JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #11

Kunci Pas Nomor Dua Belas

Tak semua bunyi mampu membangunkan orang dari tidur. Ada yang justru membuat rumah semakin akrab dengan kesunyiannya.

Sejak semalam, keran dapur menetes pelan.

Setetes.

Lalu jeda yang cukup panjang.

Kemudian setetes lagi.

Yanti sudah meletakkan sebuah mangkuk aluminium tepat di bawahnya. Bukan agar lantai tetap kering. Melainkan supaya airnya tidak terbuang percuma. Meski begitu, bunyi kecil itu tetap terdengar sampai ke ruang tengah.

Semalam, sebelum lampu dimatikan, Yanti sempat mengintip ke dapur.

“Pak?”

“Apa, bu?”

“Besok aja dibenerinnya.”

Agus yang sedang melipat koran hanya mengangguk. “Iya.”

Tak ada lagi yang dibicarakan.

Keran itu pun dibiarkan menetes sampai pagi.

 

***

 

Usai menyeruput kopi, Agus langsung jongkok di depan lemari bawah meja dapur. Kotak perkakas hijau ditarik keluar. Sudut-sudutnya sudah memutih dimakan usia. Penguncinya bahkan tinggal satu. Namun, kotak itu masih menutup rapat seperti hari pertama dibeli.

Agus membukanya.

Obeng.

Tang.

Meteran.

Mur dan baut yang tersimpan dalam kaleng bekas permen. Serta deretan kunci pas yang ukurannya berbeda-beda.

Dinda baru selesai menyiram tanaman ketika melihat bapaknya sudah sibuk di dapur. Ia menyandarkan gayung di dekat pintu.

“Kenapa? Rusak lagi, pak?”

“Netes.”

“Semaleman?”

“Iya.”

Dinda mendekat. Keran itu memang tak lagi deras. Namun, setiap beberapa detik, setetes air jatuh ke dasar mangkuk. Nyaring. Pelan. Tetapi cukup membuat orang sadar bahwa ada sesuatu yang belum beres.

Agus mengambil kunci pas pertama. Nomor sepuluh. Dipasangkannya ke mur keran. Longgar. Kepala kunci bergoyang pelan.

Ia melepasnya lagi. Tangannya berpindah ke nomor empat belas. Terlalu besar. Belum sempat menyentuh mur, ia sudah menggeleng kecil.

Dinda memperhatikan.

“Bapak hafal semua ukurannya?”

Agus tersenyum tipis. “Enggak juga.”

“Terus? Kok, tahu?”

“Nyoba dulu aja.”

Jawaban itu terdengar sederhana. Seolah memang tak ada cara lain selain mencoba satu demi satu.

Dinda ikut jongkok di sampingnya. “Mau dibantu, pak?”

“Boleh. Pegang bawahnya, Din.”

Dinda menggenggam pangkal keran agar tidak ikut berputar.

Agus kembali merogoh kotak perkakas. Kali ini jemarinya berhenti pada sebuah kunci pas yang permukaannya sudah kusam. Angka 12 masih terlihat samar di batang besinya.

Kunci itu dipasang.

Pas.

Tidak longgar. Tidak pula terlalu sempit.

Agus memutar mur perlahan. Seperempat putaran. Lalu seperempat putaran lagi. Tak ada tenaga berlebih. Tak ada bunyi berdecit.

Beberapa detik kemudian mereka sama-sama menunggu.

Keran itu diam. Tak ada lagi air yang jatuh.

Dinda tersenyum. “Yang tadi sebenarnya bisa dipakai juga, ‘kan?”

Agus belum langsung menjawab. Ia masih mengusap ulir keran dengan ibu jarinya. “Bisa.”

“Terus?”

“Tapi kalau dipaksa,” ia mengangkat kunci pas nomor dua belas, “lama-lama dol.”

