JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #14

Lampu Teras

Lampu teras masih menyala ketika bayangan jemuran sudah bergeser melewati separuh halaman. Cahayanya nyaris tak terlihat di bawah matahari pagi. Namun, bohlam kecil itu tetap menyala, seolah belum sadar malam telah lama selesai.

Yanti keluar dari dapur sambil mengeringkan tangan pada ujung celemeknya. Ia mendongak.

“Pak!”

Agus yang sedang duduk di bangku kayu depan gudang mengangkat kepala. “Apa, bu?”

“Lampunya.”

Agus mengikuti arah pandang istrinya. Bohlam itu masih menyala tenang di bawah lis atap. “Oh.” Ia tersenyum kecil, meletakkan obeng di atas bangku, lalu berdiri menghampiri sakelar di dekat kusen.

Lampu padam.

“Hampir semalaman, tuh,” kata Yanti sambil menggeleng tipis.

Agus hanya mengusap tengkuknya. “Kirain masih ada yang di luar.”

Yanti melirik suaminya sekilas. “Siapa?”

Agus tidak langsung menjawab. Ia kembali duduk, mengambil obeng yang tadi ditinggalkan. “Siapa yang tahu.”

Jawaban itu membuat Yanti mengembuskan napas pendek, antara geli dan pasrah.

“Dari dulu juga begitu terus jawabannya.”

Agus tidak menanggapi.

Sekrup pada gagang pintu kembali diputar perlahan.

Dinda yang sejak tadi menjemur kain lap berhenti sebentar.

“Itu emang sengaja nggak dimatiin sama bapak, ya?”

Agus mengangguk kecil tanpa mengangkat kepala. “Kalau belum yakin orang rumah lengkap, ya nyalain aja. Kalau perlu sampai siang.”

Dinda memandang lampu yang kini telah padam. Bohlam itu sudah kusam. Sebagian cat putihnya menguning dimakan cuaca. Namun, hampir setiap malam, benda kecil itu menjadi yang terakhir dimatikan. Bahkan kadang baru padam ketika ayam tetangga mulai berkokok.

Dinda tersenyum tipis. “Dulu waktu Kang Rizki masih tinggal di rumah ini, pas dia belum pulang lembur, bapak juga gitu.”

Agus berhenti memutar obeng. Ia tersenyum.

“Padahal Kang Rizki udah bilang pulangnya malam banget.”

“Ya namanya nunggu.” Agus mengangkat bahu pelan. “Kalau lampunya nyala, orang rumah lebih gampang nemuin pintunya.”

Tak ada lagi yang berbicara.

Yanti kembali ke dapur. Suara wajan mulai terdengar dari dalam.

Agus melanjutkan pekerjaannya. Sekrup itu akhirnya terasa pas. Ia mencoba membuka pintu. Menutupnya lagi. Tak lagi seret.

Dinda kembali menggantung kain lap di jemuran. Angin pagi membuat kain itu bergoyang perlahan. Matanya sempat kembali singgah pada lampu teras yang kini sudah padam.

Malam nanti, lampu itu mungkin akan dinyalakan lagi. Lalu dibiarkan menyala sedikit lebih lama daripada yang diperlukan. Bukan karena halaman terlalu gelap. Melainkan karena di rumah ini, selalu ada seseorang yang percaya bahwa orang yang sedang dalam perjalanan pulang sebaiknya menemukan rumahnya dalam keadaan masih menunggu.

 

***

 

Ponsel di dudukan motor berbunyi pelan.

Order baru.

Dinda menepikan motornya di bawah pohon ketapang sebelum menekan tombol terima.

Nama penumpang muncul di layar.

Pak Rahmat.

Senyumnya muncul lebih dulu daripada suara yang keluar dari bibirnya.

“Ketemu lagi, deh.”

Motor segera dinyalakan.

Gedung tempat penjemputan hanya berjarak beberapa menit. Begitu tiba, Dinda sudah melihat sosok yang dikenalnya berdiri di dekat pos keamanan. Tongkat lipat putih berada di tangan kirinya. Tas selempang kecil menggantung di bahu.

Pak Rahmat menoleh sedikit ketika mendengar suara motor berhenti.

“Selamat siang, Pak.”

“Siang. Eh, Mbak.”

Dinda tertawa kecil. “Bapak hafal suara saya?”

“Bukan.”

Pak Rahmat ikut tersenyum. “Hafal suara remnya.”

Dinda mengernyit. “Rem motor saya?”

“Iya, Mbak. Tiap berhenti bunyinya selalu ciiittt.”

Dinda spontan tertawa. “Waduh, berarti harus cepet-cepet diservis, nih. Nanti diomelin tukang bengkel lagi.”

Pak Rahmat ikut tertawa pelan. Keakraban itu datang begitu saja. Tanpa pernah mereka rencanakan.

Dinda membantu memastikan tongkat Pak Rahmat tersimpan di sisi motor.

“Udah nyaman, Pak?”

“Udah, Mbak.”

Motor kembali melaju. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang berebut lampu hijau. Beberapa kali mereka berhenti di lampu merah.

Pak Rahmat membuka percakapan lebih dulu.

“Hari ini rasanya panas sekali, ya.”

“Iya. Untung nggak hujan, sih. Kalau hujan, Bapak pasti repot.”

Pak Rahmat mengangguk. “Kalau jalan kaki masih bisa. Yang repot nyari genangannya.”

Dinda menoleh sedikit lewat spion. “Bapak hafal kayak gitu-gitu?”

“Harus.”

Jawaban itu sederhana. Namun, Dinda tahu, orang yang tidak dapat melihat sering kali mengingat kota dengan cara yang berbeda: Belokan. Kemiringan trotoar. Suara lampu penyeberangan. Bahkan lubang yang letaknya tidak pernah berpindah.

Motor berhenti di depan sebuah gedung perkantoran. Dinda mematikan mesin.

“Sampai, Pak.”

Pak Rahmat turun perlahan. Seperti biasa, Dinda lebih dulu melipat standar motor.

“Saya antar sampai lift, ya?”

Pak Rahmat tersenyum. “Saya udah hafal jalannya, Mbak.”

Dinda balas tersenyum. “Saya juga udah hafal jawabannya. Saya pasti ditolak.”

Pria itu terkekeh kecil. “Ya sudah. Kali ini saya terima.”

Mereka berjalan berdampingan memasuki lobi. Satpam yang berjaga mengangguk.

“Siang, Pak Rahmat.”

“Siang.”

“Siang, Mbak.”

Dinda ikut mengangguk.

Di depan lift, Dinda menekan tombol. Tak lama kemudian pintu terbuka. Pak Rahmat melangkah masuk.

Sebelum pintu menutup, Pak Rahmat berkata, “Mbak Dinda?”

Lihat selengkapnya