JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #9

Jam Dinding Mati

Tak seorang pun benar-benar memandangi jam dinding itu lagi.

Semua orang sudah hafal letaknya. Di atas pintu ruang tengah, sedikit miring ke kiri. Setiap kali ingin memastikan waktu, kepala hanya mendongak sebentar, lalu kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Jam itu bekerja begitu lama hingga kehadirannya nyaris tak lagi disadari.

Barangkali memang begitulah nasib benda yang setia menemani: ia baru benar-benar terlihat ketika berhenti menjalankan tugasnya.

Pagi itu, jam itu berhenti.

Tanpa bunyi.

Tanpa tanda.

Jarum pendek dan panjang bertemu di angka yang sama, lalu tak bergerak lagi.

Pukul delapan lewat tujuh belas.

Anehnya, tak seorang pun langsung menyadarinya.

Yanti sempat meliriknya sebelum masuk ke dapur. Agus mendongak sekilas ketika hendak menyiram tanaman di halaman. Sesudah itu, keduanya sama-sama meraih ponsel untuk memastikan waktu, seolah ada sesuatu yang terasa sedikit janggal, meski mereka sendiri belum tahu apa.

Dinda baru menyadarinya ketika hendak berangkat. Ia sudah mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda yang biasa dipakai ke kantor. Tas ransel tergantung di bahu, sementara sepasang sepatu masih tergeletak di teras menunggu tali terakhir diikat.

Sekilas matanya menangkap jam dinding. Delapan lewat tujuh belas. Masih ada waktu, pikirnya. Namun ketika layar ponsel menyala, alisnya langsung bertaut.

08.45.

Ia kembali mendongak.

Jarum jam itu tetap berada di tempat yang sama.

“Pak!”

Agus yang sedang menyiram tanaman menoleh. “Apa, Din?”

“Mati, nih.”

“Hah? Siapa yang mati?”

“Jam, pak. Jam. Mati.”

Agus mengikuti arah pandang Dinda. “Oh.”

Hanya itu.

Ia meletakkan gayung di dekat pot bunga, lalu masuk ke ruang tengah tanpa tergesa. Bangku kayu kecil ditarik dari sudut ruangan. Bangku yang sama yang biasa dipakai mengambil stoples di rak paling atas atau mengganti lampu teras ketika putus.

Ia naik perlahan. Kedua tangannya mengangkat jam dari dinding dengan hati-hati, seolah benda itu mudah tersinggung bila diperlakukan kasar.

Jam itu kemudian diletakkannya di atas meja makan. Ujung obeng minus menyelip ke celah penutup belakang. Sekali congkel. Penutupnya terbuka.

Agus mengeluarkan baterai yang sudah kusam. Diputarnya sebentar di antara ujung jari.

“Habis ini.”

“Iya, baterai habis, ‘kan?”

“Iya.”

“Diganti aja, pak. Kita masih nyimpen sisa baterai di laci bawah TV, ‘kan?”

“Iya.”

Namun, baterai baru tidak langsung dipasang. Agus meniup pelan bagian dalam jam. Debu tipis beterbangan, melintas sebentar di jalur cahaya yang jatuh dari jendela.

Sesudah itu ia mengambil kuas kecil dari kotak perkakas. Bulu kuasnya menyapu pelan sela-sela roda gigi plastik yang nyaris tak terlihat. Gerakannya begitu hati-hati hingga Dinda tanpa sadar ikut merendahkan suaranya.

“Cuma ganti baterai aja ritualnya banyak amat, pak.”

Agus tidak menjawab. Kuas itu terus bergerak. Pelan. Sampai tak ada lagi debu yang menempel di sudut-sudutnya.

Barulah ia berkata, “Kasihan, Din.”

Dinda tertawa kecil. “Sekarang jam juga bisa dikasihanin?”

Agus ikut tersenyum. “Udah lama kerja, tapi jarang diapresiasi.”

Jawaban itu selesai sampai di situ. Tak ada penjelasan tambahan. Tak ada maksud untuk mengajari siapa pun. Ia hanya mengambil baterai baru, memasangnya, lalu memperhatikan jarum yang kembali bergerak mengelilingi angka-angka di permukaan jam.

Sebelum penutup belakang dipasang, Agus mengusap kaca jam dengan ujung kaus yang dikenakannya. Perlahan. Sampai pantulan cahaya di permukaannya kembali bening.

