Gerobak barang bekas kembali melintas di ujung gang. Rodanya berderit pelan setiap melewati sambungan aspal yang mulai retak. Suara itu datang hampir setiap beberapa minggu sekali. Begitu akrab hingga tak banyak lagi yang menoleh.
Sesekali hanya terdengar suara bapak penarik gerobak memanggil dari kejauhan.
“Barang bekas!”
Dinda sedang menyapu halaman. Daun-daun yang semalam jatuh berkumpul sedikit demi sedikit di ujung sapunya.
Dari rumah sebelah terdengar suara pagar dibuka.
Ia mendongak sekilas. Tetangganya sedang mengeluarkan isi gudang. Satu per satu.
Rak plastik yang salah satu kakinya patah.
Ember dengan bibir yang retak.
Beberapa kardus yang sudah lembap dimakan hujan.
Lalu sebuah kipas angin berdiri. Warnanya tak lagi putih. Lebih menyerupai gading yang kusam dimakan waktu. Kisi-kisinya dipenuhi debu tipis. Namun, baling-balingnya masih utuh.
Tetangganya meletakkan kipas itu di dekat pagar.
“Yang ini sekalian, Bang.”
Dari dalam rumah terdengar suara istrinya. “Buang aja, Yah. Udah dicoba kemarin, kan? Baling-balingnya udah nggak muter.”
“Ya udah, lagian udah jadul juga. Nanti beli baru aja.”
Tak ada lagi yang dibicarakan. Keputusan itu selesai begitu saja.
Sesederhana memindahkan sebuah barang dari dalam rumah ke depan pagar.
Sapuan Dinda ikut melambat. Matanya kembali singgah pada kipas angin itu. Ada sesuatu pada benda-benda yang menunggu diambil gerobak barang bekas. Mereka selalu tampak seperti sedang menunggu seseorang memberi kesempatan sekali lagi.
Dinda menyandarkan sapunya, lalu menghampiri pagar.
“Pak Indra?”
Tetangganya menoleh.
“Kalau emang jadi dibuang, boleh saya bawa aja?”
Pria itu tersenyum heran. “Kipas angin ini? Kamu mau, Din?”
Dinda mengangguk. “Mau dicoba dulu.”
“Diperbaiki?”
“Iya. Kalau masih bisa.”
Tetangganya terkekeh. “Kamu mah,” gelengnya pelan, “mirip bapakmu. Apa-apa mau diselamatin. Padahal udah jelek begini.”
Dinda ikut tersenyum. “Walaupun menurut Pak Indra jelek, tapi dia belum tentu rusak semuanya.”
Kalimat itu membuatnya sendiri terdiam. Entah sejak kapan ia mulai mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu.
Dulu, setiap kali ada kursi goyah, payung patah, atau radio yang tiba-tiba mati, selalu ada satu suara yang terdengar lebih dulu.
“Coba lihat dulu.”
“Belum tentu rusak.”
“Barangkali cuma ada yang longgar.”
Tanpa sadar, cara Agus memperlakukan barang-barang pelan-pelan berpindah ke dalam diri Dinda.
Tetangganya mengangkat kipas itu melewati pagar. “Nih, Din. Hati-hati, lumayan berat.”
“Iya, Pak. Makasih.”
“Sama-sama.”
Kipas itu memang lebih berat daripada kelihatannya. Dinda memeluknya erat-erat sambil berjalan masuk ke halaman.
***
Di teras, Agus sedang membersihkan tang dengan kain lap yang mulai menghitam oleh bekas oli. Beliau mengangkat kepala. Pandangan beliau singgah sebentar pada kipas angin di pelukan Dinda.
Tak ada pertanyaan.
Tak ada pula senyum yang mengandung ejekan.
Beliau hanya berdiri. Menggeser bangku kayu yang berada di depan pintu gudang. Lalu mendorong daun pintunya lebih lebar.
“Cukup?” tanyanya pendek.
Dinda mengangguk. “Cukup, pak.”
Agus kembali duduk. Tang di tangannya diusap sekali lagi sebelum dimasukkan ke kotak perkakas.
Dinda membawa kipas itu masuk ke dalam gudang.
Di sana sudah ada radio tua. Payung hitam. Pot-pot tanaman yang sedang dipulihkan. Beberapa kursi yang masih menunggu diperbaiki.
Ia meletakkan kipas itu di sudut ruangan.
Pelan.
Seolah benda itu memang sedang beristirahat, bukan menunggu dibuang.
***
Baut terakhir terlepas dengan bunyi kecil. Dinda meletakkannya di atas kain lap, sejajar dengan tiga baut lain yang lebih dulu dilepas.
Ia selalu begitu. Apa pun yang dibongkar, setiap bagian harus tetap tahu tempatnya.
Kisi-kisi kipas diangkat perlahan. Lapisan debu yang menempel di baliknya segera tampak. Lebih tebal daripada yang terlihat dari luar.
Dinda mengambil kuas kecil. Tak langsung menyapu semuanya. Ia hanya menggerakkan ujung bulunya pelan-pelan, membiarkan debu itu turun sedikit demi sedikit.
Sesekali ia berhenti. Mengusap kuas di atas kain. Lalu melanjutkan lagi.
Pintu gudang terbuka pelan. Siska masuk sambil membawa dua gelas teh.
“Asyik juga di sini.”
Dinda menoleh. “Eh, Teh.”
“Kok nggak manggil?”
“Belum lama, kok.”
Siska meletakkan salah satu gelas di samping adiknya.
“Lagi dibongkar?”
“Iya.”
“Kipas dari mana, Din?”
“Dari tetangga sebelah. Mau dibuang, ya udah aku adopsi aja.”
“Bapak banget.”
Siska membungkuk memperhatikan kipas yang sudah tercerai-berai di atas meja.
“Ribet juga, ya.”
Dinda tersenyum kecil. “Justru yang kelihatan sederhana biasanya paling banyak bautnya.”
Siska terkekeh. “Lagi ngomongin kipas?”
Dinda mengangkat bahu. “Bisa jadi.”
“Kamu tuh, Din… kebanyakan main sama bapak.”
Mereka sama-sama tersenyum. Senyum yang sebentar. Namun, cukup membuat gudang terasa lebih hangat.
Siska menarik bangku. “Ikut duduk boleh?”