Dinda mengangguk pelan. Baru sekarang ia mengerti mengapa bapaknya selalu menghabiskan waktu lebih lama untuk memilih alat daripada memperbaiki barangnya. Yang dicari bukan sekadar yang bisa dipakai. Melainkan yang paling pas.

Agus mengelap kunci pas itu dengan kain lusuh yang tersampir di bahunya. Lalu mengembalikannya ke dalam kotak. Tidak dilempar. Tidak pula diletakkan sembarangan. Setiap alat kembali ke tempat yang hanya ia sendiri yang hafal.

Dinda mengangkat mangkuk aluminium yang sejak semalam menampung tetesan air. Isinya tak seberapa. Ia menuangkannya ke pot cabai di dekat pintu belakang. Tanah yang semula kering segera menggelap.

Agus menutup kotak perkakas.

“Udah, ya.”

“Iya, pak.”

Rumah kembali dipenuhi bunyi-bunyinya sendiri. Suara spatula yang beradu dengan wajan dari dapur. Desis radio tua yang sebentar hidup lalu menghilang. Jarum jam yang terus bergerak tanpa meminta diperhatikan.

Dan untuk pertama kalinya sejak semalam, dapur tak lagi menyisakan bunyi tetesan yang menunggu diperbaiki.

 

***

 

Rumah tidak pernah benar-benar pandai menyambut seseorang. Mungkin hanya pelan-pelan mengubah kebiasaannya.

Pagi itu, Yanti membuka tempat beras sedikit lebih lama daripada biasanya. Centong aluminium bergerak sekali. Lalu sekali lagi.

Dinda yang sedang mengupas bawang melirik sekilas.

“Ibu masak banyak?”

Yanti baru seperti tersadar ketika melihat panci di depannya. Tangannya berhenti.

“Oh,” ia tersenyum kecil. Tanpa mengurangi beras yang telanjur masuk, ia menutup kembali tempat beras itu. “Udah terlanjur.”

Dinda tidak berkata apa-apa. Ia hanya kembali mengupas bawang. Namun, diam-diam ia tahu. Sudah lama ibu tidak memasak sebanyak itu.

 

***

 

Menjelang siang, dapur dipenuhi aroma bawang goreng dan sayur bening yang baru matang.

Siska keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit basah. Ia berhenti di ambang dapur.

“Bu?”

Yanti menoleh sebentar. “Iya?”

“Ada yang bisa Siska bantu?”

“Udah hampir selesai, Ka.”

Jawaban itu terdengar biasa, tetapi Yanti sedikit menggeser wajan agar ada ruang kosong di samping kompor. Seolah tetap menyediakan tempat jika Siska ingin berdiri di sana.

Siska mendekat. Tanpa diminta, ia membuka rak piring. Tangannya berhenti sejenak.

Ia mengambil dua piring.

Lalu ragu.

Mengembalikannya lagi.

Membuka rak sebelah.

“Oh,” ia tersenyum malu, “lupa.”

Dinda yang baru masuk membawa kerupuk ikut tersenyum.

“Masih inget rak yang lama?”

“Iya. Dulu, ‘kan, gelas di situ. Terus dipindahin?”

“Ibu pindah ke tempat yang lebih gampang dijangkau.”

Siska mengangguk pelan. Hal-hal kecil rupanya tetap berubah, bahkan ketika sebuah rumah tampak tidak berubah sama sekali.

 

***

 

Mereka makan siang tanpa banyak percakapan. Sesekali hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring. Atau Agus yang meminta sambal diteruskan.

Selesai makan, Yanti membuka penanak nasi. Nasinya masih cukup banyak.

Siska ikut melihat. Wajahnya berubah.

“Bu?”

Yanti menoleh.

“Maaf, ya.”

“Kenapa? Kok, minta maaf?”

“Nasinya masih banyak banget.”

Yanti memandang isi rice cooker sebentar. Lalu mengambil sendok nasi dan meratakannya perlahan.

“Besok tinggal dibikin nasi goreng.”

Sesederhana itu.

Lihat selengkapnya