Dinda memandanginya dalam diam.

Radio tua.

Kursi di teras.

Payung hitam.

Pintu depan.

Kini jam dinding.

Entah sudah berapa banyak benda di rumah itu yang pernah singgah di tangan bapaknya. Tak satu pun diperlakukan seperti barang yang tinggal diganti ketika rusak.

Agus akhirnya memasang kembali penutup belakang jam. “Udah.” Ia menoleh kepada Dinda. “Sana berangkat dulu. Ini nanti bapak gantung lagi.”

“Iya, pak.” Dinda mengangguk. Ia meraih tasnya, lalu melangkah ke luar.

Sebelum pintu tertutup, matanya sempat kembali mengarah ke ruang tengah. Dinding di atas pintu kini kosong. Hanya tersisa lingkaran cat yang warnanya sedikit lebih terang daripada bagian di sekelilingnya.

Baru pagi itu Dinda menyadari, selama bertahun-tahun ia selalu mencari jam itu setiap kali mendongak. Hanya saja, ia tak pernah benar-benar melihatnya.

 

***

 

Malam tiba bersama suara jam dinding yang kembali bekerja.

Bunyi itu pelan.

Nyaris tenggelam oleh desis minyak di dapur dan suara televisi yang menyala kecil di ruang tengah.

Televisi itu sebenarnya tak sedang ditonton siapa-siapa. Hanya dibiarkan menyala, seperti menemani rumah agar tak terasa terlalu sepi.

Agus duduk di kursi dekat meja. Jam dinding yang tadi pagi mati kini terbaring di pangkuannya. Kaca penutupnya belum dipasang.

“Din.”

“Iya, pak?”

“Coba tolong lap dulu.”

Dinda menerima kaca bulat itu. Kain lap bergerak perlahan menghapus bekas sidik jari yang menempel di tepinya.

“Udah lurus belum?”

Dinda mengangkatnya ke arah lampu. “Sebelah sini masih ada.”

Agus mendekat. “Masa?”

“Iya. Kurang dikit, pak.” Dinda mengusap lagi. “Nih, udah.”

Agus mengangguk. “Nah.”

Kaca itu kembali menutup wajah jam. Jarum detiknya tetap berjalan.

Di saat yang sama, Yanti keluar dari dapur sambil membawa ponsel. Tangannya sudah hafal membuka aplikasi yang sama.

WhatsApp.

Nama yang paling atas tak pernah berubah.

Siska.

Foto profilnya masih sama. Senyumnya lebar. Latar belakang sebuah kuil yang pernah ia kunjungi bertahun-tahun lalu. Entah mengapa, foto itu terasa semakin jauh setiap kali dilihat.

Yanti menyentuh ikon panggilan video. Nada sambung mulai terdengar.

Tak seorang pun berbicara.

Agus masih memegang jam. Dinda berhenti mengelap meja. Mereka seperti ikut menunggu.

Layar ponsel tiba-tiba berubah.

Panggilan tidak terjawab.

Yanti tetap memandang layar itu. Belum dimatikan. Belum juga diturunkan. Jarinya pelan menyentuh tombol panggil sekali lagi.

Beberapa detik terasa lebih panjang daripada biasanya. Lalu layar kembali sunyi.

Tak ada wajah.

Tak ada suara.

Hanya pantulan wajah Yanti sendiri di layar yang mulai menghitam.

“Masih belum diangkat, bu?”

Suara Dinda terdengar pelan.

Yanti mengangkat kepala. Senyumnya datang terlalu cepat. “Mungkin lagi sibuk, Din.”

Dinda mengangguk kecil. “Iya, mungkin.”

Yanti mencoba tersenyum lagi. “Mungkin jam malam di Thailand lebih sibuk daripada di jam malam di Indonesia. Orang kita, ‘kan, dikit-dikit capek. Dikit-dikit pengen rebahan.”

Tak seorang pun mengoreksi. Mereka sama-sama tahu di mana pun seseorang berada, jika ia mau, maka tidak ada kata sibuk. Ia akan selalu berusaha meluangkan waktunya, meski hanya lima menit.

Jarak tak cukup jauh untuk membuat seseorang selalu tak sempat menjawab.

Jari Yanti berhenti di kolom pesan.

Ketik pesan.

Lalu dihapus.

Mengetik lagi.

Berhenti.

Lihat selengkapnya