JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #16

Kardus Bekas

Gudang belakang selalu memiliki sudut yang tak pernah benar-benar kosong. Di sanalah kardus-kardus bekas berdiri bersandar pada dinding.

Bekas televisi.

Penanak Nasi

Kipas angin.

Dus air mineral.

Kotak perkakas yang cokelatnya mulai pudar dimakan waktu. Sebagian penyok di sudut. Sebagian masih menyisakan bekas lakban yang tak pernah benar-benar lepas.

Tak ada yang dibiarkan menganga.

Semuanya dilipat.

Diratakan.

Lalu disusun menurut ukuran.

Agus berjongkok di depan tumpukan itu. Ia menarik satu kardus besar, membuka lipatannya perlahan, lalu mengusap bagian yang masih tertekuk dengan telapak tangan. Seperti sedang merapikan sehelai pakaian.

Dinda muncul di ambang pintu gudang sambil membawa sapu.

“Wih… banyak amat, pak.”

Agus hanya melirik sebentar. “Iya.”

Dinda terkekeh. “Mau dijual?”

“Bukan.” Agus kembali menekan salah satu sudut kardus yang melengkung.

Dinda ikut berjongkok. Tangannya mengambil kardus bekas kipas angin. Sudutnya sudah mulai memutih karena terlalu sering dibuka dan dilipat.

“Terus kenapa masih disimpan semua?”

“Iya.”

“Iya buat apa, pak?”

Agus menarik sebuah kardus bekas televisi yang paling besar. Kardus itu sempat mengembang sebelum kembali rata di bawah kedua telapak tangannya.

“Kalau nanti ada yang pindahan,” ia merapikan salah satu lipatannya. “nggak usah beli kardus lagi.”

Dinda tersenyum kecil. “Siapa yang mau pindahan?”

Agus mengangkat bahu. “Belum tahu.”

“Terus disiapin dari sekarang?”

“Namanya juga siap-siap.”

“Bapak nih lama-lama makin ajaib aja.”

“Din, hidup itu harus banyak siapnya daripada enggaknya.”

Perkataannya sederhana. Seolah menyiapkan sesuatu untuk kemungkinan yang belum tentu datang adalah hal yang biasa.

Dinda membuka salah satu kardus lain. Di bagian sampingnya masih ada tulisan spidol yang mulai pudar.

PIRING - DAPUR

Ia mengusap tulisan itu dengan ibu jari. Huruf-hurufnya tak ikut hilang.

“Ini kardus waktu pindahan kita dulu, ‘kan?”

Agus menoleh sekilas. “Oh, iya. Masih ingat kamu?”

“Ingat. Waktu itu aku baru lulus TK, terus hujan gede pas kita pindahan.”

Agus tersenyum tipis. “Lakbannya sampai nggak mau nempel.”

Dinda ikut tertawa kecil. “Pantes bekasnya berantakan.”

“Yang penting barangnya nyampe.”

Percakapan itu berhenti di sana.

Yang terdengar kemudian hanya bunyi kardus yang saling bergesekan ketika mereka menyusunnya kembali.

Yang kecil di depan.

Yang besar di belakang.

Yang sudah robek dipisahkan.

Yang masih kuat diratakan sekali lagi.

Sebelum berdiri, Agus menepuk pelan tumpukan kardus itu agar lebih rapat. Tak ada yang bergeser. Ia mengangguk kecil, seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan penting.

Dinda memandangi tumpukan itu beberapa saat. Kardus-kardus itu pernah membawa barang-barang menuju rumah ini. Sesudah isinya dikeluarkan, tak satu pun buru-buru dibuang.

Di rumah ini, sesuatu jarang kehilangan gunanya hanya karena tugas pertamanya telah selesai.

Dari halaman terdengar angin menggoyang daun jambu.

Gudang kembali lengang.

Hanya sesekali terdengar bunyi tipis gesekan kardus ketika tersentuh embusan angin yang masuk dari pintu. Seolah-olah benda-benda itu pun sedang sabar menunggu, kalau-kalau suatu hari nanti kembali dibutuhkan.

 

***

 

Undangan wawancara itu masih tersimpan di layar ponsel. Dinda membacanya sekali lagi sebelum mengenakan jaket GOON.

Bukan karena takut salah melihat tanggal. Ia hanya ingin memastikan surat itu belum berubah menjadi penolakan seperti puluhan surat elektronik sebelumnya.

Tanggal.

Jam.

Alamat.

Masih sama.

Ia mengunci layar, memasukkan ponsel ke saku jaket, lalu mengenakan helm.

Mesin motor menyala.

Hari tetap berjalan seperti biasa. Lampu merah berganti tanpa menunggu siapa pun. Kemacetan berpindah dari satu persimpangan ke persimpangan lain. Notifikasi pesanan datang silih berganti.

Tak ada yang berubah, kecuali dadanya yang sejak pagi terasa sedikit lebih penuh.

Menjelang sore, Dinda melirik jam di panel motor. Kalau pulang sekarang, ia masih sempat menyetrika kemeja putihnya. Mungkin juga tidur lebih cepat.

Ia ingin menyiapkan segalanya dengan baik. Meskipun jadwal wawancara masih lusa.

Jarinya sudah menyentuh tombol OFFLINE.

Tepat saat itu sebuah order masuk.

Jarak penjemputan: tujuh ratus meter. Tarifnya tidak seberapa.

Dinda menatap layar beberapa detik.

“Terakhir, deh.” Ia mengembuskan napas pelan. “Habis ini pulang.”

Jempolnya menekan tombol TERIMA.

Motor kembali melaju.

Penumpangnya seorang pria paruh baya. Tas kerja lusuh menggantung di bahu kirinya.

Begitu naik ke motor, pria itu tersenyum kecil.

“Maaf ya, Mbak.”

“Kenapa, Pak?”

“Nunggu saya lama.”

Dinda menggeleng. “Belum lama, kok.”

Pria itu terkekeh pelan. “Kalau di rumah, yang nungguin saya biasanya lebih cerewet.”

Motor melaju meninggalkan halaman kantor tempat lelaki itu bekerja. Sepanjang perjalanan, mereka hanya sesekali berbincang.

“Di depan belok kiri aja, Mbak.”

“Oh, siap.”

Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah gang kecil. Rumah-rumah berdiri rapat. Beberapa pintu sudah terbuka. Aroma bawang goreng dan tumisan keluar dari dapur-dapur yang belum sempat ditutup.

Motor berhenti di depan pagar besi bercat hijau. Pria itu melepas helm perlahan.

“Terima kasih ya, Mbak.”

“Sama-sama, Pak.”

Belum sempat ia membuka pagar, terdengar langkah kecil berlari dari dalam rumah.

“Ayah!”

Seorang anak perempuan memeluk pinggangnya begitu erat hingga tas kerjanya bergoyang.

“Ayah telat, nih.”

“Iya.” Pria itu mengusap kepala anaknya. “Maaf, ya.”

Anak itu menggeleng cepat. “Masih sempat, kok.”

“Kamu belum makan?”

“Belum. ‘Kan nunggu ayah dulu, soalnya mau makan bareng.”

Pria itu tertawa pelan. “Ya udah, ayo kita makan.”

Dinda tersenyum sendiri. Tanpa sengaja.

Ia mengenakan kembali helmnya, lalu memutar motor perlahan meninggalkan rumah itu.

Lihat selengkapnya