JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #24

Bengkel Kecil

Gudang belakang tak pernah benar-benar kosong. Selalu ada sesuatu yang menunggu giliran disentuh kembali.

Kipas angin yang putarannya melemah.

Radio tua yang hanya menyisakan desir.

Setrika dengan kabel yang retak di pangkal.

Rice cooker yang lampunya tak lagi menyala.

Di ruangan sempit itulah waktu seolah bergerak dengan bunyi yang berbeda. Obeng beradu pelan dengan baut. Amplas menggesek permukaan kayu. Sesekali terdengar bunyi klik yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat sebuah barang kembali bekerja.

Agus duduk di depan meja kerja. Kipas angin berdiri tanpa kepala. Jeruji pelindung dan baling-balingnya telah disusun rapi di atas koran bekas.

Ia mengulurkan tangan ke sisi meja.

“Obeng plus.”

Belum sempat matanya mencari, Dinda sudah lebih dulu menyodorkannya.

“Nih, pak.”

“Ya.”

Obeng itu langsung berpindah tangan. Tak ada ucapan lain.

Gerakan mereka mengalir begitu saja, seperti kebiasaan yang sudah lama saling mengenal.

Beberapa minggu terakhir Dinda memang semakin sering menghabiskan sore di gudang. Mula-mula hanya duduk memperhatikan. Lalu diminta memegang senter. Mengambil tang. Menata baut yang dilepas agar tak mudah hilang.

Tanpa benar-benar disadari, ia mulai hafal letak hampir semua perkakas di ruangan itu.

Tang selalu tergantung di sisi kanan.

Kunci pas disusun menurut ukuran.

Obeng minus tak pernah bercampur dengan obeng plus.

“Lapnya.”

Dinda langsung meraih kain lusuh yang tergantung di paku.

Agus menerimanya tanpa menoleh.

Tak lama kemudian ia menggeser badan kipas ke arah Dinda.

“Coba buka yang sana.”

Dinda mengangkat wajah. “Huh? Yang ini?”

“Iya.”

Dinda memasukkan ujung obeng ke kepala baut. Tangannya berhenti sesaat.

“Kalau keras?”

“Rasain dulu. Jangan dilawan.”

“Kalau seret?”

“Balik dikit. Baru putar lagi.”

Dinda mengangguk pelan. Obeng diputar perlahan.

Sekali.

Belum bergerak.

Ia mengingat ucapan bapak. Diputarnya sedikit ke arah sebaliknya, lalu kembali memutar.

Kali ini baut itu mulai mengalah.

“Pak?”

“Hm?"

“Keluar, nih.”

“Ya.”

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pujian. Agus hanya menunjuk kaleng bekas biskuit di sudut meja.

“Taruh situ, Din.”

Dinda tersenyum kecil. Baut mungil itu dijatuhkannya ke dalam kaleng.

Ting.

Bunyinya ringan. Namun, entah mengapa terdengar menyenangkan.

Agus membuka rumah dinamo. Debu halus menempel di sela-selanya.

“Tolong sikat kecil.”

Dinda sudah lebih dulu mengambilnya.

Agus menerimanya sambil melirik sekilas. “Hafal juga.”

Dinda terkekeh. “Sedikit.”

“Sedikit?”

“Ya lumayanlah.”

Agus mengangguk pelan. “Lumayan.”

Ia menggeser kipas itu sedikit ke samping. Memberi ruang agar tangan Dinda lebih leluasa menjangkau bagian dalam.

“Debunya dibersihin, pak?”

“Iya.”

Dinda mulai menyapu debu dengan kuas kecil. Gerakannya masih hati-hati. Sesekali ia berhenti karena takut menyentuh kabel yang salah.

Agus tak mengambil alih. Ia hanya berkata, “Pelan-pelan aja. Nanti juga hafal.”

Dinda mengangguk. Tangannya kembali bergerak.

Gudang itu kembali dipenuhi bunyi-bunyi kecil yang sejak dulu selalu akrab dengan rumah mereka.

Obeng.

Kuas.

Kaleng baut.

Tak ada percakapan panjang.

Namun, sore itu, untuk pertama kalinya, di atas meja kerja yang sama, ada dua pasang tangan yang sama-sama sedang memperbaiki sesuatu.

Dan Agus tidak lagi memindahkan pekerjaan yang dikerjakan Dinda ke tangannya sendiri. Ia membiarkannya menyelesaikan bagian itu sampai selesai.

 

***

 

Baut terakhir hampir terlepas ketika sebuah getaran pendek terdengar dari dalam tas ransel yang tergantung di sandaran kursi.

Sekali.

Lalu hening kembali.

Dinda meletakkan obeng. Telapak tangannya diusap pada lap yang mulai dipenuhi noda oli sebelum meraih ponsel dari saku depan tas.

Satu surel baru.

Nama perusahaannya membuat jemarinya berhenti sesaat.

Ia mengenali logo itu. Dua minggu lalu ia masih mengikuti wawancara tahap akhir.

Seseorang bahkan sempat berkata, “Nanti kami kabari secepatnya.”

Dinda menarik napas pendek. Baru kemudian membuka surel itu. Kalimat pertama langsung menyambutnya.

 

“Terima kasih atas waktu dan ketertarikan Anda…”

 

Ia tidak meneruskan membaca. Ibu jarinya sudah lebih dulu menyentuh tombol kembali.

Layar padam.

Ponsel itu tetap berada di tangannya beberapa detik. Seolah ada sesuatu yang belum selesai, padahal semuanya justru telah selesai.

“Din.”

Suara Agus membuatnya mengangkat kepala. “Iya, pak?”

“Baut yang tadi, udah lepas?”

Dinda mengangguk. “Udah.”

Agus mengulurkan tangan. “Boleh.”

Dinda meletakkan baut itu di telapak tangan bapaknya.

Agus memutarnya pelan. Alisnya sedikit bertaut. “Ulirnya mulai aus, nih.”

Lantas ia mengambil sikat kawat kecil. Membersihkan sela-sela ulir dengan gerakan ringan. Tak lama kemudian sebotol pelumas diraih dari rak. Setetes cairan bening jatuh di permukaan baut.

“Kalau begini,” Agus memutar baut itu perlahan di antara ibu jari dan telunjuk, “jangan buru-buru dipasang lagi.”

Dinda memperhatikan.

“Nunggu, pak?”

“Iya. Kasih jalan dulu.” Agus meletakkan baut itu di atas kain lap. “Kalau langsung dipaksa, ulirnya bisa habis.”

Dinda mengangguk pelan. “Oh, gitu.”

Tak ada lagi percakapan.

Dinda memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Di balik layar yang telah padam, satu lagi surat penolakan bergabung dengan puluhan surel lain yang bahkan tak lagi sempat ia hapus.

Agus membuka rumah dinamo. “Kuas kecil, Din.”

Dinda langsung mengambilnya.

Agus menerimanya, lalu mengembalikannya lagi. “Kamu aja.”

Dinda menatap bapaknya sejenak. “Aku?”

“Iya. Bersihin lilitannya. Pelan aja. Jangan kena kabelnya.”

“Ya udah, deh. Dinda coba.”

Dinda mulai menggerakkan kuas kecil di sela-sela lilitan tembaga. Debu tipis terangkat sedikit demi sedikit.

Sesekali Agus hanya menggeser badan kipas agar tangannya lebih leluasa.

Tak mengambil alih.

Tak membetulkan gerakannya.

Lihat selengkapnya