JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #8

Payung Patah

Payung itu dibuka ketika langit sedang seterang-terangnya. Tak ada awan. Tak ada tanda hujan akan turun. Jeruji-jerujinya mengembang dengan bunyi pelan. Salah satu rusuknya berhenti sedikit lebih rendah daripada yang lain. Kawat tipis yang menyangga kain hitam telah patah di dekat sambungan.

Dari kejauhan kerusakannya nyaris tak terlihat. Baru ketika payung terbuka penuh, sisinya tampak turun sebelah, seperti bahu yang terlalu lama memikul beban.

Agus membalik payung itu ke atas bangku kayu di teras. Kotak perkakas sudah terbuka sejak tadi pagi.

Tang kecil.

Obeng minus.

Segulung kawat tipis.

Semuanya terletak di atas koran bekas yang mulai menguning di sudut-sudutnya.

Dinda baru selesai menyapu halaman. Daun-daun mangga yang gugur dikumpulkannya ke dalam pengki, lalu dibuang ke tong kompos di belakang rumah. Ketika kembali ke teras, ia melihat bapaknya sedang membungkuk, memeriksa satu per satu jeruji payung dengan saksama.

Ia berhenti di dekat pintu.

“Bapak?”

“Hmm?”

“Belum musim hujan, pak.”

Agus tidak langsung mendongak. Ujung tang menjepit kawat yang putus, lalu menariknya perlahan agar kembali lurus.

“Iya, bapak tahu.”

Dinda tersenyum. “Terus kenapa buru-buru dibenerin?”

Barulah Agus mengangkat wajah. “Memangnya harus nunggu musim hujan dulu?”

Dinda mengangkat bahu. “Ya enggak, sih. Tapi, ‘kan, masih lama.”

Agus terkekeh pelan. “Justru karena masih lama.”

Tang di tangannya kembali bekerja. Kawat tipis dililitkan perlahan mengikat sambungan yang patah.

“Kalau hujannya keburu datang,” ia berhenti sebentar, merapatkan lilitan itu dengan ibu jari, “baru dicari payung yang bagus.”

Dinda ikut berjongkok di sampingnya. “Tapi kayaknya bekasnya kelihatan, pak.” Ia menunjuk lilitan kawat yang kini melingkari salah satu jeruji. “Nggak rapi.”

Agus memperhatikan hasil pekerjaannya beberapa saat. “Iya. Terus kenapa?

“Huh?”

“Ya enggak apa-apa, dong.” Agus tersenyum kecil. “Payung itu bukan buat dipamerin.”

Dinda tertawa. “Bapak tuh selalu punya jawaban.”

“Bukan jawaban.”

Agus membuka payung itu sekali lagi. Jeruji yang tadi melengkung kini kembali menyangga kain hitam dengan utuh. Bekas lilitan kawat memang masih tampak jelas, tetapi bentuknya sudah kembali seperti semula.

“Bapak cuma pengin dia masih merasa berguna. Masih bisa dipakai.”

Agus melipat payung itu perlahan. Bunyinya jauh lebih pelan daripada tadi.

“Nih.” Agus menyodorkannya. “Coba buka.”

Dinda menerima gagangnya. Sekali hentak, payung itu kembali mengembang. Tak lagi pincang. Ia memutar payung itu perlahan, memeriksa setiap sisinya.

“Wihhh… boleh juga, nih.”

“Kan.”

Agus mengambil kembali payung tersebut, mengibaskan sedikit debu yang menempel di ujung kainnya, lalu menggantungkannya di balik pintu depan.

Di sana sudah tergantung payung-payung lain yang lebih baru. Warnanya lebih cerah. Pegangannya masih mengilap. Namun, payung yang baru selesai diperbaiki itu tetap diletakkan paling depan, mudah dijangkau siapa saja yang hendak keluar rumah.

