus tertawa pelan. “Kalau ternyata nggak ada, ya tinggal ditutup.”

Ia mendorong pintu sedikit lagi.

Ceklek.

Bunyi itu terdengar pelan, seperti biasanya.

Dinda memandang pintu yang kini sudah rapat. Entah mengapa, yang terlintas justru kotak masuk surat elektronik di ponselnya. Sudah lebih dari sebulan ia membuka aplikasi yang sama setiap pagi.

Membaca iklan.

Melewati surat penolakan.

Menunggu nama perusahaannya berbeda.

Menunggu satu balasan yang belum pernah datang.

Namun, esok harinya ia tetap akan membukanya lagi.

Seperti pintu rumah itu.

Tak pernah benar-benar ditutup sebelum yakin tak ada lagi yang akan datang.

 

***

 

Ada masa ketika seseorang masih mampu mengingat setiap harinya.

Hari pertama bekerja.

Hari menerima gaji.

Hari pertama diwawancarai.

Hari terakhir masuk kantor.

Sesudah itu, hari-hari perlahan kehilangan namanya. Yang tersisa hanyalah kebiasaan.

Jaket biru yang digantung setiap malam di balik pintu kamar. Helm yang diletakkan di tempat yang sama. Motor yang selalu diparkir menghadap keluar, agar esok pagi tak perlu diputar lagi.

Alarm yang berbunyi pada jam yang sama. Lalu suara mesin yang mengantar Dinda meninggalkan rumah, sementara Bapak masih berdiri di teras dengan secangkir teh hangat di tangan.

“Iya, pak. Dinda berangkat.”

“Hati-hati, Din.”

“Iya.”

Percakapan itu selesai sebelum benar-benar dimulai. Namun, selalu cukup untuk dibawa sampai ke ujung jalan.

Sesudahnya, Jakarta mengambil alih.

Lampu merah.

Kemacetan.

Notifikasi pesanan.

Nama-nama jalan yang berganti lebih cepat daripada sempat diingat.

Kadang pagi terasa pendek karena pesanan datang berturut-turut. Kadang terlalu panjang karena layar ponsel tetap sepi.

Menjelang siang, Dinda biasanya berhenti sebentar.

Mengisi daya ponsel.

Membeli air mineral.

Meregangkan bahu yang mulai pegal.

Lalu kembali menyalakan aplikasi.

Sorenya ia mengejar satu atau dua pesanan terakhir.

Lalu malam membuka laptop. Mengubah satu kalimat di CV. Mengirim satu lamaran lagi.

Menunggu.

Tidur.

Kemudian mengulang semuanya.

Pelan-pelan, ia tak lagi hafal tanggal. Yang lebih mudah diingat justru angka-angka lain.

Persentase baterai.

Sisa bensin.

Jumlah pesanan.

Saldo yang masuk sebelum tengah malam. Dan jumlah lamaran yang terus bertambah, tanpa pernah benar-benar tahu mana yang masih menunggu jawaban.

 

***

 

Sesudah mengantar dua pesanan makanan dan satu map dokumen ke kawasan Kuningan, Dinda membelokkan motornya ke halaman sebuah perpustakaan umum.

Tempat itu sudah mulai dikenalnya. Pendingin ruangannya selalu terlalu dingin. Meja-mejanya selalu cukup lengang menjelang jam makan siang. Dan tak ada yang peduli jika seseorang duduk berjam-jam hanya ditemani segelas air mineral.

Ia memilih tempat di dekat jendela. Laptop yang dulu menemaninya bekerja kembali terbuka di atas meja. Baterainya tak lagi sanggup bertahan lama. Huruf N pada papan ketiknya harus ditekan sedikit lebih keras daripada tombol yang lain.

Awalnya Dinda sering salah mengetik. Kini jarinya sudah hafal. Seperti ia mulai hafal banyak hal yang dulu tak pernah dibayangkannya akan menjadi kebiasaan.

Cara menjawab pertanyaan, Ceritakan tentang diri Anda.

Cara menjelaskan alasan meninggalkan pekerjaan sebelumnya tanpa terdengar sedang mencari belas kasihan.

Cara tersenyum di depan kamera saat wawancara daring, meski beberapa menit sebelumnya ia baru saja melepas jaket yang basah oleh hujan.

Dan cara membaca surat penolakan yang selalu diawali dengan ucapan terima kasih.

Ia membuka folder berisi berkas lamaran.

Daftar namanya memenuhi layar.

CV FINAL

CV FINAL FIX

CV FINAL FIX BARU

CV TERBARU

CV TERBARU FIX

CV TERBARU FIX 2

CV ATS

CV ATS FINAL

Dinda memandangi nama-nama itu beberapa saat.

Lihat selengkapnya