Bunyi itu terdengar lebih dulu daripada suara orang.
Nyaring.
Memanjang.
Memantul sampai ke ruang tengah.
Dinda yang sedang memilih baut ke dalam kotak plastik spontan menoleh ke arah gudang. Ia tertawa kecil.
“Bapak! Itu lemarinya protes, tuh.”
Agus yang sedang berjongkok di depan lemari kayu hanya melirik sekilas.
“Masih bisa ngomong? Berarti sehat dia.”
Dinda menghampiri sambil membawa segenggam baut yang belum sempat dirapikan.
Lemari tua itu sudah ada sejak ia masih SD. Cat cokelatnya mulai memudar di beberapa bagian. Sudut-sudut pintunya dipenuhi goresan halus yang entah dibuat oleh siapa selama bertahun-tahun.
Agus membuka pintunya sekali lagi.
Dinda meringis. “Ih, suaranya gitu amat. Kedengeran sampai tetangga, tuh.”
Agus tidak menjawab. Ia melepas obeng dari saku celana kerjanya, lalu membuka sekrup pada engsel bagian atas. Gerakannya pelan. Tidak terburu-buru.
Begitu engsel itu terlepas, bunyi tadi ikut menghilang. Agus memutar-mutar logam kecil itu di telapak tangan. Warnanya mulai kusam. Di sela sambungannya tampak kerak tipis berwarna kecokelatan.
“Rusak ya, pak?”
“Belum sepenuhnya.”
“Terus? Gimana, dong?”
Agus mengambil botol kecil berisi oli dari laci meja kerja. Isinya tinggal sedikit. Ia meneteskan beberapa tetes ke sambungan engsel, lalu menggerakkannya perlahan.
Maju.
Mundur.
Maju lagi.
Berulang-ulang.
Seolah sedang membangunkan sesuatu yang terlalu lama tertidur.
Dinda ikut memperhatikan. “Padahal tadi bunyinya serem.”
Agus tersenyum tipis. “Bunyinya doang.”
“Emang dalemnya enggak?”
“Masih kuat.”
Agus mengambil kain lap. Mengusap sisa oli yang mengilap di permukaan logam.
“Karatan, ya?” tanya Dinda.
Agus menggeleng kecil. “Kelamaan nggak dipakai aja.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, Dinda tidak langsung menjawab.
Ia teringat Siska. Lima tahun meninggalkan rumah. Lalu kembali dan perlahan belajar lagi letak gelas, sendok, dan tempat sambal. Mungkin memang ada banyak hal yang tidak benar-benar rusak. Hanya terlalu lama tidak digerakkan.
Agus memasang kembali engsel itu.
Sekrup pertama.
Sekrup kedua.
Obeng diputar beberapa kali hingga terasa pas.
Lantas ia membuka pintu lemari.
Pelan.
Tak ada lagi bunyi.
Ditutup.
Dibuka lagi.
Masih sunyi.
“Nah!” Hanya satu kata.
Dinda tersenyum. “Udah sembuh, pak?”
Agus mengembalikan obeng ke kotaknya. “Belum.”
Dinda mengernyit. “Kok, belum?”
“Besok harus dibuka lagi. Dicek lagi.”
“Kalau bunyi lagi?”
“Kasih oli lagi.”
“Kalau masih bunyi?”
Agus menutup pintu lemari perlahan. “Berarti kurang gerak. Kurang sering dipakai.”
Lalu ia berdiri sambil menepuk-nepuk lututnya yang mulai pegal.
“Lemari kok gitu,” komentar Dinda.
“Orang juga begitu.”
Agus berjalan keluar gudang lebih dulu. Meninggalkan Dinda yang masih berdiri di depan lemari tua itu.
Pelan-pelan Dinda membuka pintunya sekali lagi.
Tak terdengar apa-apa.
Hanya suara angin yang masuk dari halaman belakang.
Entah mengapa, kesunyian itu justru membuat kalimat Bapak terdengar semakin lama menetap di dalam kepalanya.
***
Laptop tua itu diletakkan Siska di atas meja makan.
Meja yang biasanya dipenuhi piring dan mangkuk kini dipenuhi kabel pengisi daya, buku catatan, dan sebuah tetikus yang warnanya mulai pudar.
Saat tombol daya ditekan, kipas kecil di dalam laptop langsung berdengung.
Layar tetap hitam beberapa detik.
Dinda yang sedang mengupas jeruk melirik.
“Masih hidup, Teh?”
“Masih mikir kali.”
Baru setelah beberapa saat logo sistem operasi muncul perlahan. Siska mengembuskan napas.
“Alhamdulillah.”
Dinda tersenyum. “Kirain udah pensiun.”
“Laptopnya?”
“Kamu, Teh.”
Siska terkekeh pelan. “Kurang ajar. Emangnya aku setua itu.”
“Emang makin hari makin tua, ‘kan?”
“Yeee! Kamu juga kali.”
Tawa mereka singkat. Namun, cukup membuat ruang makan yang sejak tadi sunyi terasa lebih hangat.
Siska mulai membuka folder-folder lama. Satu demi satu berkas muncul di layar:
Riwayat pekerjaan.
Sertifikat pelatihan.
Foto-foto toko tempatnya bekerja di Thailand.
Beberapa nama berkas membuat Dinda menggeleng sambil tertawa.
“Final. Final revisi. Final beneran. Final fix.” Dinda tertawa sambil menggelengkan kepala. “Kang Rizki pasti pusing lihat beginian.”
Siska ikut tertawa. “Kalau udah mepet, semua file namanya jadi final.”
Dinda mengangguk. “Masih mending. Punya Dinda ada final fix terbaru.”
“Kamu lebih parah, sih.”
Mereka kembali tertawa. Tidak lama. Lalu kembali tenggelam dalam layar.
Sesekali Dinda membaca kalimat dalam bahasa Inggris dengan suara pelan.
“Ini... customer service experience?”
Siska mengangguk.
“Tulis aja 'pelayanan pelanggan'. Lebih enak dibaca.”
“Lebih enak menurut kamu kali.”
Kalimat demi kalimat diperbaiki. Ada yang dipendekkan. Ada yang dihapus. Ada pula yang dibiarkan tetap seperti dulu.
Tak semua yang lama harus diganti.
Ketika akhirnya Siska membuka halaman surel, jemarinya berhenti di atas papan ketik.
“Duh.”
“Kenapa?”
“Lupa.”
“Kata sandi?”
Siska mengangguk. Ia mencoba mengetik.
Salah.
Dicoba lagi.
Masih salah.