JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #10

Kabel yang Kusut

Tak ada yang segera bergerak. Yanti masih berdiri di halaman. Jemarinya tetap menggenggam gagang sapu, tetapi sapu itu tak lagi menyentuh tanah. Beberapa daun berjatuhan yang tadi hampir terkumpul kembali beterbangan ditiup angin.

Di depan pagar, Siska masih berdiri mematung. Koper besar di samping kakinya tampak seperti satu-satunya benda yang benar-benar tahu betapa jauh perjalanan yang telah ditempuhnya.

Tak seorang pun bersuara.

Lima tahun rupanya dapat menjelma menjadi beberapa detik yang terasa terlalu panjang untuk diseberangi.

Namun, cukup membuat mata Yanti langsung dipenuhi air.

Ia melangkah.

Selangkah.

Lalu selangkah lagi.

Tangannya terulur ke arah pagar. Engsel tua itu berderit lirih ketika didorong.

“Masuk, Nak.”

Tak ada pelukan.

Tak ada tangis yang pecah.

Hanya satu kata sederhana yang terdengar seperti seseorang sedang membuka jalan pulang.

Siska mengangguk. Pelan. Ia menunduk sebentar sebelum menarik koper melewati pagar. Roda-roda kecilnya berguncang di atas lantai semen.

Suara itu membuat Dinda sadar bahwa sejak tadi ia menahan napas.

“Teh Siska.”

Siska menoleh.

Pandangan mereka bertemu. Beberapa tahun ternyata dapat terasa sepanjang jarak dari pagar menuju teras.

“Didi.” Siska tersenyum kecil. “Kamu gemukan, ya.”

Dinda ikut tersenyum. Harusnya ia memeluk kakaknya. Harusnya ia bertanya ke mana saja selama ini. Harusnya ia marah. Namun, seluruh kalimat yang selama ini disusunnya mendadak kehilangan tempat untuk keluar. Yang berhasil lolos hanya satu pertanyaan kecil.

“Capek, Teh?”

Siska mengangguk. “Iya.” Suara itu hampir pecah.

Agus baru melangkah mendekat. Tanpa banyak bicara, ia meraih gagang koper.

“Biar bapak.”

“Tapi, pak—”

“Nggak apa-apa. Biar bapak, Sis,” potong Agus cepat.

Siska masih menggenggam koper itu beberapa saat. Lalu perlahan melepaskannya.

Agus mengangkat koper tersebut seolah tidak sedang membawa beban yang berat.

“Ayo, masuk.”

Hanya itu.

Lalu ia berjalan lebih dulu memasuki rumah. Seperti seseorang yang tidak sedang menyambut tamu, melainkan mengantar anaknya kembali ke tempat yang semestinya.

 

***

 

Begitu memasuki ruang tengah, tak ada yang langsung duduk.

Yanti menuju dapur. Tak lama kemudian ia kembali membawa segelas air putih. Tangannya sedikit gemetar ketika meletakkannya di atas meja.

“Minum dulu.”

“Iya, bu.”

Siska menerima gelas itu dengan kedua tangan. Belum diminumnya. Hanya dipandangi beberapa saat.

Ruangan itu kembali tenggelam dalam diam. Bukan diam yang canggung. Melainkan diam yang sedang mencari bentuknya sendiri. Seolah rumah ini perlahan-lahan sedang mengingat kembali seseorang yang pernah sangat dikenalnya.

Dari sudut ruang tengah, suara Agus memecah keheningan.

“Din?”

“Iya, pak?”

“Itu kabelnya.”

Barulah Dinda melihat terminal listrik di bawah meja televisi. Beberapa kabel pengisi daya saling melilit. Tadi pagi listrik sempat padam. Tak seorang pun sempat membereskannya.

Dinda berjongkok. “Ini mah kusut banget, pak. Susah.” Ia mencoba menarik salah satunya.

Belum sempat bergerak, Agus menggeleng pelan. “Jangan, Din. Bentar.”

Agus ikut duduk di lantai. Ia mengambil satu ujung kabel. Bukan ditarik. Melainkan diputar perlahan. Satu lilitan mengendur. Disusul lilitan berikutnya. Tangannya bergerak tenang. Tak tergesa-gesa. Tak memaksa.

Beberapa saat kemudian, kabel-kabel itu telah terpisah sendiri. Rapi.

Dinda mengembuskan napas kecil. “Dinda pikir nggak bakal bisa digituin.”

Agus menggulung salah satunya. “Kalau sama-sama narik,” ia tersenyum tipis, “biasanya malah makin ngikat.”

Tak ada yang menanggapi.

Namun, dari sudut matanya, Dinda melihat Siska masih memandang jemari bapaknya. Tatapan yang sama seperti ketika mereka masih kecil.

Seolah baru hari itu ia kembali ingat, bahwa di rumah ini, hampir semua yang kusut selalu dicoba diurai lebih dulu, sebelum diputuskan untuk dibuang.

 

***

 

Yanti berdiri cukup lama di depan lemari piring. Pintunya sudah terbuka, tetapi tangannya belum juga bergerak.

Di antara tumpukan piring yang biasa dipakai setiap hari, matanya berhenti pada sebuah piring kecil bergambar bunga. Retakan halus di bibir piring itu masih ada. Warnanya sudah tak seterang dulu. Namun, bunga-bunga kecil di tengahnya masih dapat dikenali.

Yanti mengeluarkannya perlahan.

Dinda yang sejak tadi berdiri di ambang dapur ikut memperhatikan.

“Teteh harus tahu kalau piring itu masih disimpan sama ibu.”

Yanti mengangguk kecil sambil mengusap permukaan piring dengan ujung kain lap.

“Awalnya aku kira piring itu udah dibuang. Ternyata enggak.”

Jawaban itu selesai begitu saja.

Namun, tangan Yanti tetap membersihkan piring itu lebih lama daripada piring-piring lain. Seolah bukan debunya yang sedang disingkirkan. Melainkan jarak yang diam-diam menempel selama bertahun-tahun.

Di ruang tengah, Siska masih duduk tegak di ujung sofa. Kedua telapak tangannya saling menggenggam di atas lutut. Sesekali jemarinya bergerak sendiri, seperti sedang mencari sesuatu untuk dikerjakan.

Agus keluar dari dapur membawa segelas teh hangat. “Masih panas.” Ia meletakkannya pelan di atas meja. “Minum dulu.”

“Iya, pak.”

Siska menerimanya dengan kedua tangan. Uap tipis naik dari permukaan teh.

Beberapa detik berlalu. Tak seorang pun berbicara.

Agus akhirnya duduk di kursi seberangnya.

“Perjalanan jauh, ya?”

Siska mengangguk. “Lumayan.”

“Capek?”

“Lumayan.”

Agus mengangguk pelan. “Dari suaranya sih sepertinya bukan cuma lumayan.”

Kali ini Siska tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. Senyum yang tampak lebih letih daripada lega.

“Iya, pak.”

Agus mengembuskan napas pelan. “Ya udah. Istirahat yang banyak.”

Tak ada lagi pertanyaan.

Tak ada, Kenapa baru pulang?

Tak ada, Selama ini ke mana?

Tak ada pula penjelasan yang diminta.

Seolah Agus sedang memberi tahu anaknya bahwa rumah bukan tempat untuk diadili. Rumah adalah tempat orang boleh berhenti sebelum sanggup bercerita.

Dinda memandang bapak dan kakaknya bergantian. Tak pernah terpikir olehnya bahwa kerinduan kadang hadir dengan cara yang begitu sederhana.

Lihat selengkapnya