Gelas kaca itu sudah lebih tua daripada sebagian besar perkakas di dapur. Di dasarnya masih tersisa gambar bunga melati yang warnanya hampir habis dimakan waktu.
Pagi itu, Agus menuangkan teh hangat ke dalamnya. Baru saja gelas hendak diangkat, ibu jarinya berhenti di bibir kaca. Ia merabanya pelan.
“Hmm.”
Dinda yang sedang melipat kain lap menoleh. “Kenapa, pak?”
Agus memperlihatkan sisi gelas itu. “Ada yang nyempil.”
Dinda mendekat. Serpihannya kecil. Kalau tidak diraba, mungkin tak akan terlihat.
“Jangan dipakai dulu, pak. Masih banyak gelas lain, ‘kan.”
Agus mengangguk. “Iya.”
Lantas ia meletakkan gelas itu kembali di atas meja. Bukan mengambil gelas lain. Melainkan membuka laci kecil di dekat rak perkakas. Dari dalamnya, beliau mengeluarkan selembar amplas air yang sudah tinggal separuh.
Dinda memperhatikan sambil tersenyum. “Bapak tuh, kalau ada yang bisa dibenerin, nggak pernah langsung nyerah.”
Agus terkekeh pelan. “Sayang.”
Hanya satu kata.
Ia membasahi amplas itu, lalu menggosokkannya perlahan pada bibir gelas.
Gerakannya pelan.
Memutar.
Sesekali berhenti untuk meraba permukaan kaca dengan ujung jari. Masih terasa.
Ia menggosok lagi.
Tak lama.
Hanya beberapa kali putaran. Setelah itu gelas dibilas di bawah keran. Dikeringkan dengan kain. Ia kembali meraba bagian yang tadi pecah. Kali ini jemarinya tidak lagi berhenti.
Dinda mengambil gelas lain dari rak. “Nih.”
Agus menoleh.
“Ganti aja, pak.”
Agus tersenyum kecil. “Yang ini masih bisa, Din.”
Teh yang tadi mulai mendingin kembali diangkat. Ia menyesapnya perlahan. Tak lagi memutar posisi gelas mencari sisi yang aman.
Sekali teguk.
Lalu satu lagi.
Dinda memandangi gelas itu beberapa saat. Bekas serpihannya masih ada.
Hanya saja, pagi itu, tak ada lagi yang perlu berhati-hati ketika menyentuhnya.
***
Gedung itu tidak sebesar kantor tempat Dinda bekerja dahulu. Lobinya sederhana. Beberapa kursi berjajar di depan ruang rekrutmen.
Sebuah dispenser berdiri di sudut ruangan, lengkap dengan gelas-gelas kertas yang disusun rapi. Pendingin udara bekerja terlalu dingin hingga beberapa pelamar tanpa sadar merapatkan lengan kemeja mereka.
Dinda datang hampir setengah jam lebih awal. Map cokelat berisi dokumen ia letakkan di pangkuan.
Sesekali ia melihat jam.
Sesekali merapikan ujung lengan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi sejak berangkat dari rumah.
Di seberangnya, seorang laki-laki seusianya membaca ulang portofolio sambil menggerakkan bibir pelan. Seorang perempuan di sampingnya membuka kamera ponsel, membetulkan sanggul yang sebenarnya tidak berubah.
Barangkali semua orang memang sedang memastikan versi terbaik dirinya masing-masing.
Pintu ruang rekrutmen terbuka.
“Bu Dinda Lestari?”
Dinda segera berdiri. “Iya.”
“Silakan masuk.”
Ruangan itu tidak luas. Sebuah meja. Tiga kursi. Rak kecil berisi beberapa map. Di dekat jendela, sepotong tanaman lidah mertua tumbuh tenang dalam pot putih.
Seorang perempuan berkacamata bangkit dari kursinya.
“Selamat pagi, Dinda.”
“Pagi, Bu.”
“Silakan duduk.”
“Terima kasih.”
Perempuan itu membuka berkas lamaran.
“Saya Rina, dari Human Resources.”
“Iya, Bu Rina.”
