JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #21

Retak yang Sama

Bingkai foto itu sudah terlalu lama menggantung di ruang tengah hingga tak seorang pun benar-benar memperhatikannya lagi.

Setiap hari mereka melewatinya.

Setiap hari pula foto itu diam menyaksikan rumah yang terus berubah.

Pagi itu Agus menurunkannya dari dinding. Ia meniup pelan debu yang menempel di sudut kaca, lalu membaliknya di atas meja kerja.

Dinda yang baru keluar kamar, lantas berhenti di ambang gudang.

“Udah bersih-bersih aja, nih”

Agus menggeleng kecil. “Bukan bersih-bersih.” Ia mengetuk pelan bagian belakang bingkai. “Ini bunyi, Din.”

Dinda mendekat. Baru setelah bingkai itu dibalik, retakan tipis pada papan belakang terlihat memanjang mengikuti serat kayu.

Dari depan, tak ada yang berubah.

Foto itu masih sama.

Bapak berdiri di tengah. Ibu tersenyum ke arah kamera. Rizki dan Siska masih tampak jauh lebih muda. Dinda kecil berdiri paling depan, tubuhnya sedikit condong ke samping, seolah sesaat sebelum foto diambil ia baru saja bergerak.

“Bingkainya retak?” tanya Dinda.

“Belakangnya.” Jawaban Agus pelan, nyaris seperti gumaman.

Lantas ia membuka laci meja. Mengambil sebotol lem kayu yang permukaannya sudah dipenuhi bercak-bercak putih yang mengering. Tutupnya diputar perlahan. Aroma kayu dan lem segera memenuhi ruangan.

Agus mengoleskan lem tipis mengikuti garis retakan.

Pelan.

Tak ada yang berlebihan. Seolah-olah kayu itu sudah tahu sendiri ke mana harus kembali.

Dinda memperhatikan tanpa berkedip.

“Pak?”

“Hmm?”

“Nggak dipaku aja?”

Agus menggeleng. Ia mengambil dua penjepit kayu kecil, lalu merapatkan kedua sisi retakan dengan telapak tangannya.

“Kalau begini cukup.”

Penjepit dipasang satu per satu. Retakan itu menghilang di balik tekanan kecil yang menahannya tetap rapat.

Dinda masih memandanginya. “Nggak takut lepas lagi?”

Agus tersenyum tipis. “Retaknya searah, Din.”

Dinda belum benar-benar paham.

Agus ikut melihat garis kayu yang membentang di papan belakang.

“Din, ini kalau dipaksakan,” ia berhenti sebentar, “seratnya malah kebuka.”

Sesudah itu Agus tak mengatakan apa-apa lagi.

Bingkai foto diletakkan di sudut meja.

Dijepit.

Didiamkan.

Tak disentuh lagi.

Di bawah cahaya pagi yang masuk dari jendela gudang, foto keluarga itu tampak persis seperti kemarin. Tak seorang pun akan tahu bahwa di bagian belakangnya pernah ada sesuatu yang nyaris terbelah.

 

***

 

Uap tipis mengepul dari panci di dapur, lalu menyebar bersama aroma bawang putih yang baru ditumis.

Di ruang belakang, radio tua kembali menemukan siarannya setelah beberapa kali berdesis pelan.

Tak ada yang berubah dari bunyi-bunyi rumah itu.

Agus sudah membuka koran di ujung meja. Yanti bolak-balik membawa piring. Siska menuangkan teh hangat ke gelas satu per satu.

Dinda datang terakhir. Ia menarik kursinya pelan, nyaris tanpa suara.

“Selamat pagi.”

Agus mendongak sebentar. “Tumben nyapa.”

“Ya bolehlah sekali-kali.”

Yanti menoleh dari arah dapur. “Nasinya masih hangat, Din.”

“Iya, bu.”

Tak lama kemudian, meja makan kembali dipenuhi bunyi yang lebih akrab daripada percakapan.

Sendok menyentuh piring.

Koran dibalik.

Gelas diletakkan pelan di atas meja.

Yanti melirik ke luar jendela. “Kayaknya mendung dari tadi.”

Tak ada yang langsung menjawab.

“Iya,” sahut Siska pelan.

Lalu hening kembali mengambil tempatnya. Bukan hening yang canggung. Hanya belum ada yang tahu harus memulai dari mana.

Ketika Dinda meraih sambal, ujung sikunya tak sengaja menyenggol sendok kecil di tepi mangkuk.

Sendok itu memantul sekali di lantai.

Dinda buru-buru membungkuk. “Eh, maaf.”

“Nggak kena tangan?” tanya Yanti.

Dinda menggeleng sambil mengambil sendok itu. “Nggak, bu.”

“Ya sudah.”

Yanti mengambil sendok lain dari rak, lalu meletakkannya di samping mangkuk sambal, tanpa berkata apa-apa lagi.

Sarapan berlanjut.

Tak ada percakapan panjang. Namun, tak ada pula diam yang terasa harus dipertahankan. Masing-masing mulai belajar bahwa rumah tidak selalu perlu dipenuhi kata-kata agar tetap terasa utuh.

 

***

 

Jaket tipis berwarna krem telah dikenakan Dinda ketika ia berdiri di depan pintu. Helm tergantung di lengannya. Tas ransel sudah tersampir di bahu. Jaket hijau GOON masih terlipat rapi di dalam bagasi motor.

Ia baru akan memakainya setelah cukup jauh dari rumah. Seperti hari-hari sebelumnya.

“Din?”

Dinda menoleh.

Yanti berdiri di dekat rak sepatu. Di atasnya telah tergeletak sebuah payung lipat hitam.

“Bawa. Siapa tahu di Jakarta udah hujan. Jadi nanti pas turun dari kereta bisa langsung jalan.”

Dinda tersenyum kecil. “Kayaknya nggak bakalan hujan, bu.”

“Namanya juga jaga-jaga.”

Yanti mendorong payung itu sedikit lebih dekat.

“Bawa aja.”

Dinda mengangguk. “Iya, bu.”

Ia memasukkan payung ke dalam bagasi, memastikan letaknya tidak menindih jaket hijau yang tersimpan di bawahnya. Sesaat tangannya menyentuh kain jaket itu.

Sudah berbulan-bulan benda itu hanya dikenakan setelah rumah tertinggal cukup jauh di belakang. Sudah berbulan-bulan pula ia melepasnya lagi sebelum memasuki gang.

Rahasia ternyata bisa sesederhana selembar kain.

“Berangkat dulu ya, bu.”

“Iya. Hati-hati.”

Motor perlahan keluar dari halaman. Yanti tetap berdiri di depan pintu. Ia menunggu sampai gerbang kembali tertutup rapat, baru berbalik masuk ke rumah.

Di dalam bagasi, payung dan jaket hijau berdampingan tanpa pernah saling mengenal.

Yang satu disiapkan seorang ibu agar anaknya tidak kebasahan jika hujan turun.

Yang satu lagi disembunyikan seorang anak agar ibunya tidak ikut basah oleh kekhawatiran.

 

***

 

Sinar matahari mulai turun dari dinding beton yang sejak pagi memantulkan panas. Di sudut proyek, beberapa pekerja menggulung kabel dan memindahkan perkakas ke gudang sementara. Suara mesin bor tinggal terdengar sesekali, lalu menghilang bersama angin yang membawa debu semen.

Lihat selengkapnya