Satu baut menggelinding entah ke mana. Bunyinya kecil ketika jatuh ke lantai. Lalu hilang.
Agus tetap berjongkok di depan lemari kecil di ruang tengah. Pintu lemarinya sudah dilepas dan disandarkan ke dinding. Engsel yang mulai longgar diletakkan di atas selembar koran agar baut-bautnya tidak tercecer.
Ia membuka tutup botol bekas tempat baut disimpan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Jemarinya berhenti. Alisnya berkerut tipis.
Tadi seharusnya ada empat.
Agus memeriksa lagi isi tutup botol itu, lalu menggesernya perlahan seolah baut yang hilang mungkin hanya bersembunyi di balik bibir plastiknya.
Tetap tidak ada.
Tanpa mengeluh, Agus mulai meraba lantai. Tangannya menyusuri sela-sela koran. Mengintip ke bawah pintu lemari. Lalu menggeser kotak perkakas beberapa senti.
Masih belum ketemu.
Dinda yang baru selesai menyapu berhenti di ambang ruang tengah.
“Nyari apa, pak?”
“Baut.”
“Jatuh? Atau gimana?”
Agus mengangguk kecil. “Jatoh. Dari tadi nyari, tapi nggak ketemu-temu.”
Dinda menyandarkan sapunya ke dinding.
“Biar aku bantuin cari, deh.”
Ia ikut berjongkok. Pandangannya menyusuri lantai keramik yang dipenuhi bayangan kisi-kisi jendela. Jemarinya bahkan sempat meraih ke bawah rak televisi.
“Nggak ada, pak.”
Agus mengangguk pelan. Tangannya sudah lebih dulu mengambil baut lain dari kotak perkakas.
“Yang ini aja, pak.”
Agus tidak menjawab.
Baut itu dipasang ke lubang engsel. Masuk. Obeng mulai diputar. Setengah putaran. Belum sampai rapat, Agus berhenti. Obeng diturunkan. Baut itu dilepas kembali.
Dinda mengangkat wajah. “Kenapa, pak?”
“Masuk, ya?”
“Masuk.”
“Tapi longgar, Din.”
Agus mencoba baut lain.
Hasilnya sama. Masuk. Namun, ketika diputar, ulirnya tidak benar-benar menggigit.
Agus mengembalikannya satu per satu ke dalam kotak.
“Padahal sama-sama baut, pak.”
Agus tersenyum tipis. “Sama bentuknya,” tangannya kembali menyusuri lantai, “belum tentu sama tempatnya.”
Dinda ikut diam.
Kini keduanya sama-sama mencari. Ke bawah lemari. Ke sela kaki meja. Sampai ke bawah sandal yang berserakan di dekat pintu.
Rumah kembali dipenuhi bunyi-bunyi kecil. Gesekan kotak perkakas. Obeng yang sesekali menyentuh keramik.
Dan dua orang yang memilih menghabiskan waktu mencari sesuatu yang nyaris tak terlihat, karena mereka percaya, ada hal-hal yang memang tidak bisa digantikan hanya karena bentuknya serupa.
***
Pohon ketapang di tepi jalan itu sudah beberapa kali menjadi tempat Dinda berteduh.
Dari sana, ia bisa melihat kendaraan keluar masuk persimpangan tanpa harus mematikan mesin motor. Daunnya yang rimbun menahan sebagian panas siang. Cahaya tetap lolos di beberapa sela, jatuh bergantian di setang dan spion.
Layar aplikasi GOON masih lengang.
Belum ada bunyi apa pun.
Dinda membuka tutup botol minumnya. Baru dua teguk, ponsel di saku celananya bergetar.
Salma.
Ia sempat memandangi nama itu sesaat. Sudah lama sekali tidak muncul. Senyum kecil tanpa sadar singgah di sudut bibirnya.
“Halo?”
“Din!”
Suara di seberang langsung memenuhi telinganya. Masih sama seperti dulu. Cepat. Riuh. Seolah setiap kalimat selalu didahului senyum.
“Hidup juga kamu.”
Dinda tertawa kecil. “Yang susah dihubungin itu aku apa kamu, huh?”
“Lho? Siapa yang nge-chat, tapi dibalesnya besok?”
“Kadang lagi di jalan, jadi lupa, Sal.”
“Alasan, deh.”
“Serius, Sal.”
“Kamu mah dari dulu paling jago cari alasan. Apalagi alasan buat nolak cowok.”
“Hush! Jangan bahas itu, ah.”
Salma tertawa. Tawa yang membuat Dinda ikut tertawa. Rasa canggung karena lama tak saling menghubungi perlahan luruh begitu saja.
“O’iya, gimana Dito, Sal?”
“Udah masuk TK.”
“Serius?”
“Iya, Onti Dinda.”
“Perasaan terakhir kali ketemu masih aku gendong.”
“Terakhir kali kamu itu empat tahun lalu, Din. Sekarang sih hobinya nanya terus.”
“Nanya apa aja?”
“Pokoknya semua.”
Dinda terkekeh. “Contohnya? Aku penasaran, nih.”
“Kemarin Dito nanya kenapa ayam enggak sekolah.”
“Terus kamu jawab apa?”
“Ya ayam, ‘kan, nggak punya seragam.”
Dinda langsung tertawa. “Kasihan amat tuh ayam.”
“Abis aku juga bingung mau jawab apa. Makin hari makin absurd pertanyaannya.”
Beberapa saat mereka kembali mengobrol ke mana-mana.
Tentang guru SMA yang masih sering muncul di grup alumni.
Tentang harga cabai yang tak kunjung turun.
Tentang hujan yang akhir-akhir ini datang seenaknya.
Seperti dulu. Seperti tak pernah ada jeda bertahun-tahun di antara mereka. Lalu percakapan itu melambat. Tak benar-benar berhenti. Hanya kehilangan arah.
Di seberang sana terdengar Salma menarik napas pelan.
“Din?”
“Iya. Kenapa, Sal?”
“Aku...,” kalimat itu menggantung.
Dinda tidak menyela. Ia mengenal diam seperti itu. Diam seseorang yang sedang mencari cara agar permintaannya tidak terdengar sebagai beban.
“Aku boleh minta tolong nggak?”
Dinda memandang jalan di depannya. Sebuah truk melintas pelan, meninggalkan debu tipis yang berputar sesaat sebelum hilang diterpa angin.
“Ada apa, Sal?”
“Dito harus kontrol lagi minggu ini. Kamu tahu sendiri kalau Dito ada masalah sama kesehatannya.”
Suara Salma mengecil.
“Dokternya bilang jangan ditunda.”
Dinda tetap diam.
“Suamiku baru gajian minggu depan. Sebenernya aku udah pinjam ke kakak iparku. Hampir cukup, tapi masih kurang.”
Tak ada suara tangis. Justru itu yang membuat kalimat-kalimat Salma terdengar lebih berat.
“Aku sebenarnya malu nelpon kamu, terus ujung-ujungnya malah minjem uang kayak gini.”
Dinda menunduk. Jarinya membuka aplikasi perbankan. Angka yang tersisa tidak banyak.
Ia menghitung pelan: Bensin. Makan. Pulsa. Lalu uang yang biasa ia sisihkan untuk diberikan kepada Yanti di akhir minggu.
Nominal itu beberapa kali berubah di layar.
Naik.
Turun.
Naik lagi.
Akhirnya ia menekan tombol kirim.
Tak lama kemudian terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Salma.
Salma terdiam.
“Din?”
“Hmm?”
“Ini kebanyakan.”
“Enggak.”
“Tapi kamu—”