Suara pertama yang keluar dari radio itu bukan lagu. Melainkan desir panjang yang memenuhi ruang tengah.
Lalu hilang.
Beberapa detik kemudian muncul lagi.
Agus tidak buru-buru mematikannya. Ia justru memiringkan kepala sedikit, seolah suara yang terputus-putus itu sedang berusaha mengatakan sesuatu. Jemarinya memutar knop pencari frekuensi setipis napas.
Pelan sekali.
Radio tua itu sudah hampir dua bulan berpindah-pindah dari meja makan ke teras, lalu kembali lagi ke meja makan.
Sudah dibongkar.
Dibersihkan.
Disolder.
Dirakit ulang.
Pagi itu akhirnya ia mau menyala. Hanya saja, suaranya masih tersesat di antara desir.
Dinda yang baru selesai mengikat tali sepatu berhenti di ambang ruang tengah.
“Masih belum dapet, pak? Kalau Dinda sih udah capek ngadepin dia.”
Agus tidak langsung menjawab. Ia terus memutar knopnya sedikit demi sedikit. Desis itu berubah. Samar-samar terdengar suara seseorang.
“...lalu lintas menuju...”
Hilang lagi. Yang tersisa hanya bunyi berisik yang memenuhi ruangan.
Dinda mendekat. “Kayaknya masih rusak deh, pak.”
Agus tersenyum kecil. “Kan kamu yang capek, bukan radionya. Sepertinya dia masih mau bertahan, kok.”
“Tapi itu suaranya putus-putus, pak.”
“Iya.”
“Ya berarti dia juga capek.”
Agus menggeleng pelan. “Belum tentu, Din.”
Dinda terkekeh. “Bapak mah, apa-apa belum tentu.”
Agus ikut tersenyum. “Bantuin sebentar, yuk?”
“Mau dibantuin apa?”
“Coba puter antenanya.”
Dinda meraih antena radio yang menjulur tinggi. Diputarnya sedikit ke kanan.
Desisnya berubah.
“Segini, pak?”
“Kurang.”
Dinda memutarnya lagi.
Terdengar suara penyiar. “...selamat pagi pendengar...”
Lalu kembali hilang.
“Tuh!” Dinda spontan menoleh. “Hampir, pak.”
Agus mengangguk kecil. “Iya. Hampir, Din.”
Beberapa saat mereka mencoba lagi. Antena dimiringkan. Knop diputar. Radio kembali berdesis. Tak satu pun berhasil membuat suara itu bertahan lebih lama.
Dinda akhirnya menurunkan tangan. “Nyerah, ah.”
Agus tertawa pelan. “Baru lima menit.”
“Masa, sih? Perasaan udah lama.”
“Kalau benerin beginian,” Agus menepuk pelan badan radio. “Yang capek biasanya bukan tangannya.”
“Terus apa?”
“Orangnya yang enggak sabaran.”
Dinda menggeleng sambil tersenyum. “Ya emang Dinda nggak bakat aja kayak bapak.”
“Belum tentu, Din.”
“Hah?”
“Kamu, ‘kan, yang bilang bapak selalu begitu.”
Mereka sama-sama tertawa. Suara radio masih berdesis di sela tawa kecil itu.
Agus memutar knopnya sekali lagi.
Tetap sama.
Ia akhirnya mematikannya. Bukan dengan kecewa. Hanya seperti seseorang yang tahu pekerjaannya memang belum selesai hari ini.
“Nanti malam lanjut lagi.”
“Siap, deh.”
Dinda mengambil helm yang tergantung di dekat pintu. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi. Radio itu kembali diam di atas meja. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal, pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia sempat mengeluarkan sepotong suara. Dan entah mengapa, itu sudah terasa cukup bagi Agus untuk mencobanya lagi malam nanti.
***
Radio di rumah belum berhasil menemukan siarannya. Beberapa menit kemudian, justru bunyi pemberitahuan dari aplikasi GOON yang lebih dulu mengisi pagi Dinda.
Tombol ONLINE berubah hijau.
Tak lama sesudahnya, pesanan pertama masuk.
Bukan makanan.
Bukan dokumen.
Seorang penumpang.
Titik jemputnya hanya beberapa ratus meter dari tempat Dinda berhenti.
Seorang perempuan berdiri di depan toko alat tulis. Blus krem yang dikenakannya tampak sudah beberapa kali dicuci hingga warnanya memudar. Tas kain yang disampirkan di bahunya sedikit mengilap pada bagian pegangan, tanda sudah terlalu sering dibawa ke mana-mana.
“GOON?”
“Iya. Mm, Kak Fira, ya?”
“Iya.”
Dinda menyerahkan helm cadangan. Perempuan itu mengenakannya perlahan.
“Udah pas, Kak?”
“Udah.”
Motor mulai bergerak.
Jakarta sudah sibuk. Lampu merah berganti hijau. Pedagang mendorong gerobak sarapan. Beberapa anak sekolah berlari kecil menyeberang jalan. Di kejauhan terdengar sirene ambulans yang segera tenggelam oleh suara kendaraan.
Tak ada percakapan. Sesekali perempuan itu merapikan letak tasnya. Sesekali Dinda melirik kaca spion, memastikan penumpangnya tetap nyaman.
“Enggak terlalu kencang, kan, Kak?”
“Enggak.”
Jawaban itu pendek.
Sesudahnya mereka kembali diam.
Aneh.
Biasanya diam membuat perjalanan terasa panjang. Namun, pagi itu, keheningan justru terasa ringan. Seolah masing-masing sedang memberi ruang kepada pikirannya sendiri.
Sekitar dua puluh menit kemudian motor berhenti di depan sebuah klinik.
Perempuan itu membuka tali helm. “Makasih, Mbak.”
“Sama-sama,” balas Dinda sambil menerima helm itu kembali.
Perempuan tadi melangkah beberapa langkah.
Lalu berhenti.
Ia menoleh. “Capek, ya, Mbak?”
Dinda mengangkat wajah. “Hmm?”
Perempuan itu mengangguk kecil. “Saya sih capek.”
Dinda tertawa pelan. “Saya juga capek.”
“Biasanya orang kalau lagi capek,” perempuan itu menggantungkan kalimatnya sebentar, seolah sedang mencari kata yang paling pas. “Jadi irit ngomong.”
Dinda hanya tersenyum. Tak sempat membalas.
Perempuan itu lebih dulu mengangguk kecil, lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu klinik. Pintu kaca menutup pelan di belakangnya.
Dinda masih duduk di atas motor. Helm cadangan belum sempat ia gantungkan kembali.
Ponsel bergetar.
Pesanan berikutnya sudah menunggu.
Jarinya bergerak menekan tombol Terima hampir tanpa berpikir.
Motor kembali melaju. Di lampu merah pertama, tanpa sengaja ia menatap bayangannya sendiri pada kaca spion. Lalu teringat ucapan perempuan tadi.
“Biasanya orang kalau lagi capek, jadi irit ngomong.”
Ia mencoba mengingat. Kapan terakhir kali ia benar-benar bercerita kepada seseorang.
Bukan menjawab.
Bukan tersenyum.
Bukan berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Benar-benar bercerita.
Ingatannya berhenti pada hari terakhir ia keluar dari kantor. Sesudah itu, setiap percakapan terasa seperti memilih kata-kata yang paling aman.