JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #22

Kopi Pahit

Toples gula berbunyi lirih ketika Agus membalikkannya di atas sendok.

Ia menunggu sesaat.

Tak ada satu butir pun yang jatuh.

Toples itu digoyang pelan.

Masih kosong.

Agus menatapnya sebentar, lalu memasang kembali tutupnya tanpa tergesa.

Tak ada helaan napas. Tak ada gumaman. Toples itu dikembalikan ke rak, seolah memang sudah seharusnya berada dalam keadaan demikian.

Di atas kompor, air dalam ketel mulai mendidih. Ia menyendok bubuk kopi ke dalam gelas bening yang bagian bawahnya telah menguning karena terlalu sering disiram air panas.

Air dituangkan perlahan. Aroma kopi segera memenuhi dapur. Sendok berputar beberapa kali, membentur dinding gelas dengan bunyi pelan.

Lalu berhenti.

Agus mengangkat gelas itu menuju teras. Udara pagi masih menyimpan sisa dingin semalam. Ia duduk di kursi kayu yang menghadap halaman.

Baru saja gelas itu menyentuh meja kecil di samping kursi, Dinda muncul membawa sapu lidi. Beberapa daun mangga masih berserakan di bawah pot.

“Bapak udah bikin kopi duluan?”

Agus mengangguk. “Udah.”

“Nggak ngajak-ngajak.”

Dinda menyapu beberapa kali, lalu tanpa sengaja melirik warna kopi di dalam gelas. Lebih hitam dari biasanya. Ia mengernyit.

“Gulanya habis ya, pak?”

“Iya.”

“Kok, nggak bilang?”

“Nanti juga beli.”

Dinda meletakkan sapunya di pagar. “Bentar.”

Ia baru melangkah setengah langkah menuju dapur ketika suara Agus menghentikannya.

“Nggak usah, Din.”

Dinda menoleh. “Beneran nggak usah? Bapak, ‘kan, nggak biasa minum kopi tanpa gula.”

Agus mengangkat gelasnya. Masih mengepul. Ia menyeruput sedikit. Wajahnya nyaris tak berubah.

“Pahit, ‘kan?”

“Iya.”

“Terus masih diminum?”

Agus tersenyum kecil. “Sayang kalau dibuang.”

Jawabannya sederhana. Setelah itu ia kembali menyeruput kopinya.

Dinda tidak lagi menawarkan gula. Ia hanya berdiri di samping kursi sambil memandang halaman yang mulai dipenuhi cahaya matahari.

Dari dalam rumah terdengar suara ibu.

“Pak! Dinda! Sarapannya, nih.”

“Iya, bu,” sahut Dinda.

Agus berdiri sambil membawa gelas yang belum habis.

Ketika mereka melangkah masuk ke rumah, uap tipis masih mengepul dari bibir gelas.

Kopinya tetap pahit.

Namun, bapak tak merasa perlu untuk mengubahnya.

 

***

 

Seprai putih mengembung sesaat ketika angin melintas di halaman belakang. Dinda cepat menangkap salah satu ujungnya sebelum kembali menyentuh tanah.

Yanti memasang jepitan satu per satu. Gerakannya tenang. Nyaris tanpa berpikir. Ada pekerjaan yang sudah terlalu lama diulang hingga tubuh menghafalnya lebih baik daripada ingatan.

Beberapa saat mereka bekerja tanpa bicara. Yang terdengar hanya bunyi bambu jemuran bergesekan dan kain yang sesekali berkibar diterpa angin.

Dari teras depan, samar-samar terdengar bunyi sendok membentur gelas.

Yanti menoleh.

Agus masih duduk dengan kopi hitam di tangannya.

Senyum kecil muncul di sudut bibir Yanti. “Lucu juga.”

Dinda ikut menoleh. “Lucu apanya?”

“Dulu bapakmu itu paling nggak bisa minum kopi tanpa gula.”

“Sampai sekarang juga masih, ‘kan.”

“Iya.” Yanti terkekeh pelan. “Gulanya kurang setengah sendok aja, langsung protes.”

Dinda ikut tertawa. “Bapak?”

“Iya.”

“Yang sekarang?”

“Yang itu juga.”

Mereka sama-sama melihat ke arah teras.

Agus menyeruput kopinya pelan, seolah rasa pahit tak lagi penting.

Dinda menggeleng kecil. “Kok, bisa berubah gitu, ya?”

Yanti merapikan ujung lengan kemeja Agus sebelum menjepitnya.

“Ibu juga nggak tahu. Mungkin bukan kopinya yang berubah.”

Kalimat itu selesai di situ.

Beberapa helai pakaian berpindah ke jemuran. Matahari mulai menghangatkan kain-kain yang masih basah.

Tanpa melihat ke arah Dinda, Yanti berkata pelan, “Waktu Kang Rizki masih kecil, kakakmu itu pernah sakit lama sekali.”

Dinda mengangguk. “Yang waktu itu cerita, katanya dirawat di rumah sakit itu?”

“Iya. Hampir dua minggu. Demamnya turun, besoknya naik lagi. Keluar rumah sakit. Eh, masuk lagi.”

Jepitan di tangan Yanti berhenti sesaat.

“Tabungan habis.”

Dinda diam.

“Motor hampir dijual.”

Dinda mengira cerita berhenti di sana. Ternyata belum.

“Rumah ini juga.”

Dinda menoleh. “Rumah?”

Yanti mengangguk pelan. “Bapakmu sempat nyari orang yang mau beli.”

Halaman belakang mendadak terasa lebih sunyi.

Pohon mangga yang berdiri sejak Dinda kecil. Gudang yang catnya mulai mengelupas. Tembok yang penuh bekas bola. Sulit membayangkan semuanya pernah hampir berpindah tangan.

“Aku nggak pernah tahu tentang cerita itu.”

“Ya memang nggak. Kalian masih kecil. Dan ini pertama kalinya ibu cerita.”

“Ke aku?”

“Iya.”

Yanti membuka sepasang kaus kaki yang saling bertumpuk, lalu menjepitnya agar cepat kering.

“Bapakmu cuma bilang, yang penting anak-anak jangan sampai nggak sekolah.”

Tak ada kebanggaan dalam suaranya. Kalimat itu keluar seperti seseorang yang sedang menyebut cuaca bertahun-tahun lalu.

“Terus rumahnya nggak jadi dijual?”

Yanti menggeleng. “Ibu pinjam uang.”

“Sama siapa?”

“Kakaknya ibu.”

Lihat selengkapnya