Gudang belakang selalu memiliki cahaya yang berbeda dari ruangan lain di rumah itu. Lampunya tidak terlalu terang. Namun, cukup untuk memperlihatkan meja tua yang dipenuhi barang-barang yang sedang menunggu giliran diperbaiki.
Radio tua.
Kipas angin.
Setrika.
Toples-toples bekas selai yang kini berisi baut, mur, dan sekrup dengan ukuran yang hanya dipahami Agus.
Sore itu, ketika beliau sedang membongkar setrika tua, lampu gudang berkedip.
Sekali.
Lalu dua kali.
Sesudahnya redup beberapa detik sebelum kembali menyala.
Dinda yang baru selesai menyapu dapur mendongak.
“Lho?” Lampu itu berkedip lagi. “Pak?”
Agus ikut mengangkat kepala. “Hmm.”
“Bohlamnya rusak?”
Agus menggeleng pelan. “Kayaknya bukan rusak, Din.”
Lampu kembali berkedip.
Agus meletakkan obeng. “Bentar.”
Ia berjalan ke dekat dapur, membuka kotak listrik, lalu menurunkan MCB. Gudang seketika tenggelam dalam gelap.
“Hati-hati, pak.”
“Iya.”
Dinda mengambil ponselnya. Senter kecil dari ponselnya membantu menerangi dinding tempat sakelar berada.
“Segini cukup?”
“Cukup.”
Agus membuka penutup sakelar perlahan. Begitu plastiknya terangkat, debu tipis tampak menumpuk di sela-sela kabel. Ia memperhatikannya beberapa saat. Tidak langsung menyentuh apa pun.
Seperti biasa.
Sebelum memperbaiki sesuatu, ia selalu lebih banyak melihat daripada bergerak.
“Oh, ini longgar.”
“Hah?”
Agus menunjuk baut kecil di salah satu sisi. “Kabelnya.”
“Kirain sakelarnya rusak.”
“Belum tentu.”
Agus mengambil obeng kecil. Sekali putar. Lalu berhenti. Mencoba menggoyangkan kabel dengan ujung jari. Masih bergerak sedikit. Diputarnya lagi seperempat putaran.
Baru setelah itu beliau mengangguk pelan. “Nah.”
Debu yang menempel ditiup perlahan. Bagian dalamnya dilap dengan kain kecil. Penutup sakelar dipasang kembali.
“Mau dicoba, pak?”
Agus mengangguk. “Nyalain sakelarnya.”
Dinda menaikkan tuas Listrik. Lampu gudang langsung menyala.
Terang.
Stabil.
Tak berkedip lagi.
Dinda mendongak cukup lama. “Hilang.”
Agus belum menjawab. Ia justru menekan sakelar itu beberapa kali.
Padam.
Menyala.
Padam.
Menyala lagi.
Baru setelah yakin, ia mengembalikan obeng ke dalam kotak perkakas.
“Udah.”
Dinda tersenyum. “Cuma gara-gara baut sekecil itu, pak.”
Agus menutup kotak perkakas. “Yang kecil juga bisa bikin rusak, bahkan sampai putus.” Lalu ia mengangkat setrika yang tadi sempat ditinggalkan. “Untung ketemu.”
Lantas ia kembali duduk di bangku kerjanya, seolah tidak ada kejadian penting yang baru saja berlangsung.
Dinda masih berdiri di dekat sakelar. Jari-jarinya menyentuh pelat plastik berwarna gading yang mulai kusam dimakan usia. Bentuknya tidak berubah. Warnanya tetap sama. Tak ada yang tampak baru. Namun kini, setiap kali ditekan, lampu langsung menyala tanpa ragu.
Di ruang tengah, radio tua kembali menemukan siarannya. Suara penyiar mengalun pelan, bercampur dengan dengung kipas angin dan desir daun jambu yang digerakkan angin sore.
Rumah itu kembali bekerja seperti biasanya.
***
Ponsel Dinda bergetar tepat ketika ia sedang menunggu pesanan berikutnya. Spontan tangannya lebih cepat daripada pikirannya.
Layar menyala.
Sebuah surat elektronik masuk.
Dadanya sempat mengencang.
Jempolnya segera membuka pemberitahuan itu.
Diskon Perlengkapan Rumah Tangga Hingga 70%.
Dinda memandang layar beberapa detik. Lalu terkekeh pelan.
“Kirain.”
Ia menggeleng sendiri, menutup surel itu, lalu memasukkan ponsel kembali ke saku jaket. Botol air mineral di keranjang depan motor diambilnya. Airnya sudah tidak lagi dingin.
Ia meneguk beberapa kali.
Sudah terlalu banyak surat elektronik yang ia buka dengan napas tertahan.
Terlalu banyak formulir yang diisi.
Terlalu banyak wawancara yang diakhiri kalimat yang bunyinya berbeda, tetapi maksudnya sama.
“Nanti akan kami kabari kembali.”
Sebagian benar-benar mengabari.
Sebagian lagi menghilang begitu saja.
Aneh.
Belakangan ini, setiap kali kabar belum datang, ia tidak lagi merasa hidupnya ikut berhenti.
Notifikasi order berbunyi.
Dinda langsung menerimanya. Motor kembali melaju, membelah jalan yang semakin dikenalnya dari hari ke hari.
Persimpangan yang dulu membuatnya salah mengambil jalur. Gang sempit yang dulu membuatnya menahan napas setiap kali berpapasan dengan mobil. Kini semua terasa seperti jalan pulang yang sudah dihafal tubuhnya.
Sore mulai turun ketika ia berhenti di sebuah lampu merah. Antrean kendaraan memanjang. Di sebelah kanannya, seorang pria berhelm putih sedang berbicara lewat earphone.
Awalnya Dinda tidak terlalu memperhatikan. Sampai suara lelaki itu meninggi.
“Iya, bu.”
Lelaki itu tertawa.
“Beneran diterima.”
Beberapa pengendara di sekitarnya spontan menoleh.
“Alhamdulillah banget, bu.” Suara lelaki itu berubah lebih pelan. “Akhirnya aku punya kerjaan lagi.”
Laki-laki itu menunduk sebentar, mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Lalu tersenyum sendiri. “Makasih doanya selama ini ya, bu.”
Dinda memandang lampu lalu lintas di depannya yang masih merah.
Dulu, melihat orang lain menerima kabar seperti itu sering membuat dadanya ikut sesak. Ia akan mulai menghitung. Sudah berapa lamaran yang dikirim. Sudah berapa kali ditolak. Sudah berapa orang yang berjalan lebih dulu.
Hari ini tidak.
Ia hanya ikut tersenyum kecil, meski lelaki itu tidak pernah tahu. Ia merasa bahwa setiap orang rupanya memang sedang menunggu kabarnya masing-masing.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Motor-motor mulai bergerak. Pria berhelm putih melaju lebih dulu. Sebelum menghilang di tikungan, suaranya masih terdengar samar.