JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #19

Meja yang Selalu Berantakan

Meja kerja di gudang belakang barangkali menjadi satu-satunya tempat di rumah yang tak pernah benar-benar rapi.

Sekotak paku bercampur dengan mur-mur kecil. Obeng berbagai ukuran saling bertumpuk. Gulungan kabel bersandar pada kaleng baut yang catnya mulai mengelupas. Lap berminyak menggantung di sudut meja. Sebuah radio tua yang belum selesai diperbaiki mengambil hampir separuh permukaan.

Bagi orang lain, meja itu mungkin tampak semrawut. Bagi Agus, setiap benda seperti sudah tahu tempatnya.

Pagi itu ia sedang memasang engsel pada pintu lemari pesanan tetangga. Sekrup terakhir hampir terpasang ketika tangannya berhenti.

“Wah.”

Ia meraba permukaan meja.

Ke kanan.

Ke kiri.

Lalu membuka kaleng baut.

Dinda yang baru selesai mandi, berhenti di depan gudang.

“Nyari apa, pak?”

“Obeng kecil.”

“Yang ujungnya pipih?”

“Iya.”

Dinda ikut melihat ke atas meja. “Perasaan tadi ada.”

Agus hanya mengangguk pelan. Tangannya masih menyibak gulungan kabel, menggeser tang, lalu mengangkat lap yang menutupi sebagian meja.

“Nggak ketemu juga?”

“Belum.” Dinda tertawa kecil. “Jadi boleh Dinda bantu, nih?”

“Boleh.”

Tanpa banyak bicara, Dinda mulai membereskan meja. Mur dipisahkan menurut ukuran. Tang disusun berjajar. Kaleng baut dirapatkan ke belakang. Lap yang tadi kusut ia lipat menjadi persegi kecil. Radio tua digeser sedikit agar ruang kerja lebih lega.

Perlahan permukaan meja berubah.

Tak lagi sesak.

Tak lagi semrawut.

“Nah, gini, pak.” Dinda mengusap kedua telapak tangannya. “Sekarang pasti lebih gampang nyarinya.”

Agus memperhatikan meja yang kini jauh lebih rapi. “Ya bolehlah.” Ia mengangguk pelan.

Namun, beberapa detik kemudian dahinya justru berkerut. “Lho, Din?”

Dinda menahan senyum. “Kenapa, pak?”

“Obengnya.” Agus memandang ke seluruh permukaan meja. “Malah nggak kelihatan.”

Dinda terkekeh. “Lah, ‘kan, tadi Dinda rapihin.”

“Nah!” Agus ikut tersenyum. “Itu masalahnya.”

Dinda sampai harus menahan tawa. “Maksud bapak kalau berantakan lebih gampang dicari, gitu?”

“Bukan gitu.”

Agus berjongkok, lalu menarik sebuah kotak plastik bening dari bawah meja. Di baliknya, terselip obeng kecil bermata pipih.

“Nih.” Ia mengangkatnya. “Dari tadi di sini, Din.”

Dinda menggeleng sambil tersenyum. “Kirain hilang.”

Agus memasang kembali ujung obeng ke kepala sekrup. Tangannya bergerak mantap, seolah tak pernah terputus dari pekerjaan.

“Hilang itu,” ia memutar sekrup sekali, “kalau kita lupa naruhnya. Sementara ini...” Sekrup diputar sekali lagi hingga rapat. “...bapak masih ingat.”

Dinda terdiam.

Agus meletakkan kembali obeng itu ke sisi meja.

Tidak lurus.

Tidak pula sejajar dengan perkakas lain.

Namun, ia melakukannya tanpa melihat. Seperti tangan itu telah lebih dulu menghafal tempatnya.

Dinda memandangi meja yang baru saja ia rapikan. Anehnya, kini ia justru mengerti mengapa meja itu tak pernah benar-benar rapi.

Bukan karena bapak tak suka keteraturan. Melainkan karena selama bertahun-tahun, keteraturan itu telah berpindah dari permukaan meja ke dalam ingatan tangannya.

 

***

 

Tali jemuran di samping rumah dipenuhi pakaian yang sejak pagi dijemur di bawah matahari.

Angin berembus pelan. Ujung-ujung kaus dan handuk bergoyang pelan, sesekali saling bersentuhan sebelum kembali diam.

Yanti berdiri di bawah jemuran sambil membawa keranjang plastik. Satu per satu penjepit dilepas. Pakaian dilipat di lengan. Lalu dimasukkan ke dalam keranjang. Gerakannya tenang, seolah kedua tangannya sudah hafal urutannya tanpa perlu dipikirkan lagi.

