Gudang belakang selalu memiliki caranya sendiri menghitung waktu. Bukan lewat jarum jam. Melainkan dari bunyi-bunyi yang berulang hampir setiap hari.
Gesekan amplas pada kayu.
Kaleng baut yang dibuka.
Radio tua yang sesekali berdesis sebelum suaranya kembali jernih.
Dan ketukan palu yang terdengar sebentar, lalu hilang ditelan sunyi.
Sore itu Agus sedang memasang rak kayu kecil di dinding. Ia berdiri di atas bangku pendek. Satu tangan menahan papan. Satu lagi menggenggam palu.
Tinggal satu paku terakhir.
Tak.
Palu turun pelan. Paku masuk sedikit.
Belum lurus.
Agus tidak memukul lagi. Ia memiringkan kepala, memperhatikan papan itu dari samping. Jemarinya menyentuh ujung rak. Sedikit bergeser.
“Waduh.”
Palu diletakkan di atas meja. Ia mencoba merapatkan papan dengan telapak tangan.
Tak berhasil.
Papan itu kembali bergerak pelan.
Dinda yang sedang menyusun kardus memperhatikan dari sudut gudang.
“Geser, pak?”
“Sedikit.”
Dinda mendekat. “Miring?”
“Sedikit.”
Dinda ikut melihat dari samping. “Iya.”
Agus tersenyum tipis. “Mata kamu itu lebih muda.”
Dinda terkekeh. “Ya terus?”
“Pegangin sebentar.”
Dinda mengangkat kedua tangannya. “Ya udah, sini, sini. Yang di sini?”
“Iya.”
Telapak tangan Dinda menahan ujung papan. “Udah, pak?”
“Nah! Udah.”
Agus kembali mengambil palu. Kali ini beliau tidak terburu-buru. Memastikan papan tetap diam. Baru kemudian terdengar bunyi.
Sekali saja.
Paku masuk lurus. Kepalanya rata dengan permukaan kayu.
Agus mengusap papan itu pelan. “Ini dia.”
Dinda melepaskan tangannya. “Selesai, ‘kan?”
“Iya.”
Agus turun dari bangku. Punggung tangannya menyapu serbuk kayu yang menempel di lengan.
Dinda memandangi rak kecil itu. “Tadi tinggal sedikit lagi, ‘kan, pak?”
“Iya.”
“Kok malah berhenti?”
Agus mengambil lap lusuh yang tergantung di sandaran kursi.
“Kalau dipaksa," ia mengelap telapak tangannya, “pakunya bisa bengkok.”
“Padahal tinggal sekali pukul aja.”
Agus mengangguk kecil. “Iya, tapi papannya masih goyang.”
Ia melipat kembali lap itu. “Kalau ada yang nahan,” Agus menepuk pelan sisi rak yang baru terpasang, “jadinya lebih pas.”
Sesudah itu Agus membuka kotak paku. Sisa-sisa paku dikembalikan ke dalamnya. Kotak itu lalu diletakkan di rak yang baru saja selesai dipasang.
Rak kecil itu tampak biasa saja. Besok mungkin akan dipenuhi kaleng cat, obeng, atau baut-baut cadangan. Tak banyak orang akan memperhatikan paku terakhir di sudutnya. Namun, Dinda masih sempat memandanginya beberapa saat.
Kepalanya rata dengan kayu.
Tak menonjol.
Tak pula bengkok.
Seolah sejak awal memang berada di sana.
Dinda tersenyum kecil.
Mungkin yang dibutuhkan agar sesuatu benar-benar selesai bukanlah satu pukulan lagi, melainkan seseorang yang bersedia menahan sebentar agar semuanya tidak bergeser.
***
Rumah terasa lengang menjelang siang. Yanti pergi ke pasar membawa tas belanja kain yang warna pegangannya mulai memudar. Agus mengantar radio milik pelanggan yang akhirnya selesai diperbaiki setelah beberapa hari memenuhi meja kerjanya.
Siska berada di kamar mandi. Suara air mengalir pelan dari balik pintu.
Dinda duduk di ruang tengah. Ponselnya terbuka pada halaman lowongan kerja. Jemarinya menggulir layar perlahan.
Posisi.
Persyaratan.
Pengalaman minimal.
Sesekali ia berhenti. Dan, menggulir lagi.
Sudah beberapa bulan terakhir kegiatan itu menjadi semacam kebiasaan. Tak selalu karena berharap menemukan pekerjaan. Kadang hanya agar ia tetap merasa sedang bergerak.
Pagar depan berderit. Rizki masuk dengan langkah tergesa.
“Ketinggalan map.”
Dinda mengangkat kepala. “Lho, kirain emang sengaja dititip di sini dulu.”
“Enggak. Tadi baru nyadar.”
Rizki sudah lebih dulu menuju kamarnya. Tak lama kemudian ia kembali dengan map cokelat terselip di bawah lengan.
“Bapak ke mana, Din?”
“Biasalah, nganterin barang pelanggan.”
“Oh. Kalau ibu?”
“Ke pasar. Nyari panci sama ulekan baru. Pasti lama, deh.”
Rizki mengangguk.
“Kang Rizki, mau langsung berangkat lagi?”
“Iya.”
“Ya udah, hati-hati.”
“Iya.”
Pintu kembali tertutup. Suara motornya menjauh sedikit demi sedikit.
Rumah kembali sunyi.
Dinda bangkit hendak mengambil minum. Baru dua langkah, matanya menangkap sesuatu di dekat kaki meja.
Sebuah amplop cokelat.
Barangkali terjatuh saat Rizki mengambil map tadi.
Lantas ia membungkuk. Saat amplop itu terangkat, bagian perekatnya yang belum rapat sedikit terbuka.
Selembar dokumen di dalamnya bergeser. Tanpa sengaja matanya menangkap beberapa baris paling atas.
SURAT PELUNASAN KENDARAAN
Di bawahnya tertera nomor polisi yang terasa begitu akrab.
Lalu satu kalimat pendek.
Kendaraan telah dialihkan kepemilikannya.
Hanya itu yang sempat terbaca.
Dinda segera merapatkan kembali bibir amplop itu dengan jemarinya. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak langsung bisa ia beri nama.
“Jadi mobilnya emang udah dijual.”
Bukan dipinjam.
Bukan masih di bengkel.
Dinda mengembuskan napas pelan. Selama ini yang ia tahu hanyalah Rizki selalu menjawab seperlunya.
“Lagi nggak dibawa.”