“Terima kasih sudah datang.”
Percakapan dimulai dengan hal-hal yang sudah sering Dinda dengar.
Tentang pengalaman membuat konten.
Tentang menyusun kalender editorial.
Tentang bekerja dalam tenggat yang sempit.
Dinda menjawab satu per satu. Masih ada gugup di suaranya. Namun, tidak lagi membuat kata-katanya tersandung.
Sesekali Rina mencatat. Sesekali ia mengangguk. Hingga jemarinya berhenti pada satu halaman CV.
“Dinda, kamu bekerja di perusahaan sebelumnya hanya sekitar enam bulan?”
“Iya, Bu.”
“Boleh saya tahu kenapa berhenti?”
Pertanyaan itu akhirnya datang juga.
Selalu datang.
Hanya kalimatnya yang berganti.
Dulu Dinda sering sibuk memilih jawaban yang terdengar paling aman. Hari itu ia tidak melakukannya.
“Perusahaan melakukan PHK massal.” Ia berhenti sebentar, menghela sepenggal napas. “Mereka bilang itu bagian dari efisiensi operasional.”
Rina mengangguk pelan. “Pasti berat, ya.”
Dinda tersenyum kecil. “Iya.”
Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa ditutup-tutupi.
“Sejujurnya, saya sempat berpikir, mungkin saya memang belum cukup baik.”
Ruangan hening beberapa detik.
“Tapi sekarang?” tanya Rina.
Dinda menatap kedua tangannya sesaat. “Sekarang saya tahu, kehilangan pekerjaan tidak selalu berarti kehilangan kemampuan. Saya tetap mengasah kemampuan saya dalam menulis konten, dan belajar banyak hal-hal baru di luar itu.”
Rina menuliskan sesuatu. “Lalu selama beberapa bulan terakhir?”
“Saya tetap rajin kirim lamaran.”
“Sambil bekerja?”
“Iya.”
“Bidang apa?”
Dinda menarik napas pelan. Beberapa bulan lalu, pertanyaan itu selalu membuatnya gugup.
Hari ini tidak lagi.
“Saya jadi pengemudi GOON. Ojek Online.”
Tak ada perubahan raut wajah di depan meja. Rina hanya mengangguk.
“Lalu, apa yang paling kamu pelajari dari pekerjaan itu?”
Pertanyaan itu justru membuat Dinda berpikir lebih lama. Ia tidak sedang mencari jawaban yang terdengar bagus. Ia sedang mengingat begitu banyak wajah yang pernah duduk di jok belakang motornya.
Pak Rahmat.
Anak kecil yang menunggu ayahnya pulang.
Ibu yang memesan makanan saat hujan.
Maria.
Ebiet.
Juga dirinya sendiri.
“Saya belajar,” Dinda berhenti sejenak, “kalau setiap orang sedang berusaha sampai ke suatu tempat.”
Rina menunggu.
“Tugas saya hanya satu. Memastikan mereka sampai dengan selamat. Dan menurut saya, itulah profesionalisme yang bisa berdiri berdampingan dengan empati.”
Ruangan kembali sunyi. Bukan sunyi yang canggung. Hanya sunyi yang memberi ruang bagi kalimat itu untuk tinggal beberapa saat.
Rina menutup pulpennya. “Terima kasih, Dinda. Saya rasa interview ini cukup sampai di sini.”
Dinda berdiri. “Terima kasih juga, Bu.”
Mereka berjabat tangan.
Ketika pintu ruang wawancara menutup di belakangnya, Dinda mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tanpa sadar ia tahan.
Lift belum tiba.
Ia berdiri sendiri di depan pintunya yang tertutup rapat. Bayangan dirinya terpantul samar pada permukaan baja mengilap.
Dulu, setiap selesai wawancara, yang pertama kali ia pikirkan adalah jawaban mana yang salah.
Hari itu berbeda.
Entah diterima atau tidak, untuk pertama kalinya ia keluar dari sebuah ruang wawancara tanpa merasa harus menjadi orang lain.
Dan rasanya, itu sudah lebih ringan daripada puluhan wawancara sebelumnya.