Dinda keluar membawa ember bekas cucian.

“Biar Dinda bantu ya, bu.”

Yanti menggeser keranjang sedikit. “Iya, Din.”

Mereka berdiri berdampingan. Tak banyak yang diucapkan. Hanya bunyi penjepit plastik yang dilepas dari tali jemuran.

Dinda mengambil beberapa kaus.

Sekali lipat.

Dua kali.

Lalu langsung menumpuknya.

Yanti melirik sekilas. “Itu kebalik, Dinda.”

Dinda berhenti. “Hah?”

“Depannya di luar.”

“Oh, oke.” Dinda membuka lagi lipatannya. “Kalau disimpan begitu emangnya kenapa, bu?”

“Lebih gampang kusut.”

“Ibu tuh selalu tahu, ya.”

Yanti tersenyum tipis. “Dari kamu belum lahir, sampai hari ini, yang tiap hari nyetrika juga ibu.”

Dinda ikut tersenyum. “Iya juga.”

Beberapa potong berikutnya selesai lebih rapi. Namun, belum lama, Yanti kembali mengambil salah satunya.

“Kerahnya dilipat ke dalam, Din.”

Dinda mendesah pelan. “Bu, ibu tahu nggak? Ibu tuh terlalu teliti.”

“Kalau enggak teliti,” Yanti merapikan lipatan itu dengan ujung jemarinya, “nanti jadi dua kali kerja.”

Dinda terkekeh. “Berarti Dinda masih nyusahin, ya?”

“Namanya juga anak.”

Jawabannya datar. Seolah itu bukan sesuatu yang perlu dibahas.

Matahari mulai condong ketika jemuran tinggal menyisakan beberapa helai pakaian. Yanti mengangkat sebuah kemeja putih. Kemeja yang dipakai Dinda saat wawancara beberapa hari lalu.

Ia mengusap pelan bagian kerahnya, lalu berhenti pada salah satu kancing.

“Kancingnya mulai goyang, nih.”

Dinda ikut mendekat. “Oh.” Ia menyentuhnya. Benangnya memang mulai longgar. “Masih kuat nggak, bu?”

“Masih.” Yanti mengangguk. “Tapi selagi belum copot, nanti ibu jahit lagi biar makin kuat.”

Ia melipat kemeja itu perlahan. Menaruhnya paling atas di dalam keranjang. Tak lama kemudian seluruh jemuran telah kosong.

Dinda mengangkat keranjang menuju ruang tengah.

Yanti tertinggal sebentar di halaman. Katanya hendak mengambil penjepit yang masih tersisa.

Dinda mulai menyusun pakaian ke dalam lemari.

Kaus.

Celana.

Handuk.

Ketika tiba giliran kemeja putih itu, ia berhenti. Kancing yang tadi longgar kini sudah terikat lebih rapat. Benang putih yang baru masih tampak lebih cerah daripada jahitan lama.

Dinda mengangkat wajah. Ke arah dapur. Yanti sedang menuangkan air panas ke dalam teko. Ibunya bahkan tidak menoleh. Seolah sejak tadi tak pernah memegang jarum dan benang.

Dinda hanya tersenyum kecil. Kemeja itu dilipat kembali, lalu diletakkan paling depan di dalam lemari.

Tak ada ucapan terima kasih.

Tak ada jawaban “sama-sama”.

Di rumah itu, perhatian sering kali selesai dikerjakan jauh lebih dulu daripada sempat diucapkan.

 

***

 

Sisa siang menggantung di antara debu proyek yang beterbangan tipis. Suara gerinda sesekali memotong udara, lalu menghilang. Beberapa pekerja masih hilir mudik membawa besi dan sak semen. Dari lantai atas terdengar bunyi palu yang ritmenya mulai melambat menjelang pergantian sif.

Dinda baru saja menyelesaikan GOON Internal Delivery ketika melihat Ebiet berdiri di dekat pagar proyek. Sebuah kamera mirrorless menggantung di lehernya. Sesekali ia memotret bangunan yang hampir selesai. Sesekali memeriksa hasilnya.

Melihat Dinda lewat, ia mengangkat tangan.

“Din!”

Dinda menghampiri. “Lagi motret?”

“Iya.”

“Hasilnya gimana? Coba lihat, dong.”

Ebiet mengangkat bahu. “Jangan. Masih kurang.”

“Kurang apa?”

“Mm… aku juga belum tahu.”

Dinda tertawa kecil. “Jawaban tukang gambar bangunan banget.”

“Arsitek.”

“Iya, itu.”

Ebiet ikut tertawa. Beberapa detik kemudian ia melepas kamera dari lehernya.

Lihat selengkapnya