JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #23

Tas Ransel Hitam

Benang hitam selalu menjadi yang paling sulit ditemukan ketika benar-benar dibutuhkan.

Dinda menggeser isi kotak jahit milik Yanti satu per satu. Gulungan benang berwarna-warni bergulir di atas lantai. Bantalan jarum berbentuk tomat ikut terguling, menyisakan beberapa jarum yang berkilau tipis diterpa cahaya pagi.

“Nemu, Din?” tanya Yanti dari halaman.

“Bentar, bu.”

Beberapa detik kemudian Dinda mengangkat sebuah gulungan kecil.

“Nah! Ketemu, bu.”

Tas ransel hitam itu sudah menunggunya di teras. Sudut-sudut kainnya mulai memucat karena terlalu sering bergesekan dengan jok motor. Kepala resleting tak lagi mengilap. Di bagian bawah, dekat jahitan yang menahan beban paling berat, terbuka sobekan kecil sepanjang dua ruas jari.

Tidak besar. Namun, cukup untuk membuat lapisan dalamnya mengintip keluar.

Dinda memasukkan benang ke mata jarum.

Sekali.

Luput.

Dua kali.

Masih meleset.

Ia mengembuskan napas pelan, merapikan ujung benang yang mulai terurai, lalu mencobanya lagi.

Kali ini berhasil.

Jarum menembus kain. Keluar. Masuk lagi.

Beberapa tusukan pertama berjalan lancer, lalu benangnya tiba-tiba melilit sendiri.

Dinda berhenti. Dengan sabar ia mengurai simpul kecil itu memakai ujung kuku. Tak lama kemudian Agus melintas membawa kotak perkakas.

Agus sempat memperlambat langkah. “Lagi apa, Din?”

“Jahit tas.”

Agus menoleh ke arah sobekan di dasar tas. “Robek?”

“Dikit.”

Agus mengangguk. Tidak langsung berkata apa-apa. Tatapannya mengikuti gerakan jarum yang naik turun di tangan Dinda. Beberapa saat kemudian beliau menunjuk pelan.

“Itu, Din.”

Dinda ikut melihat.

“Bekas jahitan lamanya masih kelihatan.”

Dinda mengamati lebih saksama.

Benar.

Lubang-lubang kecil itu masih tersusun rapi membentuk jalur yang nyaris tak terlihat.

“Yah, aku malah bikin jalur baru.”

Agus tersenyum tipis, “Harusnya kalau masih ada jalan yang lama, nggak usah bikin yang baru.”

Hanya itu.

Agus kembali mengangkat kotak perkakasnya.

“Pak?”

Agus menoleh.

“Menurut bapak, dijahit ulang bakal kuat lagi?”

Agus melihat tas itu sebentar.

“Asal nggak buru-buru.”

Lalu ia berjalan menuju gudang. Langkahnya pelan, seperti biasa.

Dinda memandangi jahitan yang telanjur dibuatnya. Pelan-pelan ia membuka beberapa tusukan tadi. Benangnya ditarik keluar tanpa diputus.

Sesudah itu ia mulai lagi dari awal. Kali ini jarumnya mengikuti bekas lubang yang sudah ada.

Lebih mudah.

Lebih lurus.

Kain itu seolah telah mengingat sendiri ke mana benang harus kembali.

Di halaman, sapu lidi Yanti masih bergesekan dengan semen. Radio tua mengalunkan lagu lama yang sesekali tenggelam oleh desir.

Dinda melanjutkan jahitannya sampai sobekan itu kembali rapat. Ia mengusap permukaan tas dengan telapak tangan, kemudian meletakkannya di samping kursi.

Tidak tampak baru.

Namun, belum selesai dipakai.

 

***

 

Tas ransel hitam itu kembali bertengger di punggung Dinda. Sebelum resletingnya ditutup, ia memeriksa isinya seperti kebiasaan yang sudah dilakukan tanpa perlu dipikirkan lagi.

Laptop.

Botol minum.

Jas hujan yang dilipat serapat mungkin.

Power bank.

Helm cadangan.

Di bagian paling belakang, map plastik berisi salinan ijazah, daftar riwayat hidup, dan beberapa lembar sertifikat yang sudutnya mulai melengkung karena terlalu sering keluar-masuk tas.

Dinda menekan isi tas dengan kedua telapak tangan sebelum menarik resleting hingga rapat.

Tak semua barang itu dipakai setiap hari, tetapi tak satu pun pernah ia tinggalkan.

Menjelang siang, sebuah order internal membawanya ke kantor GOON.

Begitu memasuki lobi, Maria sudah berdiri di dekat meja resepsionis sambil memegang beberapa contoh material.

“Nah, kamu!”

Dinda melepas helm. “Kenapa?”

“Charger-ku ketinggalan, Din.”

“Udah habis banget?”

“Banget. Satu persen.”

Dinda terkekeh. “Wah, udah kritis.”

Maria mengangguk sambil mengangkat layar tabletnya. “Ini bentar lagi pamit.”

Dinda segera membuka tasnya. Tangannya menyelusup ke bagian depan.

Keluar membawa jas hujan.

Lalu botol minum.

Map plastik.

Kotak obat kecil.

Sebungkus biskuit yang salah satu sudutnya sudah penyok.

“Kok, ada biskuit?” tanya Maria sambil tertawa.

“Jaga-jaga aja.”

“Takut lapar tiba-tiba?”

“Atau nunggu orderan lama.”

Maria mengangguk-angguk. “Masuk akal.”

Dinda kembali mengaduk isi tas. Sebuah kabel data yang kusut ikut tertarik keluar.

“Bentar. Harusnya di sini.”

Maria memperhatikan barang-barang yang mulai memenuhi meja resepsionis.

“Din?”

“Hmm?”

“Tas kamu nggak pernah kosong, ya?”

Dinda tersenyum tanpa mengangkat kepala. “Kayaknya nggak, deh.”

“Isinya kayak warung.”

Dinda tertawa. “Warung kecil.”

“Apa aja ada.”

Beberapa detik kemudian Dinda mengangkat kepala. “Ini dia! Ketemu!”

Maria menerima charger itu sambil mengembuskan napas lega. “Terselamatkan.”

Dinda mulai memasukkan semua barangnya satu per satu. Anehya, tak satu pun tampak ia cari-cari. Semua kembali ke tempatnya masing-masing, seolah tangannya telah hafal lebih dulu daripada ingatannya.

Maria memperhatikan sebentar.

“Kamu tahu persis naruhnya di mana.”

Dinda mengangkat bahu. “Kalau nggak hafal, aku sendiri nanti yang bingung.”

Maria tersenyum kecil. “Kayaknya kamu mirip bapakmu.”

Dinda berhenti memasukkan map plastik. “Hah?”

Lihat selengkapnya