Dinda memandangnya beberapa saat. Pagi itu matahari masih bersinar terang. Tak seorang pun membutuhkan paying, tetapi ia mulai mengerti mengapa bapaknya selalu memilih memperbaiki segala sesuatu sebelum benar-benar diperlukan.

Barangkali bukan karena takut hujan datang. Melainkan karena ia percaya, ada hal-hal yang harus siap lebih dulu sebelum waktunya tiba.

 

***

 

Jaket biru itu kini tak lagi terasa asing di pundak Dinda. Mula-mula ia masih sering salah memasang resleting. Sarung tangannya terasa kaku. Setiap bunyi notifikasi membuatnya buru-buru menepikan motor untuk memastikan alamat tujuan.

Kini semuanya berlangsung hampir tanpa disadari. Begitu tombol ONLINE berubah hijau, tubuhnya seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan lebih dulu.

Memeriksa bensin.

Merapikan tali helm.

Melihat layar.

Lalu berangkat.

Hari itu Jakarta bergerak lebih cepat dari biasanya. Belum lima menit menunggu, pesanan pertama masuk. Disusul yang kedua. Lalu ketiga.

Motor Dinda berpindah dari satu sudut kota ke sudut lainnya tanpa sempat benar-benar berhenti.

Pagi mengantar sarapan.

Menjelang siang membawa setumpuk dokumen.

Lewat tengah hari kembali mengantar makan siang yang harus tiba sebelum jam istirahat usai.

Di sela lampu merah, ia tak lagi bergantung pada petunjuk di layar. Tangannya mulai hafal jalan-jalan kecil yang bisa memangkas waktu, gang sempit yang tembus ke jalan besar, dan persimpangan mana yang lebih baik dihindari ketika jam pulang kantor tiba.

Tubuhnya belajar lebih cepat daripada pikirannya.

Ada kalanya ia baru sadar sudah melewati tiga kecamatan tanpa sekali pun melihat peta.

Pekerjaan ini perlahan menjadi kebiasaan. Meski hatinya masih diam-diam berharap suatu hari ia tak perlu lagi mengenakan jaket biru itu.

Di depan sebuah rumah sakit, penjaga parkir yang mulai mengenalnya mengangkat tangan.

“Siang, Mbak GOON.”

“Siang, Pak.”

“Gimana? Rame hari ini?”

“Alhamdulillah, lumayan.”

“Syukur alhamdulillah.”

Percakapan mereka tak pernah lebih panjang dari itu. Namun, sapaan-sapaan kecil semacam itu membuat Jakarta terasa sedikit kurang asing.

Di sebuah rumah makan Padang, pemilik warung bahkan sudah menyiapkan kantong pesanannya sebelum Dinda turun dari motor.

“Pesanan kantor sebelah lagi, ya?”

“Iya, Pak.”

“Ini, Mbak. Dari tadi udah dibungkus.”

“Makasih, Pak.”

“Sama-sama. Hati-hati di jalan.”

Hal-hal kecil seperti itu membuat pekerjaannya terasa lebih ringan. Tak ada yang mengenalnya sebagai Dinda. Tak ada yang tahu ia pernah bekerja di balik meja kantor. Bagi mereka, ia hanya pengemudi GOON yang sering lewat.

Anehnya, itu sudah cukup.

Menjelang sore, Dinda menepi di bawah pohon angsana untuk menghabiskan sisa air minumnya. Udara masih panas meski matahari mulai condong. Ia baru saja menutup botol ketika ponselnya kembali berbunyi.

GOON Ride.

Seorang penumpang.

Ia menerima pesanan itu tanpa banyak berpikir. Titik penjemputannya hanya beberapa ratus meter dari tempatnya berhenti.

Dinda mengenakan kembali helmnya. Mesin motor menyala pelan.

Saat itu ia belum tahu, perjalanan berikutnya akan meninggalkan sesuatu yang jauh lebih lama daripada ongkos yang masuk ke saldonya.

 

***

Lihat selengkapnya